Tak Hanya Sembako, Es Krim Jadi Primadona di Warung ZMart Manisih

Cerita Warung ZMart Manisih yang Terus Berkembang Bersama BAZNAS

07/04/2026 | Humas BAZNAS RI

Denyut kehidupan terasa hangat dari sebuah warung kecil milik Manisih, di Desa Bugel, Kecamatan Kedung, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Warung ZMart itu mungkin tak tampak istimewa bagi sebagian orang, namun di balik rak-rak sederhana berisi kebutuhan harian, tersimpan kisah ketekunan, harapan, dan ketangguhan seorang perempuan yang menjadi penopang utama keluarganya.

Ramadan selalu membawa cerita tersendiri bagi banyak orang, termasuk bagi Manisih. Bulan suci itu menghadirkan sedikit angin segar dalam perputaran usahanya. Jika pada hari biasa omzet warungnya kerap berada di bawah Rp250.000, selama Ramadan pendapatannya perlahan merangkak naik hingga di atas Rp300.000 per hari. Bagi sebagian orang, angka itu mungkin terasa biasa saja. Namun bagi perempuan berusia 52 tahun itu, peningkatan tersebut adalah berkah yang layak disyukuri.

“Alhamdulillah, meskipun kenaikannya tidak seberapa, saya sangat bersyukur. Yang penting cukup untuk kebutuhan sehari-hari dan terus berputar,” tuturnya dengan senyum yang tak pernah lepas dari wajahnya.

Warung kecil itu tidak dipenuhi stok melimpah atau etalase modern. Namun Manisih memahami betul kebutuhan warga sekitar. Ia menghadirkan beragam barang, mulai dari sembako, sayuran segar, hingga kebutuhan sanitasi. Menariknya, di antara kebutuhan pokok tersebut, ada satu jenis dagangan yang justru menjadi primadona, terutama bagi anak-anak: es krim dan es lilin.

Di tengah cuaca hangat dan suasana Ramadan yang penuh aktivitas, kesegaran sederhana dari es krim menjadi daya tarik tersendiri. Anak-anak yang datang dengan mata berbinar, memilih es favorit mereka, menjadi pemandangan yang menghadirkan keceriaan di warung itu. Bagi Manisih, hal-hal kecil seperti itulah yang ikut menghidupkan usahanya.

Perjuangan Manisih tidak berhenti di balik meja warung. Dengan kondisi sang suami yang sudah tidak lagi bekerja, ia memikul peran penting sebagai tulang punggung keluarga. Namun alih-alih menyerah pada keadaan, ia justru memperluas usahanya. Dengan keterampilan menjahit yang dimiliki, Manisih membuka jasa jahit untuk menambah penghasilan.

Dari jahitan demi jahitan, serta dari transaksi kecil di warungnya, roda kehidupan keluarga terus berputar. Tidak ada kemewahan, tetapi ada keteguhan. Tidak ada kelimpahan, tetapi ada kecukupan yang dirawat dengan penuh syukur.

"Terima kasih muzaki yang telah berzakat melalui BAZNAS, sehingga sangat membantu kami," ucapnya penuh haru.

Kisah Manisih adalah potret nyata bahwa ketangguhan tidak selalu hadir dalam skala besar. Ia tumbuh dari hal-hal sederhana: dari warung kecil, dari tangan yang tak lelah bekerja, dan dari hati yang tak pernah berhenti bersyukur. Di usianya yang tak lagi muda, Manisih membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah alasan untuk berhenti melangkah, melainkan pijakan untuk terus bertahan dan berharap.

Dapatkan Update Berita dan Informasi Penyaluran Zakat, Infak, dan Sedekah.

Follow us

Copyright © 2026 BAZNAS

Kebijakan Privasi   |   Syarat & Ketentuan   |   FAQ