Tradisi Menjelang Ramadan di Indonesia: Antara Budaya, Ibadah, dan Solidaritas

Tradisi Menjelang Ramadan di Indonesia: Antara Budaya, Ibadah, dan Solidaritas

Tradisi Menjelang Ramadan di Indonesia: Antara Budaya, Ibadah, dan Solidaritas

13/02/2026 | Humas BAZNAS

Tradisi Menjelang Ramadan selalu menjadi momen istimewa bagi umat Islam di Indonesia. Sebagai negeri dengan mayoritas penduduk Muslim terbesar di dunia, Indonesia memiliki kekayaan budaya yang berpadu harmonis dengan nilai-nilai Islam. Tradisi Menjelang Ramadan bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan bagian dari ekspresi iman, bentuk persiapan spiritual, sekaligus sarana mempererat solidaritas sosial di tengah masyarakat.

 

Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi juga momentum penyucian jiwa, memperbaiki hubungan dengan Allah SWT, dan memperkuat ukhuwah sesama manusia. Oleh karena itu, Tradisi Menjelang Ramadan di berbagai daerah di Indonesia lahir sebagai wujud kesiapan lahir dan batin dalam menyambut bulan suci yang penuh rahmat dan ampunan.

 

Makna Spiritual Tradisi Menjelang Ramadan

 

Tradisi Menjelang Ramadan memiliki makna yang sangat dalam bagi umat Islam. Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman:

 

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah: 183)

 

Ayat ini menegaskan bahwa tujuan utama Ramadan adalah membentuk ketakwaan. Maka, berbagai Tradisi Menjelang Ramadan sejatinya menjadi sarana untuk mempersiapkan hati agar lebih siap menjalankan ibadah puasa dengan penuh kesadaran dan keikhlasan.

 

Rasulullah SAW pun memberikan teladan untuk mempersiapkan diri sebelum Ramadan, seperti memperbanyak puasa sunnah di bulan Sya’ban. Dalam hadis riwayat Imam Bukhari dan Muslim disebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW memperbanyak puasa di bulan tersebut sebagai bentuk persiapan menyambut Ramadan.

 

Dengan demikian, Tradisi Menjelang Ramadan bukan sekadar kebiasaan turun-temurun, tetapi memiliki nilai ibadah jika diniatkan karena Allah SWT.

 

Ragam Tradisi Menjelang Ramadan di Berbagai Daerah

 

Indonesia memiliki beragam Tradisi Menjelang Ramadan yang unik dan sarat makna. Meskipun bentuknya berbeda-beda, tujuannya tetap sama, yaitu menyambut bulan suci dengan hati yang bersih dan penuh kegembiraan.

 

1. Tradisi Nyadran

 

Tradisi Nyadran banyak dilakukan oleh masyarakat di Jawa Tengah dan Yogyakarta. Dalam tradisi ini, masyarakat melakukan ziarah kubur, membersihkan makam keluarga, dan memanjatkan doa bersama.

 

Secara syariat, ziarah kubur dianjurkan sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

 

“Dahulu aku melarang kalian berziarah kubur, maka sekarang berziarahlah, karena itu dapat mengingatkan kalian kepada akhirat.”
(HR. Muslim)

 

Tradisi Menjelang Ramadan seperti Nyadran menjadi sarana mengingat kematian dan memperkuat kesadaran spiritual sebelum memasuki bulan penuh ibadah. Selama tidak mengandung unsur syirik atau keyakinan yang menyimpang, tradisi ini dapat menjadi pengingat akan kehidupan akhirat.

 

2. Tradisi Mandi Balimau

 

Di Riau dan Sumatera Barat, masyarakat mengenal tradisi Mandi Balimau atau Balimau Kasai. Tradisi ini dilakukan dengan mandi menggunakan air yang dicampur jeruk nipis atau limau sebagai simbol pembersihan diri.

 

Secara makna, Tradisi Menjelang Ramadan ini melambangkan penyucian diri lahir dan batin. Meski Islam tidak mensyariatkan mandi khusus sebelum Ramadan, nilai simbolisnya tetap dapat dimaknai sebagai bentuk kesiapan spiritual. Hal yang terpenting adalah menjaga agar pelaksanaannya tetap sesuai dengan adab dan tidak bercampur dengan perbuatan yang melanggar syariat.

 

3. Dugderan di Semarang

 

Di Semarang, terdapat tradisi Dugderan yang telah berlangsung sejak abad ke-19. Tradisi ini ditandai dengan bunyi bedug dan suara meriam sebagai tanda datangnya Ramadan.

 

Dugderan menjadi perpaduan antara budaya lokal dan syiar Islam. Selain sebagai penanda masuknya bulan suci, tradisi ini juga menghadirkan pasar rakyat yang menggerakkan perekonomian masyarakat. Tradisi Menjelang Ramadan seperti Dugderan menunjukkan bahwa Islam dan budaya dapat berjalan berdampingan selama tidak bertentangan dengan ajaran agama.

 

4. Meugang di Aceh

 

Masyarakat Aceh memiliki tradisi Meugang, yaitu memasak dan menikmati hidangan daging bersama keluarga sebelum Ramadan.

 

Tradisi ini mencerminkan rasa syukur dan kebersamaan. Dalam Islam, mempererat silaturahmi dan berbagi makanan merupakan amalan yang dianjurkan. Rasulullah SAW bersabda:

 

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

 

Melalui Tradisi Menjelang Ramadan seperti Meugang, nilai solidaritas dan kepedulian sosial semakin diperkuat. Bahkan, masyarakat yang mampu biasanya berbagi daging kepada tetangga yang kurang mampu sebagai bentuk kepedulian.

 

Tradisi Menjelang Ramadan sebagai Penguat Solidaritas

 

Salah satu aspek terpenting dari Tradisi Menjelang Ramadan adalah meningkatnya kepedulian sosial. Masyarakat mulai saling memaafkan, membersihkan hati dari dendam, dan mempererat hubungan kekeluargaan.

 

Budaya saling memaafkan sebelum Ramadan selaras dengan ajaran Islam tentang pentingnya menjaga ukhuwah. Allah SWT berfirman:

 

“Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu?”
(QS. An-Nur: 22)

 

Selain itu, Tradisi Menjelang Ramadan juga sering diiringi dengan kegiatan berbagi sembako, santunan anak yatim, hingga kerja bakti membersihkan masjid. Semua ini mencerminkan bahwa Ramadan bukan hanya ibadah individual, melainkan juga momentum kolektif untuk memperbaiki kehidupan sosial.

 

Tradisi ini juga menjadi ruang pendidikan karakter bagi generasi muda. Mereka belajar tentang makna berbagi, menghormati orang tua, menjaga adat, sekaligus memahami ajaran Islam secara lebih kontekstual.

 

Perspektif Syariat terhadap Tradisi Menjelang Ramadan

 

Dalam Islam, adat atau tradisi dikenal dengan istilah ‘urf. Para ulama menjelaskan bahwa tradisi boleh dilakukan selama tidak bertentangan dengan Al-Qur’an dan Sunnah.

 

Imam As-Suyuthi dalam kitab Al-Asybah wan Nazhair menjelaskan kaidah:

 

“Al-‘adah muhakkamah” (adat kebiasaan dapat dijadikan pertimbangan hukum).

 

Artinya, Tradisi Menjelang Ramadan dapat diterima selama tidak mengandung unsur syirik, maksiat, atau pelanggaran syariat. Jika tradisi tersebut mengandung nilai silaturahmi, sedekah, dan pengingat akhirat, maka justru dapat bernilai ibadah.

 

Sebagai umat Islam, kita perlu bijak dalam menyikapi tradisi. Jangan sampai budaya menggeser esensi ibadah, namun jadikan budaya sebagai sarana dakwah dan penguatan nilai Islam.

 

Relevansi Tradisi Menjelang Ramadan di Era Modern

 

Di tengah arus globalisasi dan modernisasi, Tradisi Menjelang Ramadan tetap relevan sebagai pengikat identitas keislaman dan kebangsaan. Generasi muda perlu dikenalkan pada makna di balik tradisi, bukan sekadar mengikuti tanpa pemahaman.

 

Saat ini, semangat menyambut Ramadan juga terlihat melalui berbagai kegiatan kajian, pesantren kilat, kampanye sedekah, serta gerakan sosial di media digital. Nilai-nilai dalam Tradisi Menjelang Ramadan tetap hidup, meskipun bentuknya menyesuaikan perkembangan zaman.

 

Namun demikian, esensi Tradisi Menjelang Ramadan harus tetap dijaga, yaitu memperbanyak taubat, memperdalam ilmu agama, melunasi utang puasa, memperbaiki hubungan dengan sesama, serta memperbanyak amal saleh sebelum datangnya bulan suci.

 

Menjadikan Tradisi Menjelang Ramadan sebagai Jalan Menuju Ketakwaan

 

Tradisi Menjelang Ramadan di Indonesia adalah cerminan kekayaan budaya yang berpadu dengan nilai-nilai Islam. Dari Nyadran di Jawa, Balimau di Sumatera, Dugderan di Semarang, hingga Meugang di Aceh, semuanya menunjukkan bahwa umat Islam Indonesia menyambut Ramadan dengan penuh kegembiraan dan kesadaran spiritual.

 

Sebagai muslim, kita hendaknya memaknai Tradisi Menjelang Ramadan bukan sekadar seremoni tahunan, tetapi sebagai momentum muhasabah diri. Bersihkan hati, perbaiki niat, perkuat silaturahmi, dan siapkan amal terbaik untuk Ramadan.

 

Semoga setiap Tradisi Menjelang Ramadan yang kita jalani menjadi wasilah untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, mempererat persaudaraan, dan meraih derajat takwa sebagaimana tujuan utama diwajibkannya puasa.

 

Marhaban ya Ramadan. Semoga kita semua dipertemukan dengan bulan suci dalam keadaan iman yang kuat dan hati yang bersih.

 

 

Dapatkan Update Berita dan Informasi Penyaluran Zakat, Infak, dan Sedekah.

Follow us

Copyright © 2026 BAZNAS

Kebijakan Privasi   |   Syarat & Ketentuan   |   FAQ