BAZNAS Ajak Mahasiswa Penerima Beasiswa Cendekia Jadi Pemimpin Adaptif dan Peduli Sosial

BAZNAS Ajak Mahasiswa Penerima Beasiswa Cendekia Jadi Pemimpin Adaptif dan Peduli Sosial (Dok. BAZNAS RI/Humas)

BAZNAS Ajak Mahasiswa Penerima Beasiswa Cendekia Jadi Pemimpin Adaptif dan Peduli Sosial

30/04/2026 | Humas BAZNAS RI

Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) mengajak mahasiswa penerima Beasiswa Cendekia BAZNAS (BCB) untuk menjadi pemimpin adaptif yang mampu menghadapi perubahan yang semakin kompleks.

Hal tersebut mengemuka dalam kegiatan pembinaan peserta Beasiswa Cendekia BAZNAS bersama ParagonCorp di Universitas Andalas, Sumatra Barat, Kamis (30/4/2026).

Dalam sambutannya, Pimpinan BAZNAS RI Bidang Distribusi dan Pemberdayaan H. Idy Muzayyad, S.H.I., M.Si., mengatakan Beasiswa Cendekia BAZNAS menjadi solusi dalam memperluas akses pendidikan tinggi yang inklusif, merata, dan berkeadilan bagi masyarakat kurang mampu, sekaligus dalam melahirkan pemimpin yang adaptif di masa depan.

Ia juga menyambut baik perluasan porsi zakat produktif, termasuk beasiswa pendidikan. "Kami menyambut baik saran tersebut, namun mohon juga dibantu dari sisi pengumpulan," ujarnya.

Sementara itu, Ketua BAZNAS Provinsi Sumatra Barat Dr. H. Buchari M., M.Ag. menegaskan, pemimpin adaptif tidak hanya berorientasi pada hasil dan karier, tetapi juga harus memperhatikan dampak sosial dari setiap keputusan yang diambil. “Pemimpin harus tetap berpegang pada nilai-nilai kemanusiaan dan sosial,” ujarnya.

Buchari menjelaskan, terdapat tiga nilai utama yang perlu dimiliki seorang pemimpin, yakni empati, solidaritas, dan keadilan sosial. Menurutnya, ketiga nilai tersebut menjadi fondasi penting dalam membangun kepemimpinan yang berorientasi pada kebermanfaatan.

Buchari mengatakan, nilai-nilai tersebut kerap dianggap sebagai hambatan dalam pengambilan keputusan. Namun, menurut dia, justru nilai tersebut menjadi kekuatan strategis dalam kepemimpinan modern. “Pemimpin yang peduli sosial biasanya lebih dipercaya,” katanya.

Sejalan dengan itu, Buchari menambahkan, pemimpin ideal adalah sosok yang mampu membangun karier tanpa kehilangan nurani, serta menjadikan nilai kemanusiaan sebagai fondasi keberhasilan.

Ia juga menekankan, pengalaman hidup, termasuk pernah menghadapi kesulitan, dapat membentuk karakter kepemimpinan yang kuat dan berempati.

“Orang terbaik adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. Apalagi jika kita adalah penerima beasiswa, terlebih yang pernah terdampak bencana. Ketika seseorang yang dulu pernah kesulitan kemudian mendapat bantuan, misalnya dari ParagonCorp melalui BAZNAS, lalu ia menjadi seorang leader, maka ia akan sangat memahami nilai-nilai sosial tersebut," jelasnya.

Menurut Buchari, pengalaman tersebut dapat mendorong seseorang untuk tetap menjaga kepedulian sosial ketika berada dalam posisi kepemimpinan. "Dengan demikian, pemimpin yang lahir dari proses tersebut diharapkan tidak hanya berhasil secara pribadi, tetapi juga memberi manfaat luas bagi masyarakat," ucapnya

Dapatkan Update Berita dan Informasi Penyaluran Zakat, Infak, dan Sedekah.

Follow us

Copyright © 2026 BAZNAS

Kebijakan Privasi   |   Syarat & Ketentuan   |   FAQ