Di Balik Secangkir Kopi, Perjuangan Alpeng Membiayai Mimpi dari Booth ZCoffee
Di Balik Secangkir Kopi, Perjuangan Alpeng Membiayai Mimpi dari Booth ZCoffee
18/04/2026 | Humas BAZNAS RIDi sudut kampus Universitas Islam Nahdlatul Ulama Jepara, aroma kopi bukan sekadar pengundang selera. Ia membawa kisah tentang kerja keras, kemandirian, dan rasa syukur seorang mahasiswa yang berjuang membiayai pendidikannya sendiri.
Muhammad Alfa Khoiruzzulfa, atau yang akrab disapa Alpeng, menjalani hari-harinya tak hanya sebagai mahasiswa Fakultas Syariah dan Hukum, tetapi juga sebagai pengelola booth ZCoffee di lingkungan kampus. Di tengah kesibukan akademik, ia meracik kopi, melayani pelanggan, dan menjaga usahanya tetap berjalan.
Di Jepara, tempat ia merantau, Alpeng menemukan cara untuk bertahan. Setiap harinya, sekitar 25 cup minuman terjual dari booth kecilnya, dengan omzet rata-rata Rp350 ribu. Pada hari-hari tertentu, angka itu bahkan bisa menembus Rp500 ribu.
Menu Banana Coffee dan Butterscotch menjadi favorit mahasiswa, sementara Matcha banyak diminati mahasiswi. Namun di balik pilihan rasa itu, ada cerita yang lebih dalam—tentang bagaimana setiap transaksi menjadi bagian dari perjuangan hidup.
Sebagai perantau dari Purwodadi, Alpeng sadar bahwa hidup mandiri bukan perkara mudah. Ia harus mengatur keuangan dengan cermat, membagi waktu antara kuliah dan bekerja, serta menjaga semangat di tengah keterbatasan.
Namun, di tengah semua itu, ia menyimpan rasa syukur yang tak pernah padam.
“Saya sangat bersyukur bisa diberi kesempatan ini. Dari ZCoffee, saya bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari sampai biaya kuliah. Ini bukan hanya pekerjaan, tapi jalan untuk terus melangkah dan mengejar cita-cita,” ungkapnya dengan tulus.
Bagi Alpeng, ZCoffee bukan sekadar tempat mencari penghasilan. Ia adalah ruang belajar tentang tanggung jawab, ketekunan, dan arti perjuangan. Program pemberdayaan ini telah memberinya peluang untuk berdiri di atas kaki sendiri—sesuatu yang mungkin dulu terasa jauh.
Dalam monitoring yang dilakukan oleh pendamping program, upaya dan kegigihan Alpeng mendapat apresiasi. Ia juga didorong untuk mengembangkan usahanya lebih lanjut, salah satunya dengan menambah produk pendamping seperti camilan agar omzet dapat terus meningkat.
Namun lebih dari sekadar strategi bisnis, kisah Alpeng adalah tentang harapan yang dirawat setiap hari.
Di balik setiap cangkir kopi yang ia sajikan, ada mimpi yang sedang ia bangun perlahan. Dengan rasa syukur sebagai bahan bakarnya, Alpeng membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang, melainkan titik awal untuk tumbuh dan melangkah lebih jauh.
Dapatkan Update Berita dan Informasi Penyaluran Zakat, Infak, dan Sedekah.
Follow us