Dari Lemper Polos ke Produk Berlabel, Kisah Siti Murjiah Menjemput Asa Lewat “Mama Amel”
Dari Lemper Polos ke Produk Berlabel, Kisah Siti Murjiah Menjemput Asa Lewat “Mama Amel”
15/04/2026 | Humas BAZNAS RIAroma harum lemper hangat telah menjadi saksi perjalanan panjang seorang ibu bernama Siti Murjiah. Selama tujuh tahun, ia menekuni usaha kecilnya dengan penuh ketekunan. Namun, di balik cita rasa yang digemari pelanggan, ada satu hal yang selalu absen: identitas.
Lemper buatannya dijual apa adanya—tanpa kemasan, tanpa merek, tanpa label. Seolah hanya menjadi bagian dari keramaian pasar, tanpa pernah benar-benar “terlihat”.
Namun, cerita itu kini berubah.
Pada Selasa (14/04), harapan baru datang mengetuk pintu rumahnya. Muhammad Ikhza, pendamping program, hadir membawa lebih dari sekadar kunjungan. Ia membawa perubahan—kemasan produk baru dari OPPM BAZNAS RI, sebuah langkah kecil yang berdampak besar bagi usaha Siti.
Dari situlah lahir sebuah nama yang hangat dan penuh makna: “Kue Lemper Mama Amel.”
Nama itu bukan sekadar label. Ia adalah cerita. Diambil dari nama panggilan putrinya, Amel, brand tersebut menjadi simbol cinta, harapan, dan identitas baru bagi usaha yang selama ini berjalan dalam kesederhanaan.
“Alhamdulillah, sekarang usaha saya sudah punya kemasan yang lebih bagus. Kalau ada pesanan, apalagi dalam jumlah banyak atau dijual per paket, kelihatan lebih rapi dan menarik,” ujar Siti dengan mata berbinar.
Perubahan ini bukan hanya soal tampilan. Ia membawa dampak nyata. Lemper yang sebelumnya dijual seharga seribu hingga dua ribu rupiah per buah, kini memiliki nilai tambah. Pelanggan tak lagi sekadar membeli makanan, tapi juga merasakan profesionalitas dan kepercayaan dari sebuah produk yang punya identitas.
Omzet harian Siti pun perlahan meningkat, kini berada di kisaran Rp250.000 hingga Rp300.000. Angka yang mungkin sederhana bagi sebagian orang, tetapi bagi Siti, itu adalah bukti bahwa usaha kecilnya sedang bertumbuh.
“Dari awal ikut program, alhamdulillah usaha kami terus berkembang. Semoga dengan kemasan baru ini makin banyak pelanggan yang tertarik,” tuturnya penuh harap.
Bagi Muhammad Ikhza, perubahan ini adalah bagian dari proses panjang pemberdayaan. Ia menegaskan bahwa kemasan bukan sekadar pembungkus, melainkan pintu masuk menuju daya saing yang lebih luas.
“Melalui kemasan yang lebih baik, kita ingin membantu mitra agar produknya punya identitas dan mampu bersaing di pasaran. Ini juga bentuk komitmen kami dalam mendorong usaha mitra naik kelas,” jelasnya.
Lebih dari itu, para mitra binaan juga terus didorong untuk aktif mengikuti berbagai program pendampingan—mulai dari pelatihan, penguatan usaha, hingga fasilitasi legalitas dan pemasaran. Semua dilakukan agar mereka tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang.
Kisah Siti Murjiah adalah potret kecil dari misi besar: mengubah keterbatasan menjadi kekuatan. Dari usaha tanpa kemasan, kini menjadi produk berlabel. Dari sekadar bertahan, perlahan menuju kemandirian.
Di balik setiap lemper yang kini terbungkus rapi dengan label “Mama Amel”, tersimpan cerita tentang perjuangan, harapan, dan keyakinan bahwa setiap usaha—sekecil apa pun—punya peluang untuk tumbuh.
Dan mungkin, suatu hari nanti, dari tangan yang sama, bukan hanya lemper yang dibagikan… tetapi juga inspirasi bagi banyak orang.
Dapatkan Update Berita dan Informasi Penyaluran Zakat, Infak, dan Sedekah.
Follow us