Kisah Harapan Sayuti di Banda Aceh Lewat Minuman Tebu

Kisah Harapan Sayuti di Banda Aceh Lewat Minuman Tebu

25/03/2026 | Humas BAZNAS RI

Banda Aceh, sore itu terasa hangat. Matahari mulai condong ke barat, sementara lalu lintas di Simpang Keudah perlahan ramai oleh warga yang bersiap menyambut waktu berbuka. Di antara hiruk-pikuk itu, berdirilah sebuah lapak sederhana. Tak besar, tak mewah. Namun dari sanalah, mengalir kisah perjuangan yang begitu dalam—kisah seorang ayah bernama Bapak Sayuti.

 

Setiap hari di bulan Ramadan, tangan Bapak Sayuti tak pernah berhenti. Ia memotong batang tebu, menggilingnya, lalu menuangkan sari manisnya ke dalam plastik-plastik kecil yang dijual seharga lima ribu rupiah. Sederhana, tapi menyegarkan. Minuman itu bukan sekadar pelepas dahaga bagi pembeli—melainkan sumber harapan bagi keluarganya.

 

Bertahan di Tengah Keterbatasan

Di hari-hari awal Ramadan, penghasilan Bapak Sayuti berkisar antara Rp300.000 hingga Rp400.000 per hari. Memasuki pertengahan bulan, angka itu meningkat menjadi Rp500.000 hingga Rp600.000. Ada rasa syukur di balik peningkatan itu. Namun jika dibandingkan tahun lalu, hasilnya justru menurun cukup jauh.

“Dulu bisa sampai Rp800.000 sehari,” tuturnya pelan.

Kenaikan harga bahan baku tebu dan semakin banyaknya pedagang serupa di sekitar lokasi membuat persaingan semakin ketat. Setiap gelas yang terjual kini terasa lebih berarti. Setiap rupiah yang didapat, dihitung dengan penuh harap.

Namun Bapak Sayuti bukan orang yang mudah menyerah.

Selama empat tahun terakhir, ia menjadi bagian dari mitra binaan BMD Aceh. Bantuan modal sebesar Rp5 juta yang ia terima tidak disia-siakan. Ia gunakan untuk memperbaiki lapak, membeli peralatan, dan menambah stok bahan baku. Lebih dari itu, ia juga belajar mengelola keuangan dan merencanakan usaha dengan lebih matang.

Baginya, usaha ini bukan sekadar mencari nafkah. Ini adalah jalan perjuangan.

 

Impian Besar dari Lapak Kecil

Di balik kesibukannya menjajakan minuman tebu, ada satu hal yang selalu memenuhi pikiran Bapak Sayuti: masa depan anaknya.

Putra pertamanya, Muhammad Khalid Akbar, baru saja lulus seleksi masuk Universitas Al Azhar di Mesir—sebuah pencapaian yang membanggakan sekaligus mengharukan. Perjalanan menuju titik ini tidak mudah.

Sebelumnya, Khalid menjalani program tahfidz di Solo. Hari-harinya diisi dengan belajar dan menghafal Al-Qur’an. Bahkan, ia juga mengikuti kelas daring bersama pengajar langsung dari Mesir, mulai pukul 07.00 hingga 11.00 WIB. Setelah itu, ia melanjutkan hafalan ayat demi ayat, memperkuat tekadnya untuk menjadi bagian dari generasi Qurani.

Kini, sebagian besar Al-Qur’an telah ia hafal. Namun perjalanan ilmu masih panjang, dan Al Azhar menjadi gerbang berikutnya.

Bagi Bapak Sayuti, kelulusan anaknya adalah kebahagiaan yang tak terlukiskan. Tapi di balik itu, terselip kegelisahan yang tak bisa diabaikan.

Untuk bisa berangkat ke Mesir, Khalid membutuhkan biaya yang tidak sedikit—terutama untuk tiket pesawat dan kebutuhan awal di sana. Sementara beasiswa baru akan diproses setelah memasuki semester kedua.

Bapak Sayuti sudah berusaha mengajukan bantuan ke Baitul Mal. Namun, kuota bantuan tahun ini telah habis.

Kini, ia hanya bisa berharap.

Dari hasil berjualan tebu setiap hari, ia mencoba menyisihkan sedikit demi sedikit. Meski tahu, jalan yang ditempuh tidak mudah.

“Yang penting anak saya bisa berangkat dulu,” ucapnya dengan mata yang menyimpan harapan.

Ia tidak memikirkan dirinya. Ia tidak mengeluh tentang lelahnya berdiri seharian, atau panasnya terik matahari. Yang ada di benaknya hanyalah satu: bagaimana anaknya bisa menggapai mimpi.

 

Harapan yang Tak Pernah Padam

Kisah Bapak Sayuti adalah potret nyata perjuangan banyak orang tua di negeri ini. Dengan segala keterbatasan, ia tetap berdiri tegak. Dari lapak kecil di pinggir jalan, ia membangun mimpi besar untuk anaknya.

Segelas tebu yang ia jual mungkin terlihat biasa bagi sebagian orang. Namun di baliknya, tersimpan doa, keringat, dan harapan yang luar biasa.

Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga. Ia juga menjadi waktu di mana harapan-harapan kecil tumbuh menjadi besar. Seperti harapan Bapak Sayuti—yang tak pernah padam, meski diterpa keterbatasan.

Di tengah keramaian Simpang Keudah, mungkin banyak orang berlalu lalang tanpa menyadari kisah di balik lapak itu. Namun bagi Bapak Sayuti, setiap pembeli adalah langkah kecil menuju masa depan anaknya.

Dan siapa tahu, dari setiap tegukan manis minuman tebu itu, ada keberkahan yang ikut mengalir—mengantarkan seorang anak bangsa menuju gerbang ilmu di tanah para ulama.

Dapatkan Update Berita dan Informasi Penyaluran Zakat, Infak, dan Sedekah.

Follow us

Copyright © 2026 BAZNAS

Kebijakan Privasi   |   Syarat & Ketentuan   |   FAQ