Panen Timun di Bulan Ramadan: Ketekunan Bapak Ojo Menguatkan Harapan dari Lahan Sederhana

Panen Timun di Bulan Ramadan: Ketekunan Bapak Ojo Menguatkan Harapan dari Lahan Sederhana

13/03/2026 | Humas BAZNAS RI

Pagi itu, embun masih menggantung di dedaunan ketika Bapak Ojo melangkah perlahan menuju lahan kecil miliknya di Dusun Hayawang, Desa Winduraja, Kecamatan Kawali, Kabupaten Ciamis. Di tengah suasana Ramadan yang tenang, tangan-tangannya yang terbiasa bekerja mulai memetik satu per satu timun yang menggantung segar di antara rimbunan daun hijau.

Bagi sebagian orang, timun mungkin hanya sayuran pelengkap di meja makan. Namun bagi Bapak Ojo, timun adalah simbol harapan—hasil dari ketekunan, kerja keras, dan keberanian untuk mencoba sesuatu yang baru.

Sebagai anggota Kelompok Peternak Mandiri Utama dalam program Zakat Community Development (ZCD) BAZNAS, Bapak Ojo selama ini dikenal sebagai peternak domba. Namun, ia menyadari bahwa mengandalkan satu sumber penghasilan saja tidak selalu cukup. Dari sanalah muncul gagasan untuk melakukan diversifikasi usaha dengan menanam timun di lahan yang tersedia.

Memanfaatkan Lahan Kecil dengan Harapan Besar

Lahan yang digunakan Bapak Ojo tidaklah luas, hanya sekitar 280 meter persegi. Namun dengan perencanaan yang baik, lahan sederhana itu berubah menjadi kebun timun yang produktif.

Ia menanam timun dengan pola jarak tanam sekitar 30 sentimeter per lubang dan 50 hingga 70 sentimeter antar parit. Setiap lubang diisi dua hingga tiga biji benih, sebuah cara yang menurutnya cukup efektif untuk memaksimalkan pertumbuhan tanaman.

Bapak Ojo merawat tanaman itu dengan penuh perhatian. Setiap hari ia memeriksa kondisi tanaman, memastikan batangnya kuat merambat dan buahnya tumbuh dengan baik. Baginya, merawat tanaman bukan sekadar pekerjaan, melainkan bagian dari ikhtiar untuk memperbaiki kehidupan keluarga.

“Kalau kita telaten, insyaAllah hasilnya juga ikut baik,” ujarnya dengan senyum sederhana.

Panen yang Dimulai dengan Harapan

Panen pertama dimulai pada 21 Februari 2026. Hari itu menjadi momen yang membahagiakan bagi Bapak Ojo. Meski hasilnya belum banyak, ia merasa optimistis.

Hari pertama, timun yang berhasil dipanen sekitar 5 kilogram.

Hari kedua meningkat menjadi 12 kilogram.

Hari ketiga mencapai 20 kilogram, dan pada hari keempat sudah menyentuh 28 kilogram.

Seiring waktu, hasil panen terus meningkat. Pada masa puncaknya, setiap hari Bapak Ojo dapat memanen sekitar 35 kilogram, kemudian 42 kilogram, bahkan sempat mencapai 48 kilogram dalam satu kali panen.

Melihat hasil yang terus bertambah, semangatnya pun semakin besar. Lahan yang sebelumnya tampak biasa saja kini berubah menjadi sumber rezeki yang nyata.

Hasil Panen yang Menghidupi

Hingga 12 Maret 2026, total timun yang berhasil dipanen mencapai sekitar 340 kilogram. Bapak Ojo memasarkan hasil panennya dengan dua cara.

Sebagian besar, sekitar 250 kilogram, dijual kepada bandar sayur dengan harga Rp5.000 per kilogram. Sementara sisanya, sekitar 90 kilogram, dijual langsung kepada warga sekitar dengan harga Rp8.000 per kilogram.

Cara ini membuat hasil panennya tidak hanya membantu pedagang, tetapi juga memberi manfaat bagi masyarakat di sekitar desa.

Dari seluruh hasil penjualan tersebut, Bapak Ojo berhasil memperoleh pendapatan sekitar Rp1.970.000.

Bagi sebagian orang, angka itu mungkin terlihat sederhana. Namun bagi Bapak Ojo, hasil tersebut sangat berarti. Pendapatan itu membantu memenuhi kebutuhan keluarga, sekaligus menjadi bukti bahwa usaha kecil yang dilakukan dengan tekun dapat membawa perubahan.

Menjalankan aktivitas bertani di bulan Ramadan tentu bukan hal mudah. Bapak Ojo harus tetap bekerja di bawah terik matahari, sementara tubuh menahan lapar dan dahaga.

Namun baginya, Ramadan justru menjadi sumber kekuatan.

“Bulan Ramadan mengajarkan kita untuk sabar dan bersyukur,” katanya. “Kalau niatnya baik dan kita berusaha sungguh-sungguh, Allah pasti memberi jalan.”

Setiap kali memanen timun, ia merasakan kebahagiaan sederhana. Bukan hanya karena hasil yang diperoleh, tetapi karena ia tahu bahwa usahanya membawa manfaat bagi keluarga dan lingkungan sekitar.

Diversifikasi Usaha yang Membuka Peluang

Langkah Bapak Ojo menanam timun merupakan bagian dari upaya diversifikasi usaha yang didorong dalam program Zakat Community Development (ZCD) BAZNAS. Program ini bertujuan membantu masyarakat mengembangkan potensi ekonomi lokal secara berkelanjutan.

Melalui pendekatan ini, anggota kelompok tidak hanya mengandalkan satu jenis usaha. Mereka didorong untuk memanfaatkan berbagai peluang yang ada, baik di sektor peternakan maupun pertanian.

Bagi Bapak Ojo, diversifikasi usaha bukan hanya soal menambah penghasilan. Lebih dari itu, ia belajar untuk menjadi lebih mandiri dan kreatif dalam mengelola sumber daya yang dimiliki.

Dari Lahan Sederhana Tumbuh Harapan

Kisah Bapak Ojo adalah gambaran nyata bahwa perubahan sering kali dimulai dari langkah kecil. Sebidang lahan sederhana, beberapa benih timun, serta ketekunan yang tidak pernah padam—semua itu perlahan tumbuh menjadi sumber harapan baru.

Di tengah kesederhanaan desa, ia membuktikan bahwa kerja keras dan kemauan untuk belajar dapat membuka jalan menuju kehidupan yang lebih baik.

Saat matahari mulai meninggi dan keranjang panen perlahan terisi, Bapak Ojo kembali memandang kebun timunnya dengan rasa syukur.

Bagi dirinya, setiap buah timun yang dipetik bukan sekadar hasil pertanian. Itu adalah bukti bahwa harapan bisa tumbuh di mana saja—bahkan dari lahan kecil di sudut desa, selama ada ketekunan untuk merawatnya.

Dapatkan Update Berita dan Informasi Penyaluran Zakat, Infak, dan Sedekah.

Follow us

Copyright © 2026 BAZNAS

Kebijakan Privasi   |   Syarat & Ketentuan   |   FAQ