Asap Gurih di Gerbang Kampus, Langkah Kemandirian Imam Bersama ZChicken

Asap Gurih di Gerbang Kampus, Langkah Kemandirian Imam Bersama ZChicken

27/08/2026 | Humas BAZNAS RI

Di tepi Jalan Arif Rahman Hakim, Telanaipura, aroma gurih ayam goreng tepung selalu menyambut siapapun yang melintas menjelang siang. Di balik gerai sederhana bercat jingga-hijau khas ZChicken yang berdiri tepat di depan kampus Universitas Jambi (UNJA), berdiri seorang pemuda bernama Imam. Tangannya sigap menepuk-nepuk adonan, membalik ayam dalam minyak panas, lalu meracik sambal geprek pesanan pelanggan.

Bagi mahasiswa seusianya, masa muda sering kali dihabiskan untuk nongkrong atau fokus berkutat dengan tugas kuliah semata. Namun, Imam memilih jalur yang lebih menantang: menjemput kemandirian ekonomi dari gerobak usaha.

Langkah Imam tak berdiri di atas angin hampa. Di balik ketukan penggorengan dan harumnya rempah, ada peranan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) yang menjadi pijakan awalnya. Lewat program pemberdayaan ekonomi ZChicken—sebuah inisiatif berbasis zakat produktif yang dirancang untuk mengubah mustahik (penerima zakat) menjadi muzakki (pemberi zakat)—BAZNAS tidak sekadar memberikan bantuan modal cuma-cuma, melainkan sebuah ekosistem pendampingan berkesinambungan.

Imam dibekali pelatihan modal usaha, standar kualitas masakan, hingga strategi manajemen keuangan modal kecil. Pendampingan ini terbukti menjadi benteng kokoh saat badai persaingan kuliner dan fluktuasi harga bahan baku mulai melanda.

Ketika harga minyak goreng dan daging ayam melonjak di pasaran, bisnis kuliner skala kecil adalah yang paling rentan gulung tikar. Imam tak menampik realita itu. Namun, berkat ketahanan usaha yang diasah melalui bimbingan BAZNAS, ia mengambil keputusan terukur: menyesuaikan harga paket ayam gepreknya dari Rp10.000 menjadi Rp13.000.

Penyesuaian itu dilakukan tanpa memotong kualitas rasa maupun porsi. Hasilnya? Pelanggan—yang mayoritas rekan sesama mahasiswa dan warga sekitar—tetap setia mengantre.

"Kuncinya ada di kualitas dan pelayanan," ujar Imam, tentang prinsip yang selalu dipegangnya.

Kini, dari lapak kecil di depan gerbang UNJA tersebut, Imam mampu membukukan omzet harian mencapai Rp300.000 hingga Rp400.000. Angka ini bukan sekadar deretan nominal di buku catatan keuangan, melainkan simbol kebebasan finansial seorang mahasiswa. Hasil usahanya kini mampu menyokong biaya kuliah mandiri sekaligus merobohkan beban ekonomi yang sebelumnya bergelayut di pundak orang tuanya.

Kisah Imam dan ZChicken di Telanaipura adalah bukti nyata bagaimana pengelolaan dana zakat yang tepat sasaran mampu menghidupkan asa. BAZNAS tidak hanya menyalurkan bantuan untuk menyambung hidup sehari, tetapi juga membukakan jalan panjang bagi anak-anak muda untuk berdiri di atas kaki sendiri.

Dapatkan Update Berita dan Informasi Penyaluran Zakat, Infak, dan Sedekah.

Follow us

Copyright © 2026 BAZNAS

Kebijakan Privasi   |   Syarat & Ketentuan   |   FAQ