Gapoktan Citra Wujudkan Pertanian Berkelanjutan: BAZNAS Hadir Menguatkan Sistem Integrated Farming di Cilapar

Gapoktan Citra Wujudkan Pertanian Berkelanjutan: BAZNAS Hadir Menguatkan Sistem Integrated Farming di Cilapar

17/11/2025 | Humas BAZNAS

Minggu, 16 November 2025 menjadi momentum penting bagi Gapoktan Citra di Desa Cilapar, Kecamatan Kaligondang, Kabupaten Purbalingga. Di hamparan sawah Blok 1 dan 2 seluas 2 hektare, para petani memperlihatkan bagaimana mereka menerapkan Integrated Farming System berbasis LEISA—Low External Input Sustainable Agriculture—sebuah pendekatan pertanian berkelanjutan yang mengutamakan pemanfaatan sumber daya lokal dan meminimalkan ketergantungan pada input eksternal.

Penerapan sistem ini bukan terjadi begitu saja. Pendampingan BAZNAS dalam program pemberdayaan petani turut memperkuat cara kerja Gapoktan, memastikan praktik pertanian berkelanjutan ini dapat berjalan optimal. BAZNAS telah memberikan pelatihan, bimbingan teknis, hingga pendampingan lapangan sehingga petani mampu mengubah limbah pertanian menjadi sumber daya produktif yang bernilai ekonomis.

Salah satu langkah penting yang dilakukan Gapoktan Citra adalah memaksimalkan daur ulang tanaman padi pascapanen. Di banyak tempat, jerami padi hanya dibakar atau dibuang. Namun di Cilapar, jerami justru menjadi bagian dari siklus pertanian terpadu. Dengan pengetahuan yang diperoleh dari berbagai sesi pendampingan, para petani mengolah jerami menjadi pupuk kompos, pakan ternak dalam bentuk silase, hingga media tanam jamur. Proses ini membantu menekan biaya operasional sekaligus menjaga kesuburan tanah secara alami.

Tak hanya jerami yang diberdayakan. Sekam padi—yang kerap dianggap limbah ringan—juga diolah kembali menjadi pupuk organik dan media tanam jamur. Pemanfaatan sekam ini membuat petani tidak lagi bergantung pada bahan-bahan dari luar, serta mampu mengembangkan usaha baru yang dapat menambah pendapatan keluarga. Pendekatan pemanfaatan limbah ini menjadi bukti bahwa pertanian modern tidak selalu membutuhkan teknologi mahal, melainkan inovasi yang tepat dan dukungan pendampingan yang konsisten.

Kegiatan lain yang menarik adalah integrasi ternak bebek di lahan sawah pascapanen. Setelah masa panen selesai, bebek-bebek dilepas untuk mencari makan alami berupa sisa bulir padi, gulma, siput, dan serangga. Kehadiran bebek tidak hanya membantu membersihkan lahan, tetapi juga menghasilkan kotoran yang menyuburkan tanah. Nutrisi dari kotoran bebek, terutama nitrogen, memperkaya unsur hara tanah sehingga lahan siap ditanami kembali tanpa harus menambah banyak pupuk kimia. Di saat yang sama, petani juga diuntungkan karena bebek mendapatkan pakan alami tanpa biaya tambahan.

Semua praktik ini menunjukkan bahwa pertanian terpadu berbasis LEISA merupakan sistem yang tidak hanya efisien, tetapi juga sangat menguntungkan dari sisi ekologis dan ekonomi. Petani dapat memanfaatkan sumber daya lokal, mengurangi biaya produksi, meningkatkan hasil panen, sekaligus menekan dampak negatif terhadap lingkungan.

Di balik capaian ini, peran BAZNAS tampak jelas. Melalui pendampingan dan pemberdayaan, BAZNAS ikut mendorong petani untuk memahami konsep pertanian berkelanjutan serta menerapkannya secara konsisten. Para petani Gapoktan Citra tidak lagi mengelola lahan secara konvensional, tetapi sudah bertransformasi menjadi pelaku pertanian modern yang mampu mengolah limbah, menjaga siklus nutrisi, dan memanfaatkan alam secara bijak.

Kini, sawah-sawah Cilapar bukan hanya tempat menanam padi, tetapi juga menjadi model praktik pertanian terpadu yang mampu menginspirasi daerah lain. Dengan dukungan BAZNAS yang terus menguatkan langkah petani, pertanian berkelanjutan bukan lagi wacana, melainkan kenyataan yang tumbuh subur di tangan para petani Gapoktan Citra.

Dapatkan Update Berita dan Informasi Penyaluran Zakat, Infak, dan Sedekah.

Follow us

Copyright © 2025 BAZNAS

Kebijakan Privasi   |   Syarat & Ketentuan   |   FAQ