Kisah Pasien Kanker di Gaza Menjemput Kesembuhan Bersama BAZNAS RI dan KHCC

Dokumentasi BAZNAS RI

Kisah Pasien Kanker di Gaza Menjemput Kesembuhan Bersama BAZNAS RI dan KHCC

31/03/2026 | Humas BAZNAS RI

Bagi Hussam Al-Dissi, bertahan hidup adalah perjuangan di dua kondisi sekaligus, yaitu menghindari ledakan bom di Gaza dan menaklukkan kanker limfoma stadium 4 yang menggerogoti tubuhnya. Saat ini, ia bersandar pada harapan yang tersisa di King Hussein Cancer Center (KHCC), Yordania, melalui program bantuan medis hasil kolaborasi Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) RI dan Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Hussam teringat ketika menjalani pengobatan pada 2022, saat dosis kemoterapi pertamanya masuk ke pembuluh darah. Kala itu, bukan hanya rasa mual yang menyerang, tapi juga getaran hebat dari ledakan bom yang jatuh tepat di samping Rumah Sakit Al-Shifa tempatnya menjalani pengobatan.

"Aku melihat api masuk ke dalam ruangan tempatku berbaring bersama saudaraku," kenang Hussam dengan suara bergetar.

"Bayangkan menjadi pasien kanker yang sedang dikemo di tengah hujan bom. Di Gaza, jika beruntung, kau hanya dapat obat pereda nyeri. Seringnya? Tidak ada apa-apa," tambahnya.

Bagi Hussam, sinergi BAZNAS, KHCC, dan donatur lainnya telah membawanya melewati masa kritis transplantasi sumsum tulang hingga serangan TBC paru yang hampir merenggut nyawanya. Kini, ia hanya tinggal menunggu hitungan hari. Jika hasil pemeriksaan citra medis terakhirnya bersih, ia akan menyandang status "penyintas" (survivor) secara resmi.

Kondisi sulit juga tergambar dari kisah Ummu Ahmad, seorang ibu berusia 50 tahun yang sempat terancam kehilangan fungsi motoriknya akibat kanker otak. Jika sebelumnya jemarinya kaku tak berdaya, kini harapan untuk sembuh total terbuka lebar berkat terapi biologi mutakhir yang ia jalani di Yordania.

Baginya, dukungan dari program kolaborasi kemanusiaan ini bukan sekadar bantuan medis, melainkan sebuah "mukjizat Allah" yang memberikan kesempatan kedua untuk menyambung hidup.

"Di Gaza, dokter bilang risikonya buta atau lumpuh jika dioperasi. Suami saya tidak sanggup membayangkannya," tutur Ummu Ahmad. Kemudian keajaiban itu datang lewat bantuan dana yang memungkinkan ia menjalani terapi biologi canggih, teknologi yang bahkan tidak pernah terbayangkan ada di Gaza yang terisolasi.

"Di Gaza, mencari obat pereda rasa sakit saja sulit. Di sini, saya mendapatkan pengobatan mahal yang menyelamatkan nyawa saya," ujarnya.

Meski raga membaik, ada kondisi pedih yang tetap menyayat. Ummu Ahmad sudah empat tahun tidak melihat wajah anak-anaknya. Ia kini berdiri di persimpangan, antara keharusan mengonsumsi obat biologi seumur hidup di Amman dan keinginan untuk pulang ke dekapan keluarga di Gaza yang masih membara.

Program bantuan ini bukan sekadar urusan administrasi medis. Ini adalah bantuan kemanusiaan yang dikumpulkan dari zakat, infak, dan sedekah masyarakat Indonesia. Saat ini, bagi Hussam dan Ummu Ahmad, setiap senja yang mereka lalui di Yordania kini bukan lagi tanda berakhirnya hari, melainkan syukur atas satu hari lagi kemenangan melawan rasa sakit, demi bisa memeluk kembali keluarga di tanah yang mereka cintai.

Dapatkan Update Berita dan Informasi Penyaluran Zakat, Infak, dan Sedekah.

Follow us

Copyright © 2026 BAZNAS

Kebijakan Privasi   |   Syarat & Ketentuan   |   FAQ