Manisnya Perjuangan Ibu Ponco: Dari Pesanan Satuan hingga Ratusan Toples Kue Lebaran Berkat Dukungan BAZNAS
Manisnya Perjuangan Ibu Ponco: Dari Pesanan Satuan hingga Ratusan Toples Kue Lebaran Berkat Dukungan BAZNAS
10/03/2026 | Humas BAZNAS RIMenjelang Hari Raya Idul Fitri, suasana dapur kecil di kawasan Dramaga Pratama, Ciampea, Kabupaten Bogor, terasa berbeda. Aroma mentega yang meleleh di dalam oven berpadu dengan wangi kue yang baru matang memenuhi ruangan. Di sinilah Ibu Ponco Sulistyowati (51) memulai hari-harinya sejak pagi, menyiapkan ratusan toples kue kering pesanan pelanggan.
Bagi Ibu Ponco, Ramadhan bukan sekadar bulan ibadah. Bulan suci ini juga menjadi musim panen bagi usaha kuliner rumahan miliknya, Na’ma, yang kini semakin dikenal di kalangan masyarakat sekitar.
Usaha yang ia jalankan sebagai mitra binaan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) melalui program BAZNAS Microfinance Desa Bojongrangkas itu kini mengalami lonjakan pesanan yang menggembirakan.
Jika dulu ia hanya menerima satu atau dua pesanan, kini ratusan toples kue kering harus disiapkan untuk memenuhi permintaan pelanggan menjelang Lebaran.
Dari Dapur Rumah, Mengharumkan Nama Na’ma
Di balik deretan perumahan Dramaga Pratama, Kecamatan Ciampea, Bogor, dapur produksi Na’ma menjadi saksi perjalanan panjang seorang ibu yang tidak pernah berhenti berjuang.
Awalnya, usaha Na’ma lebih dikenal dengan berbagai produk pastry seperti bolen pisang, roti gulung, hingga bolu ketan. Namun memasuki bulan Ramadhan, Ibu Ponco melakukan penyesuaian strategi usaha.
Ia mengalihkan fokus produksi ke aneka kue kering khas Lebaran yang selalu dicari masyarakat saat menyambut Idul Fitri.
Keputusan tersebut terbukti tepat. Permintaan kue kering Na’ma meningkat tajam dari hari ke hari.
Hingga awal Ramadhan 2026, lebih dari 14 lusin atau sekitar 168 toples kue kering telah dipesan oleh pelanggan. Jumlah ini diperkirakan masih akan terus bertambah seiring semakin dekatnya hari raya.
Nastar dan Coco Stick Jadi Favorit Pelanggan
Di antara berbagai produk yang diproduksi Na’ma, ada dua jenis kue yang menjadi favorit pelanggan: nastar dan coco stick cokelat.
Setiap hari, Ibu Ponco bersama tim kecilnya harus menyiapkan adonan, memanggang, hingga mengemas kue-kue tersebut dengan rapi sebelum dikirim ke pelanggan.
Selain dua varian tersebut, Na’ma juga menghadirkan beberapa kue klasik yang tak pernah absen dari meja Lebaran, seperti Putri Salju, Kastengel, Kue Sagu, Kue Kacang.
Seluruh produk dijual dengan kisaran harga Rp80.000 hingga Rp100.000 per toples ukuran 500 gram, menyesuaikan dengan bahan berkualitas yang digunakan.
Meski diproduksi dari dapur rumahan, kualitas kue Na’ma tidak kalah dengan produk toko kue besar.
Berawal dari Pesanan Kecil
Kesuksesan yang dirasakan Ibu Ponco hari ini bukanlah sesuatu yang datang secara instan.
Ia masih mengingat masa-masa awal merintis usaha ketika pesanan datang sangat terbatas. Bahkan, terkadang hanya satu atau dua pelanggan yang memesan melalui sistem pre-order.
Namun, ia memilih untuk tidak menyerah.
Bagi Ibu Ponco, menjaga kepercayaan pelanggan adalah kunci utama agar usaha bisa terus bertahan.
“Motivasi utama saya menjalani usaha ini adalah ingin mempunyai makna dalam kehidupan. Saya ingin membantu keluarga dan juga lingkungan sekitar,” tutur Ibu Ponco dengan penuh ketulusan.
Peran BAZNAS dalam Menguatkan Usaha
Perjalanan usaha Ibu Ponco semakin berkembang setelah mendapatkan dukungan dari Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) melalui program BAZNAS Microfinance Desa.
Melalui program ini, Ibu Ponco mendapatkan tambahan modal usaha, khususnya menjelang Ramadhan. Modal tersebut digunakan untuk membeli bahan baku, meningkatkan kapasitas produksi, serta memperluas jangkauan pemasaran.
Bagi pelaku UMKM, tambahan modal pada saat yang tepat sangatlah berarti. Dengan dukungan tersebut, Ibu Ponco dapat memproduksi kue dalam jumlah lebih besar untuk memenuhi permintaan pasar.
Program pemberdayaan ekonomi dari BAZNAS ini memang dirancang untuk membantu para pelaku usaha kecil agar mampu berkembang secara mandiri dan berkelanjutan.
Kisah Ibu Ponco menjadi salah satu bukti nyata bagaimana dana zakat yang dikelola dengan baik dapat menggerakkan ekonomi masyarakat.
Dibantu Keluarga dan Tim Kecil
Meski pesanan terus meningkat, dapur Na’ma tetap mempertahankan nuansa kekeluargaan.
Saat ini operasional usaha dibantu oleh satu orang karyawan, sementara tiga anak Ibu Ponco juga turut membantu ketika produksi sedang padat.
Suasana dapur yang hangat penuh kerja sama membuat proses produksi terasa lebih ringan meskipun harus mengejar target pesanan.
Tak hanya itu, satu bulan yang lalu Ibu Ponco juga membuka outlet resmi Na’ma di kawasan Dramaga, Bogor. Kehadiran outlet tersebut menjadi langkah baru untuk memperkenalkan produknya kepada lebih banyak pelanggan.
Outlet ini juga menjadi tempat bagi pelanggan baru untuk mengenal produk Na’ma secara langsung.
Pesan untuk Para Pelaku UMKM
Bagi Ibu Ponco, perjalanan usaha adalah proses panjang yang membutuhkan kesabaran dan konsistensi.
Ia pun memiliki pesan sederhana bagi para pelaku UMKM yang sedang merintis usaha.
“Tetaplah konsisten dan sabar dalam menjalani bisnis. Semua butuh proses. Yang penting kita tidak berhenti menjaga kualitas,” ujarnya.
Pesan tersebut lahir dari pengalaman nyata yang ia rasakan sendiri selama bertahun-tahun membangun usaha.
Usaha Rumahan yang Menginspirasi
Kisah Ibu Ponco menunjukkan bahwa usaha rumahan memiliki potensi besar jika dikelola dengan tekun dan penuh komitmen.
Dengan dukungan dari Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) serta semangat pantang menyerah, usaha kecil seperti Na’ma mampu tumbuh menjadi sumber penghidupan yang berkelanjutan.
Lebih dari sekadar bisnis, dapur Na’ma kini menjadi simbol harapan—bahwa dari rumah sederhana, seorang ibu dapat menciptakan peluang ekonomi bagi keluarga dan lingkungan sekitar.
Dan setiap toples kue yang sampai ke tangan pelanggan bukan hanya membawa rasa manis, tetapi juga cerita tentang perjuangan, kesabaran, serta keberkahan yang lahir dari kerja keras.
Dapatkan Update Berita dan Informasi Penyaluran Zakat, Infak, dan Sedekah.
Follow us