Kisah Sukses Heny Keripik Berkat Sentuhan BAZNAS
Kisah Sukses Heny Keripik Berkat Sentuhan BAZNAS
14/01/2026 | Humas BAZNASRumah sederhana di Jalan Teuku Umar, Kelurahan Gunung Sekar, Kecamatan Sampang, Sampang, Jawa Timur, jadi saksi aroma gurih keripik pisang dan sukun menyeruak setiap pagi. Di sanalah Heny Amala, seorang ibu dua anak, menjemput harapan lewat wajan dan irisan buah-buahan yang kini menjelma menjadi sumber penghidupan keluarganya.
Dulu, usaha keripik milik Heny hanya berjalan seadanya. Produksi terbatas, modal pas-pasan, dan pemasaran pun tersendat. Namun kini, roda usaha “Heny Keripik” berputar lebih kencang. Setiap hari, puluhan kilogram keripik keluar dari dapurnya, siap memenuhi permintaan pasar.
Perubahan besar itu tak lepas dari peran BAZNAS melalui program BAZNAS Microfinance Desa (BMD).
Terhambat Modal, Terbatas Produksi
Heny memulai usaha keripiknya sejak 2011. Selama bertahun-tahun, ia mengandalkan modal kecil untuk memproduksi keripik pisang, tales, sukun, dan bentol. Keterbatasan modal membuat produksinya berjalan lambat.
“Dulu saya tidak bisa menyetok bahan maupun keripik. Kalau tidak ada pesanan, ya tidak produksi. Harus menunggu order dulu,” kenang Heny.
Kondisi itu membuat usahanya sulit berkembang. Permintaan pasar sebenarnya ada, tetapi kemampuan produksi tidak mampu mengimbanginya. Di sinilah Heny merasa seperti berjalan di tempat.
Titik Balik Bersama BAZNAS
Segalanya mulai berubah ketika Heny mendapat pendampingan dan bantuan modal usaha dari BAZNAS Microfinance Desa (BMD). Program pemberdayaan ekonomi umat ini hadir untuk mendorong pelaku usaha kecil agar naik kelas dan mandiri secara finansial.
“Alhamdulillah sekarang saya bisa memproduksi puluhan kilogram keripik per hari. Keripik pisang 15 kilogram, keripik tales 25 kilogram, keripik sukun 20 kilogram, dan keripik bentol 10 kilogram per hari,” ujar Heny saat pendampingan usaha, Rabu (14/1/2026).
Bantuan modal dari BAZNAS membuat Heny bisa membeli bahan baku dalam jumlah lebih besar, meningkatkan kapasitas produksi, sekaligus mempercepat perputaran modal.
“Sekarang saya bisa produksi lebih banyak, stok selalu ada, dan tidak perlu menunggu pesanan dulu. Alhamdulillah perputaran usaha jadi lebih cepat,” tambahnya.
Dari Modal Zakat, Tumbuh Usaha Berkah
Tak hanya meningkatkan produksi, bantuan BAZNAS juga membawa dampak nyata bagi pendapatan Heny. Dengan modal Rp1 juta untuk sekali produksi, ia kini mampu meraup keuntungan bersih hingga Rp600 ribu.
Bagi Heny, program Bank Zakat Micro bukan sekadar bantuan dana, melainkan jalan menuju kemandirian ekonomi.
“Program ini sangat membantu pengusaha kecil seperti saya. Modal itu benar-benar jadi penyambung hidup usaha kami,” ungkapnya penuh syukur.
BAZNAS, Menggerakkan Ekonomi Umat dari Akar Rumput
Kisah Heny adalah satu dari ribuan cerita penerima manfaat program pemberdayaan ekonomi BAZNAS di seluruh Indonesia. Melalui BAZNAS Microfinance Desa, dana zakat tidak hanya disalurkan sebagai bantuan konsumtif, tetapi diolah menjadi modal produktif yang menumbuhkan usaha, membuka lapangan kerja, dan menguatkan ekonomi keluarga.
Dari dapur sederhana di Sampang, Heny membuktikan bahwa zakat yang dikelola secara profesional mampu mengubah keterbatasan menjadi kekuatan, dan kesulitan menjadi peluang.
“Semoga program ini terus berjalan dan semakin banyak pengusaha kecil yang terbantu seperti saya,” harap Heny.
Kini, setiap lembar keripik yang keluar dari dapurnya bukan sekadar camilan, tetapi simbol perjuangan, kemandirian, dan keberkahan zakat yang dikelola BAZNAS untuk kesejahteraan umat.
Dapatkan Update Berita dan Informasi Penyaluran Zakat, Infak, dan Sedekah.
Follow us