Minuman Gratis, Rezeki Mengalir: Kisah Syahdan Bersama Program BAZNAS
Minuman Gratis, Rezeki Mengalir: Kisah Syahdan Bersama Program BAZNAS
30/04/2026 | Humas BAZNAS RISiang itu, suasana di pinggir Jalan Kelayan A tampak ramai. Satu per satu pelanggan datang dan silih berganti duduk di warung sederhana milik Syahdan Fasi. Aroma kuah soto dan rawon yang hangat menyeruak, berpadu dengan obrolan ringan para pembeli yang sudah akrab dengan tempat itu.
Di tengah kesibukan tersebut, pendamping program Baznas Microfinance Desa (BMD), Muhammad Ikhza, turut hadir melihat aktivitas usaha yang telah bertahan puluhan tahun itu. Pada Selasa (28/4), ia menyempatkan diri berkunjung, menyapa, sekaligus melihat bagaimana program berjalan di lapangan.
Pak Syahdan kini berusia 71 tahun, namun tetap sigap melayani pelanggan. Warung kuliner yang ia rintis sejak 1983 itu menjadi saksi perjalanan panjang hidupnya. Dulu dijalankan bersama sang istri, kini ia teruskan bersama anaknya, Indah Banjar Sari, setelah sang istri berpulang.
Pengajuan di program BMD pun dilakukan atas nama Indah, mengingat usia Pak Syahdan yang sudah tidak lagi memungkinkan untuk mengurus administrasi. Hingga saat ini, usaha tersebut telah memasuki tahap pembiayaan ketiga.
“Alhamdulillah, dari jualan ini saya bisa menyekolahkan tiga anak sampai sarjana. Tidak ada beasiswa, semuanya dari hasil usaha ini,” ungkap Pak Syahdan.
Pak Syahdan bercerita, ia pertama kali mengenal program BMD dari Ketua RT setempat. Sejak bergabung, ia merasakan langsung manfaatnya untuk menunjang kebutuhan usaha sehari-hari.
“Alhamdulillah merasa nyaman ikut program ini, tidak pernah menunggak. Kemarin dana yang didapat kami belikan untuk menambah dan mengganti peralatan dapur yang sudah mulai usang, seperti panci, kompor, gelas, piring, dan sendok,” ujarnya.
Warung ini memiliki ciri khas tersendiri. Dengan harga Rp10.000 per porsi, semua minuman diberikan secara gratis, mulai dari air putih, teh hangat, hingga es teh. Dari warung sederhana itu, Pak Syahdan mampu meraup omzet sekitar Rp200.000 hingga Rp300.000 per hari.
“Itu niat kami untuk bersedekah, supaya usaha ini berkah. Sekaligus kami niatkan juga untuk almarhumah istri saya,” tutur Pak Syahdan pelan.
Muhammad Ikhza yang menyaksikan langsung kesibukan warung tersebut mengaku terkesan dengan konsistensi usaha Pak Syahdan, bahkan di tengah berbagai keterbatasan.
“Usaha Pak Syahdan ini sudah sangat lama berjalan dan terbukti mampu menghidupi keluarga. Bahkan anak-anaknya bisa sampai sarjana dari sini. Ini yang ingin terus kita jaga melalui program BMD, agar usaha seperti ini tetap hidup dan berkembang,” ujarnya.
Ia menambahkan, kedisiplinan Pak Syahdan dalam menjalankan pembiayaan menjadi salah satu alasan kepercayaan itu terus diberikan.
“Alhamdulillah, beliau termasuk yang tertib. Harapannya, bantuan ini bisa terus dimanfaatkan untuk menunjang usaha sehari-hari. Kami juga dalam kunjungan ini memberikan apron untuk digunakan saat berjualan, agar tampilan usaha lebih rapi, bersih, dan semakin profesional,” tambahnya.
Di sela melayani pelanggan yang tak putus, Pak Syahdan masih menyelipkan harapan sederhana. Ia ingin usahanya terus berjalan, dan program yang ia rasakan manfaatnya ini bisa menjangkau lebih banyak masyarakat.
“Semoga program ini selalu lancar, sukses, dan terus membantu orang-orang seperti kami,” tutup Pak Syahdan.
Dari warung kecil di pinggir jalan itu, tersimpan cerita tentang kerja keras, ketulusan, dan keberkahan yang tidak hanya menghidupi keluarga, tetapi juga menjadi ladang sedekah yang terus mengalir. (Muhammad Ikhza/BMD Banjarmasin)
Dapatkan Update Berita dan Informasi Penyaluran Zakat, Infak, dan Sedekah.
Follow us