Dari Hasil Panen Petani, 55 Mustahik Desa Kwalagunung Merasakan Manfaat

Dari Hasil Panen Petani, 55 Mustahik Desa Kwalagunung Merasakan Manfaat

20/08/2026 | Humas BAZNAS RI

Ketika hasil panen tak hanya menghidupi keluarga, tetapi juga mengalir menjadi kebaikan bagi sesama, di situlah keberkahan menemukan maknanya.

Semangat itu tumbuh di Desa Kwalagunung, Kecamatan Datuk Lima Puluh, Kabupaten Batu Bara, Sumatra Utara. Sebanyak 55 mustahik menerima bantuan Zakat, Infak, dan Sedekah (ZIS) yang bersumber dari kontribusi Petani Binaan BAZNAS RI.

Penyaluran tersebut menjadi gambaran sederhana tentang bagaimana keberhasilan seorang petani dapat melampaui batas lahan dan keluarganya. Hasil usaha yang diperoleh dari bertani dikembalikan dalam bentuk kepedulian kepada masyarakat yang membutuhkan.

Di tengah aktivitas pertanian yang menjadi denyut kehidupan Desa Kwalagunung, para petani binaan menunjukkan bahwa menjadi petani bukan hanya tentang menanam, merawat, dan memanen. Ada nilai berbagi yang turut tumbuh bersama tanaman yang mereka rawat.

Dari Petani untuk Sesama

Dalam penyaluran kali ini, setiap mustahik menerima 10 kilogram beras medium dan santunan tunai Rp100.000.

Para penerima berasal dari berbagai kelompok masyarakat yang membutuhkan. Terdiri atas 2 orang mualaf, 6 orang fisabilillah, 21 orang fakir, dan 26 orang miskin, bantuan tersebut diharapkan dapat meringankan kebutuhan sehari-hari sekaligus menghadirkan rasa kepedulian bagi para penerima manfaat.

Pendamping Lumbung Pangan BAZNAS RI Kabupaten Batu Bara turut hadir dalam kegiatan tersebut. Kehadirannya menjadi bagian dari pendampingan dan penguatan program yang tidak hanya berorientasi pada peningkatan kapasitas petani, tetapi juga mendorong tumbuhnya kebermanfaatan sosial.

Bantuan yang disalurkan mungkin tidak menyelesaikan seluruh persoalan penerima manfaat. Namun, dari beras yang dapat dibawa pulang dan santunan yang diterima, terselip pesan bahwa mereka tidak berjalan sendiri. Ada tangan-tangan yang bekerja di sawah dan kemudian memilih untuk berbagi hasil perjuangannya.

Petani Tumbuh, Masyarakat Ikut Tumbuh

Semangat berbagi tersebut berjalan beriringan dengan upaya membangun kemandirian petani. Melalui Program Lumbung Pangan, petani tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan hasil pertanian, tetapi juga didorong agar memiliki posisi ekonomi yang lebih kuat dan tidak bergantung kepada agen maupun tengkulak.

Prinsipnya sederhana: petani harus tumbuh dan mandiri, sehingga manfaat pertanian dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat.

Karena itu, kegiatan di Desa Kwalagunung tidak berhenti pada penyaluran ZIS. Momentum tersebut sekaligus mempertemukan berbagai unsur yang memiliki peran dalam keberlanjutan pertanian dan kehidupan masyarakat, mulai dari BAZNAS, pemerintah desa dan kecamatan, penyuluh pertanian, Kementerian Agama, kelompok tani, hingga tokoh masyarakat.

Sinergi menjadi penting agar program Lumbung Pangan dapat terus berjalan dan memberikan dampak yang lebih panjang.

Menyiapkan Musim Tanam, Menyiapkan Harapan

Di sela kegiatan penyaluran ZIS, para pemangku kepentingan juga membahas dan menetapkan tanggal mulai tanam (MT) yang menjadi agenda rutin di Desa Kwalagunung.

Bagi masyarakat petani, penetapan masa tanam bukan sekadar menentukan tanggal di kalender. Ia menjadi langkah awal untuk mempersiapkan musim berikutnya—mengatur kegiatan pertanian, memperkuat koordinasi, dan memastikan proses budidaya dapat berlangsung lebih terarah.

Di satu sisi, ada beras dan santunan yang disalurkan kepada mereka yang membutuhkan. Di sisi lain, ada persiapan lahan dan musim tanam untuk memastikan roda pertanian terus berputar.

Keduanya bertemu dalam satu semangat: membangun kesejahteraan secara bersama-sama.

Kegiatan tersebut dihadiri Komisioner BAZNAS Kabupaten Batu Bara, perwakilan BPP/Penyuluh Pertanian Kabupaten Batu Bara, Kementerian Agama Kabupaten Batu Bara, Camat Datuk Lima Puluh, Kepala Desa Kwalagunung, pengurus dan anggota kelompok tani, serta tokoh masyarakat.

Ketika Panen Berubah Menjadi Cahaya

Kisah 55 mustahik di Kwalagunung menjadi pengingat bahwa keberhasilan tidak harus berhenti pada diri sendiri.

Ada keberkahan ketika hasil pertanian mampu menjadi sumber pangan. Ada keberkahan yang lebih luas ketika sebagian hasil tersebut menjadi ZIS dan membantu mereka yang membutuhkan.

Dari tangan para petani, kebaikan bergerak menuju rumah-rumah mustahik. Dari sawah, tumbuh bukan hanya pangan, tetapi juga kepedulian.

Inilah semangat “petani tumbuh, masyarakat ikut tumbuh.”

Sebab, pertanian bukan sekadar tentang ketahanan pangan. Dengan kemandirian, pendampingan, dan semangat berbagi, pertanian juga dapat menjadi jalan untuk membangun ketahanan sosial.

Dan di Desa Kwalagunung, cahaya itu hadir sederhana: dari hasil perjuangan para petani, menjadi beras dan santunan, lalu berubah menjadi harapan bagi 55 keluarga penerima manfaat.

Dapatkan Update Berita dan Informasi Penyaluran Zakat, Infak, dan Sedekah.

Follow us

Copyright © 2026 BAZNAS

Kebijakan Privasi   |   Syarat & Ketentuan   |   FAQ