Eksotika Buah Naga Jatigede, Kisah Bapak Odang dan Sentuhan Pemberdayaan BAZNAS

Eksotika Buah Naga Jatigede, Kisah Bapak Odang dan Sentuhan Pemberdayaan BAZNAS

16/03/2026 | Humas BAZNAS RI

Pagi di kawasan Bendungan Jatigede terasa berbeda. Di antara hamparan kebun yang hijau dan udara sejuk khas perbukitan, buah-buah naga berwarna merah menyala tampak menggantung di batang-batang tanaman yang tertata rapi. Pemandangan eksotis itu bukan sekadar keindahan alam, tetapi juga simbol harapan dan kerja keras.

Di balik kebun itu, berdirilah sosok sederhana bernama Bapak Odang, peternak sekaligus anggota Balai Ternak Jatimekar. Di bulan suci Ramadhan yang penuh berkah ini, ia kembali memanen buah naga dari lahan miliknya yang berada di sekitar kawasan strategis DAM Bendungan Jatigede, Kabupaten Sumedang.

Bagi Bapak Odang, panen kali ini bukan hanya tentang hasil pertanian. Ia adalah bukti bahwa usaha yang dibangun dengan tekun, didukung oleh sistem pemberdayaan yang tepat, mampu mengubah kehidupan menjadi lebih baik.

Panen Manis di Bulan Penuh Berkah

Di tengah meningkatnya kebutuhan pangan selama Ramadhan, Bapak Odang memanfaatkan momentum dengan melakukan panen buah naga dari kebun yang ia rawat dengan penuh kesabaran. Dari panen terbaru, ia berhasil mengumpulkan sekitar 28 kilogram buah naga segar yang dijual dengan harga stabil sekitar Rp25.000 per kilogram.

Bagi sebagian orang, angka itu mungkin terlihat sederhana. Namun bagi Bapak Odang, setiap kilogram buah yang dipanen memiliki cerita perjuangan di baliknya.

“Alhamdulillah, panen kali ini cukup baik. Permintaan buah juga meningkat saat Ramadhan,” ujar Bapak Odang dengan senyum yang tak lepas dari wajahnya.

Buah naga yang dihasilkan tidak hanya menarik dari segi warna dan ukuran, tetapi juga dikenal memiliki rasa yang manis dan segar. Konsumen di sekitar Jatigede bahkan mulai mengenal kualitas buah naga dari kebun milik Bapak Odang.

Pertanian Terintegrasi yang Ramah Lingkungan

Keberhasilan panen ini tidak datang begitu saja. Bapak Odang menerapkan sistem pertanian terintegrasi (Integrated Farming System) yang memanfaatkan sumber daya secara optimal.

Sebagai peternak, ia memiliki kandang ternak yang menghasilkan limbah berupa kotoran hewan atau kohe. Alih-alih dibuang, limbah tersebut diolah menjadi pupuk organik untuk menyuburkan tanaman buah naga di kebunnya.

Pendekatan ini memberi banyak manfaat.

Pertama, biaya produksi menjadi lebih rendah karena tidak perlu membeli pupuk kimia dalam jumlah besar. Kedua, kualitas tanah tetap terjaga karena penggunaan pupuk alami yang lebih ramah lingkungan. Ketiga, buah yang dihasilkan memiliki rasa lebih alami dan daya simpan yang lebih baik.

“Kohe dari ternak dimanfaatkan untuk pupuk tanaman. Jadi semuanya saling mendukung,” jelas Bapak Odang.

Sistem pertanian seperti ini tidak hanya efisien, tetapi juga menjadi contoh praktik pertanian berkelanjutan yang dapat ditiru oleh petani lain di wilayah tersebut.

Dari Kandang Ternak ke Kebun Buah

Saat ini, Bapak Odang mengelola sekitar 100 pohon buah naga di lahannya. Dari jumlah tersebut, sekitar 28 pohon sudah memasuki masa produksi aktif, sementara sisanya masih dalam tahap pertumbuhan.

Artinya, potensi panen di masa depan masih sangat besar.

Jika seluruh pohon telah berbuah, produksi buah naga di kebun Bapak Odang diperkirakan akan meningkat berkali-kali lipat. Hal ini tentu akan menjadi sumber pendapatan tambahan yang sangat berarti bagi keluarganya.

Bagi Bapak Odang, buah naga bukan sekadar tanaman. Ia adalah investasi masa depan.

Dengan perawatan yang konsisten—mulai dari pemupukan, pemangkasan, hingga pengaturan air—Bapak Odang yakin kebunnya akan terus berkembang.

“Kalau semua pohon sudah berbuah, hasilnya tentu lebih banyak lagi,” ujarnya penuh optimisme.

Peran Nyata BAZNAS dalam Pemberdayaan

Keberhasilan Bapak Odang tidak dapat dipisahkan dari peran BAZNAS melalui program pemberdayaan ekonomi masyarakat. Melalui Balai Ternak Jatimekar, BAZNAS mendorong para peternak untuk tidak hanya fokus pada satu sektor usaha, tetapi juga mengembangkan potensi lain yang saling terhubung.

Program ini mengajarkan konsep diversifikasi usaha berbasis pertanian terintegrasi, di mana peternakan dan pertanian saling mendukung dalam satu ekosistem produksi.

Limbah ternak menjadi pupuk, lahan kosong dimanfaatkan untuk tanaman produktif, dan hasilnya menjadi sumber penghasilan tambahan bagi para peternak.

Pendekatan ini membuat para anggota Balai Ternak tidak hanya bertahan secara ekonomi, tetapi juga berkembang.

Bapak Odang adalah salah satu contoh nyata keberhasilan model pemberdayaan tersebut.

Dengan dukungan pendampingan dari BAZNAS, ia mampu mengelola usaha peternakan sekaligus pertanian secara lebih efektif. Hal ini memberikan dampak langsung terhadap peningkatan kesejahteraan keluarganya.

Menguatkan Ekonomi Keluarga

Hasil panen buah naga yang diperoleh Bapak Odang menjadi tambahan pemasukan yang sangat berarti, terutama di bulan Ramadhan ketika kebutuhan rumah tangga meningkat.

Pendapatan dari kebun buah naga membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari, sekaligus menjadi bekal untuk menyambut Idul Fitri yang semakin dekat.

Bagi keluarga Bapak Odang, keberhasilan ini bukan hanya tentang ekonomi, tetapi juga tentang rasa syukur.

Dari usaha kecil yang dirintis dengan kesabaran, kini mulai terlihat hasil yang menjanjikan. Hal ini menjadi motivasi bagi Bapak Odang untuk terus mengembangkan usahanya di masa depan.

Inspirasi dari Jatigede

Kisah Bapak Odang menunjukkan bahwa pemberdayaan ekonomi berbasis zakat dapat memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

Dengan pendekatan yang tepat, bantuan yang diberikan tidak hanya bersifat sementara, tetapi mampu membangun kemandirian ekonomi dalam jangka panjang.

BAZNAS melalui berbagai program pemberdayaan terus mendorong masyarakat untuk mengembangkan potensi yang dimiliki, baik di sektor peternakan, pertanian, maupun usaha mikro lainnya.

Di kawasan Bendungan Jatigede, kebun buah naga milik Bapak Odang kini menjadi simbol kecil dari harapan besar: bahwa dengan kerja keras, pendampingan yang tepat, dan dukungan dari zakat umat, masyarakat dapat bangkit dan mandiri.

Buah-buah naga yang merah merekah itu seakan menjadi penanda bahwa dari tanah yang sederhana, lahir cerita-cerita inspiratif tentang perjuangan dan keberhasilan.

Dan di tengah berkah Ramadhan, kisah Bapak Odang mengingatkan kita bahwa zakat bukan hanya tentang memberi, tetapi juga tentang memberdayakan dan menumbuhkan harapan.

Dapatkan Update Berita dan Informasi Penyaluran Zakat, Infak, dan Sedekah.

Follow us

Copyright © 2026 BAZNAS

Kebijakan Privasi   |   Syarat & Ketentuan   |   FAQ