Saat Camilan Libur, Ayam Jadi Andalan Zmart Masruroh
Saat Camilan Libur, Ayam Jadi Andalan Zmart Masruroh
03/03/2026 | Humas BAZNASDi sudut tenang Desa Karanggondang, Kecamatan Mlonggo, sebuah warung kecil tampak sederhana dari luar. Namun di balik etalase kaca dan rak-rak berisi sembako itu, ada ketekunan yang tak pernah libur—bahkan ketika Ramadan mengubah ritme kehidupan kampung.
Warung itu adalah Zmart milik Masruroh.
Ramadan tahun ini membawa cerita berbeda. Jika pada bulan-bulan biasa aroma sosis bakar dan gorengan hangat menjadi penanda sore hari—mengundang tawa anak-anak Sekolah Diniyah dan TPQ di sekitar rumahnya—kini suasana itu menghilang. Aktivitas sekolah keagamaan yang libur selama bulan puasa otomatis menghentikan denyut utama penjualan camilan.
“Karena anak-anak sekolah libur, pangsa pasar sosis dan gorengan pun ikut istirahat. Hal ini memang memicu sedikit penurunan omzet harian,” tutur Masruroh pelan, sembari merapikan plastik pembungkus di meja etalase.
Sebagai ibu tiga anak, ia paham betul bahwa Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga. Bagi pelaku usaha kecil seperti dirinya, bulan suci juga berarti ujian ketahanan usaha.
Namun Masruroh bukan tipe pedagang yang mudah menyerah pada keadaan.
Alih-alih meratapi sepinya pembeli cilik, ia justru membaca perubahan pola belanja warga. Ia mengamati satu per satu: jam kunjungan yang bergeser, daftar belanja yang berbeda, hingga percakapan ibu-ibu yang kini lebih sering membicarakan menu sahur dan buka puasa ketimbang jajanan anak.
Dari situlah ia menemukan celah.
Jika gorengan dan sosis “libur”, maka kebutuhan dapur harus jadi andalan.
Rak-rak camilan memang tampak lebih lengang. Namun meja dagangan bagian depan kini dipenuhi sayuran segar, tempe, ikan, dan yang paling mencolok—daging ayam. Ramadan menghadirkan tradisi memasak yang lebih istimewa di banyak rumah. Menu sahur dan buka puasa seringkali lebih variatif dan bergizi.
“Meskipun tidak banyak, untuk warung kecil di kampung bisa menjual daging ayam dua kilogram menurut saya sudah bagus. Biasanya diecer dengan berat seperempat kilo tiap bungkusnya,” ujarnya dengan senyum tipis, ada rasa syukur di sana.
Dua kilogram mungkin terdengar kecil bagi pasar besar. Tetapi bagi warung rumahan di sudut desa, angka itu berarti perputaran modal yang sehat. Artinya, ada kepercayaan warga yang terus terjaga.
Strategi Masruroh sederhana—namun tajam: mengikuti kebutuhan dapur warga.
Ia tidak memaksakan stok barang yang sedang lesu. Ia tidak mempertahankan produksi camilan hanya demi gengsi atau kebiasaan lama. Ia menyesuaikan diri. Jika sosis tidak berjalan, maka ayam dan tempe yang diperbanyak. Jika pembeli anak-anak berkurang, maka ibu-ibu rumah tangga yang dirangkul.
Pendekatannya bukan sekadar berdagang, melainkan membaca kehidupan sosial di sekitarnya.
Menjelang waktu berbuka, beberapa warga terlihat mampir. Ada yang membeli tempe dua papan, ada yang menanyakan harga cabai, ada pula yang mengambil satu bungkus ayam seperempat kilo untuk dimasak sederhana. Transaksi-transaksi kecil itu perlahan mengisi kembali laci kasirnya.
Berkat kejelian tersebut, omzet harian Masruroh tetap bertahan di kisaran Rp300 ribu. Tidak melonjak drastis, namun cukup stabil untuk ukuran usaha mikro di desa.
Di tengah persaingan minimarket modern dan perubahan perilaku konsumen, kemampuan beradaptasi menjadi kunci. Dan Masruroh membuktikan bahwa usaha kecil pun bisa lincah membaca peluang.
Baginya, Ramadan bukan sekadar masa penurunan dan kenaikan penjualan. Ramadan adalah momentum untuk lebih peka—terhadap kebutuhan, terhadap perubahan, dan terhadap peluang yang mungkin tersembunyi di balik tantangan.
“Yang penting warung tetap jalan, warga tetap bisa belanja dekat rumah, dan kebutuhan dapur mereka terpenuhi,” ucapnya mantap.
Di Desa Karanggondang, warung kecil itu mungkin tampak biasa. Namun di dalamnya tersimpan pelajaran besar tentang ketangguhan. Tentang bagaimana seorang perempuan desa tidak membiarkan satu pintu rezeki tertutup tanpa membuka pintu yang lain.
Gorengan dan sosis boleh saja libur sejenak.
Namun semangat Masruroh untuk menjaga denyut usahanya tetap meluncur—seperti ayam-ayam yang kini lebih cepat habis dari biasanya.
Dan Ramadan kembali membuktikan, bahwa berkah tak selalu datang dalam bentuk yang sama. Kadang ia hadir lewat kemampuan untuk beradaptasi, membaca keadaan, dan tetap berdiri tegak di tengah perubahan.
Dapatkan Update Berita dan Informasi Penyaluran Zakat, Infak, dan Sedekah.
Follow us