Kisah Minun dan Peyek yang Menghidupkan Harapan
Kisah Minun dan Peyek yang Menghidupkan Harapan
19/03/2026 | Humas BAZNAS RIDi sebuah sudut rumah sederhana di Kabupaten Bulungan, suara gemericik minyak panas bersahut dengan aroma gurih rempah yang menguar ke udara. Menjelang Hari Raya Idul Fitri, dapur milik Ibu Minun tak pernah benar-benar sepi. Tangan-tangannya yang terampil terus bergerak, menuangkan adonan tipis ke wajan, menciptakan peyek renyah yang kelak akan menghiasi meja-meja tamu saat Lebaran tiba.
Bagi banyak orang, peyek mungkin hanya camilan pelengkap. Namun bagi Ibu Minun, peyek adalah sumber harapan—dan kini, juga sumber rezeki yang kian melimpah.
Tahun ini, berkah Ramadan terasa begitu nyata. Pesanan datang silih berganti, seakan tak memberi jeda. Warga sekitar hingga pelanggan baru berlomba memesan peyek buatannya. Tak sedikit yang ingin memastikan stok camilan khas Lebaran itu tersedia di rumah mereka.
“Permintaan tahun ini luar biasa banyak,” tutur Ibu Minun dengan senyum yang tak lepas dari wajahnya. Namun di balik kebahagiaan itu, terselip dilema yang tidak mudah.
Dengan peralatan yang masih terbatas, ia harus membuat keputusan sulit: menolak sebagian pesanan. Bukan karena tak ingin melayani, melainkan karena ia ingin menjaga kualitas. Baginya, setiap peyek yang keluar dari dapurnya harus tetap renyah, gurih, dan memuaskan.
“Takut hasilnya tidak maksimal kalau dipaksakan,” ujarnya pelan.
Meski demikian, usaha kecil ini telah mencatat pencapaian yang membanggakan. Omzet penjualannya kini telah menembus angka Rp3.500.000—angka yang bagi Ibu Minun bukan sekadar nominal, melainkan simbol perjuangan dan ketekunan.
Perjalanan ini tentu tidak ia lalui sendiri. Di balik keberhasilan tersebut, ada dukungan yang menguatkan langkahnya. Bantuan permodalan dari Baznas Microfinance Desa menjadi titik balik yang penting bagi usahanya.
“Terima kasih sebesar-besarnya kepada Baznas Microfinance Desa. Berkat bantuan kemarin, saya bisa membeli peralatan penunjang usaha,” ungkapnya penuh syukur.
Tambahan peralatan itu mungkin terlihat sederhana, namun dampaknya begitu besar. Produksi menjadi lebih lancar, kapasitas meningkat, dan semangat pun ikut terangkat. Dari dapur kecilnya, Ibu Minun kini tidak hanya memasak peyek, tetapi juga meracik masa depan yang lebih baik bagi keluarganya.
Kisah Ibu Minun adalah potret nyata bagaimana sentuhan kecil berupa dukungan modal dapat menghadirkan perubahan besar. Di tengah hiruk-pikuk persiapan Lebaran, ada perjuangan sunyi yang terus berjalan—tentang kerja keras, ketekunan, dan harapan yang tak pernah padam.
Dari wajan sederhana itu, bukan hanya peyek yang dihasilkan. Ada mimpi yang digoreng perlahan, ada doa yang diselipkan dalam setiap adonan, dan ada keyakinan bahwa setiap usaha, sekecil apa pun, bisa membawa berkah yang luar biasa.
Dapatkan Update Berita dan Informasi Penyaluran Zakat, Infak, dan Sedekah.
Follow us