Dari Kedelai Menjadi Harapan, Ketekunan Nadriyatul Menjaga Asa Lewat Tempe
Dari Kedelai Menjadi Harapan, Ketekunan Nadriyatul Menjaga Asa Lewat Tempe
17/09/2026 | Humas BAZNAS RIDari rumah sederhana di Desa Rejosari, Kecamatan Karangawen, Kabupaten Demak, harapan itu tumbuh setiap hari. Bukan dalam bentuk yang mewah, melainkan dari kedelai yang diolah dengan telaten hingga menjadi tempe dan kemudian sampai ke tangan para pelanggan.
Di tengah rutinitas itulah Nadriyatul menjalankan usaha produksi tempe yang telah menjadi sumber penghasilan bagi keluarganya. Sebagai mitra binaan BMD Bedono sekaligus mustahik BAZNAS, ia terus menjaga usaha tersebut dengan ketekunan dan semangat.
Setiap hari, sekitar 25 kilogram kedelai impor disiapkan sebagai bahan baku. Dengan harga sekitar Rp11.000 per kilogram, kedelai itu melalui sejumlah tahapan sebelum akhirnya menjadi tempe yang siap dipasarkan.
Bagi Nadriyatul, setiap proses memiliki arti. Ada pekerjaan yang harus dilakukan dengan teliti, ada kualitas yang harus dijaga, dan ada pelanggan yang harus terus dilayani.
Tempe produksinya dikemas dalam beberapa ukuran sesuai kebutuhan konsumen. Sebagian dijual dengan harga Rp5.000, sementara kemasan lainnya dipasarkan seharga Rp2.500.
Dari penjualan tersebut, usaha Nadriyatul mampu menghasilkan omzet sekitar Rp550.000 per hari, dengan laba bersih kurang lebih Rp150.000 per hari.
Penghasilan itu menjadi bagian penting dalam menopang kebutuhan keluarga. Karena itu, produksi tidak sekadar menjadi aktivitas rutin, tetapi juga ikhtiar untuk menjaga agar roda kehidupan keluarga terus berjalan.
“Alhamdulillah, saya bersyukur masih diberi kesempatan untuk terus berusaha. Dari usaha tempe ini, saya bisa mendapatkan penghasilan untuk keluarga. Semoga usaha ini terus berjalan dan bisa membawa keberkahan,” ujar Nadriyatul.
Menjaga Kualitas, Merawat Kepercayaan
Di tengah persaingan usaha tempe di tingkat lokal, Nadriyatul memahami bahwa pelanggan membutuhkan alasan untuk kembali membeli.
Ia pun berusaha menjaga kualitas sejak proses awal. Salah satunya dengan memastikan kulit kedelai yang digunakan dalam pembuatan tempe dibersihkan hingga sekitar 90 persen.
Menurut Nadriyatul, proses tersebut membantu menghasilkan tempe dengan tampilan yang lebih baik. Tempe produksinya juga diupayakan dapat bertahan lebih lama tanpa menggunakan bahan pengawet.
Perhatian terhadap proses itu perlahan membangun kepercayaan pelanggan. Masyarakat Desa Rejosari menjadi pasar utama bagi produk tempenya. Selain melayani pembelian secara langsung, Nadriyatul juga menitipkan tempe di sejumlah warung di sekitar desa.
Pelanggan tetap menjadi bagian penting dalam perjalanan usaha tersebut. Dari pembelian yang berulang, terbentuk kepercayaan yang membuat usaha rumahan itu mampu terus bertahan.
Menjalani Hari dengan Tekun
Tidak ada proses instan dalam usaha yang dijalankan Nadriyatul. Setiap hari ia kembali berhadapan dengan bahan baku, proses produksi, pengemasan, hingga pemasaran.
Rutinitas itu mungkin tampak sederhana. Namun di baliknya ada ketekunan untuk terus bekerja dan keyakinan bahwa setiap usaha yang dilakukan dengan sungguh-sungguh memiliki nilai.
Bagi Nadriyatul, membuat tempe bukan hanya tentang mengubah kedelai menjadi makanan yang bernilai jual. Lebih dari itu, usaha tersebut menjadi jalan untuk memperoleh penghasilan dan memenuhi kebutuhan keluarga.
Ia memilih bertahan dengan apa yang bisa dikerjakan. Dari lingkungan sekitar, ia membangun pasar. Dari kualitas produk, ia merawat kepercayaan. Dan dari keuntungan yang diperoleh setiap hari, ia melanjutkan kembali usahanya.
“Saya sangat bersyukur. Meskipun hasilnya tidak besar, yang penting usaha ini bisa terus berjalan dan ada rezeki untuk keluarga. Saya ingin terus berusaha selama masih diberi kemampuan,” ungkap Nadriyatul.
Harapan Nadriyatul pun sederhana: usaha yang telah dijalaninya dapat terus bertahan dan berkembang.
Di Desa Rejosari, harapan itu hadir dalam bentuk yang begitu dekat dengan keseharian—dari kedelai yang diolah, tempe yang dibungkus, warung yang menjadi tempat menitipkan dagangan, hingga pelanggan yang datang kembali.
Setiap hari, Nadriyatul kembali memulai proses yang sama. Mengolah kedelai, menjaga kualitas, dan menjual hasilnya.
Sebab baginya, setiap tempe yang berhasil diproduksi bukan hanya mendatangkan omzet. Di baliknya ada ikhtiar, rasa syukur, dan harapan agar keluarganya tetap memiliki jalan untuk melangkah.
Dapatkan Update Berita dan Informasi Penyaluran Zakat, Infak, dan Sedekah.
Follow us