BAZNAS Siap Cetak Ulama Muda Indonesia, Perkuat Dakwah Islam di Dunia

Dokumentasi BAZNAS RI

BAZNAS Siap Cetak Ulama Muda Indonesia, Perkuat Dakwah Islam di Dunia

12/11/2025 | Humas BAZNAS RI

Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) RI terus memperkuat komitmennya dalam mencetak dai atau ulama muda Indonesia yang berwawasan global melalui Program Beasiswa Cendekia BAZNAS (BCB) Timur Tengah.

Hal tersebut mengemuka dalam Pengajian Selasa Pagi bertema “Sukses Program Beasiswa Cendekia BAZNAS Timur Tengah” yang diselenggarakan oleh Pusdiklat BAZNAS RI dan disiarkan langsung melalui kanal YouTube BAZNAS TV, Selasa (11/11/2025). Hadir dalam kegiatan tersebut Pimpinan BAZNAS RI Bidang Transformasi Digital Nasional, Prof. Ir. Nadratuzzaman Hosen, MS., M.Ec., Ph.D., Koordinator Program BCB Timur Tengah, Muhammad Syukron Amin, serta Pimpinan dan amil BAZNAS Provinsi/Kabupaten/Kota seluruh Indonesia yang hadir secara daring.

Nadratuzzaman Hosen mengatakan, program BCB Timur Tengah penting karena membuka jalan bagi calon dai atau ulama untuk belajar agama sekaligus memperluas wawasan internasional. “Kita butuh dai atau ulama yang tidak hanya pandai ilmu agama, tapi juga bisa berbahasa Arab dan Inggris. Dua bahasa ini kunci untuk membawa pesan Islam ke dunia,” ujarnya.

Menurut Nadratuzzaman, salah satu tantangan sebagian dai atau ulama di Indonesia adalah keterbatasan dalam penguasaan bahasa asing, yang membuat dakwah ke luar negeri belum optimal. “Banyak dai atau ulama kita sering kali takut salah berbicara dalam bahasa Arab atau Inggris, padahal bahasa Arab dan Inggris sudah menjadi bahasa dunia,” katanya.

Dia menambahkan, para alumni BCB Timur Tengah umumnya sudah fasih berbahasa Arab dan banyak di antara mereka juga pandai berbahasa Inggris karena sering berinteraksi dengan berbagai negara selama studi. "Bisa dilihat betapa berpengaruhnya Beasiswa Cendekia BAZNAS Timur Tengah ini," ucap Nadratuzzaman.

Nadratuzzaman menilai, karakter masyarakat Indonesia yang dikenal santun dan ramah bisa jadi kekuatan dalam dakwah internasional. “Waktu saya ke Jepang, mereka bilang senang dengan orang Indonesia. Mereka berharap, kalau bisa, yang mengajarkan Islam di sana juga orang Indonesia, karena dinilai lebih halus dan menghormati. Pandangan serupa juga datang dari banyak negara lain,” ujar Nadratuzzaman.

"Karena itu, program Beasiswa Timur Tengah ini penting. Program BCB, khususnya ke Timur Tengah, perlu terus kita dorong, tingkatkan, dan perbanyak jumlahnya," tambahnya

Nadratuzzaman berharap, program BCB Timur Tengah bisa mencetak kembali ulama-ulama besar seperti masa lalu, yang dikenal luas hingga ke mancanegara. “Kita ingin para ulama Indonesia tidak hanya berpengaruh di dalam negeri, tapi juga mendunia,” tegasnya.

Nadratuzzaman menambahkan, ke depannya, setiap BAZNAS provinsi dan kabupaten/kota dapat berkolaborasi dengan BAZNAS RI untuk mengirimkan calon ulama dari berbagai daerah ke Timur Tengah.  "Dengan sinergi tersebut, insyaallah akan semakin banyak generasi muda Indonesia yang berkesempatan menimba ilmu di Timur Tengah dan menjadi ulama berwawasan global," kata Nadratuzzaman.

Sementara itu, Kepala Divisi Pendidikan dan Dakwah BAZNAS, Farid Septian, yang diwakili Koordinator Program BCB Timur Tengah, Muhammad Syukron Amin, menyebut program ini bukan sekadar beasiswa pendidikan.  

“Melalui BCB Timur Tengah, BAZNAS tidak hanya memberikan bantuan biaya pendidikan, tetapi juga melakukan pembinaan dan mentoring agar mahasiswa memiliki kapasitas yang kuat dan siap mengabdi kepada masyarakat. Program ini memungkinkan mereka belajar dengan tenang tanpa beban ekonomi,” ujarnya.

Syukron menjelaskan, hingga tahun 2025 program ini telah menjangkau delapan negara: Mesir, Libya, Maroko, Tunisia, Turki, Suriah, Yordania, dan Yaman. “Mesir jadi negara dengan jumlah mahasiswa Indonesia terbesar, sekitar 18 ribu orang, dan banyak di antaranya penerima beasiswa BAZNAS,” katanya.

Sejak diluncurkan, lanjut Syukron, program ini telah menyalurkan beasiswa kepada 949 mahasiswa Indonesia. “Setiap tahun penerima beasiswa terus BAZNAS perluas dan tingkatkan kuotanya penerimanya," ujarnya

Dalam pelaksanaannya, kata Syukron, proses seleksi peserta dilakukan secara transparan dan berkeadilan sesuai dengan prinsip 3A BAZNAS, yakni Aman Syariah, Aman Regulasi, dan Aman NKRI. Peserta juga mendapat pembinaan dan pendampingan agar mampu lulus tepat waktu serta berkontribusi kepada masyarakat.

Syukron menambahkan, program ini juga sejalan dengan Asta Cita dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) yang menekankan peningkatan kualitas pendidikan sebagai bagian dari visi Indonesia Emas 2045. “BAZNAS berkomitmen mendukung pendidikan tinggi yang inklusif dan berkelanjutan untuk menyiapkan generasi muda yang kompeten dan adaptif,” ujarnya.

Menurut dia, program tersebut tidak hanya mendukung mahasiswa Indonesia di Timur Tengah, tetapi juga menjadi bagian dari upaya BAZNAS dalam memperkuat iron stock zakat dan wakaf melalui peningkatan kapasitas SDM. “Melalui Program Beasiswa Cendekia Timur Tengah, kami berharap akan lahir ulama dan cendekiawan muda Indonesia yang mampu memperkuat dakwah Islam yang moderat, damai, dan berpengaruh di tingkat internasional,”ucapnya.

Dapatkan Update Berita dan Informasi Penyaluran Zakat, Infak, dan Sedekah.

Follow us

Copyright © 2025 BAZNAS

Kebijakan Privasi   |   Syarat & Ketentuan   |   FAQ