Siapa Itu Mustahik: Memahami 8 Golongan Penerima Zakat
Siapa Itu Mustahik: Memahami 8 Golongan Penerima Zakat
18/02/2026 | Humas BAZNASZakat merupakan salah satu rukun Islam yang memiliki peran besar dalam menciptakan keadilan sosial dan kesejahteraan umat. Melalui zakat, harta yang dimiliki seorang muslim tidak hanya menjadi sarana ibadah, tetapi juga alat untuk membantu sesama. Dalam praktiknya, zakat tidak diberikan secara sembarangan, melainkan disalurkan kepada pihak yang berhak menerimanya. Di sinilah pentingnya memahami siapa itu mustahik agar zakat tersalurkan secara tepat dan sesuai syariat.
Banyak umat Islam masih bertanya-tanya tentang siapa itu mustahik dan siapa saja yang berhak menerima zakat. Memahami konsep ini tidak hanya membantu muzaki menunaikan kewajibannya dengan benar, tetapi juga memperkuat semangat kepedulian sosial dalam kehidupan bermasyarakat. Islam telah mengatur secara jelas delapan golongan yang berhak menerima zakat sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an.
Pengertian Mustahik dalam Islam
Secara bahasa, mustahik berasal dari kata istahaqqa yang berarti berhak atau layak menerima sesuatu. Dalam konteks zakat, mustahik adalah orang atau kelompok yang berhak menerima Zakat sesuai ketentuan syariat Islam.
Mengetahui siapa itu mustahik sangat penting karena zakat merupakan amanah yang harus disalurkan kepada pihak yang tepat. Kesalahan dalam penyaluran dapat mengurangi nilai ibadah zakat itu sendiri. Oleh karena itu, pemahaman yang benar mengenai mustahik menjadi bagian dari kesempurnaan ibadah seorang muslim.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
“Sesungguhnya zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang miskin, amil zakat, para muallaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berutang, untuk jalan Allah dan untuk orang yang sedang dalam perjalanan…”
(QS. At-Taubah: 60)
Ayat ini menjadi landasan utama dalam menentukan siapa itu mustahik dan kelompok yang berhak menerima zakat.
Mengapa Penting Memahami Siapa Itu Mustahik
Memahami siapa itu mustahik bukan sekadar pengetahuan agama, tetapi memiliki dampak sosial yang besar. Zakat yang disalurkan kepada pihak yang tepat akan:
-
Mengurangi kemiskinan dan kesenjangan sosial
-
Membantu masyarakat yang kesulitan ekonomi
-
Meningkatkan kesejahteraan umat
-
Memperkuat ukhuwah Islamiyah
-
Mendorong pemerataan ekonomi
Dengan memahami mustahik, zakat menjadi instrumen nyata dalam membangun keadilan sosial sesuai ajaran Islam.
8 Golongan Mustahik Penerima Zakat
Islam telah menetapkan delapan golongan mustahik yang berhak menerima Zakat. Berikut penjelasannya:
1. Fakir
Fakir adalah orang yang hampir tidak memiliki harta maupun penghasilan untuk memenuhi kebutuhan dasar hidupnya. Mereka hidup dalam kondisi sangat kekurangan dan membutuhkan bantuan untuk bertahan hidup.
Golongan fakir menjadi prioritas utama dalam penyaluran zakat karena tingkat kebutuhan mereka sangat mendesak.
2. Miskin
Miskin adalah orang yang memiliki penghasilan, tetapi tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari. Mereka masih mampu bekerja, namun penghasilannya belum cukup untuk hidup layak.
Perbedaan utama antara fakir dan miskin terletak pada tingkat penghasilan dan kemampuan memenuhi kebutuhan dasar.
3. Amil Zakat
Amil zakat adalah orang yang bertugas mengelola zakat, mulai dari pengumpulan, pencatatan, hingga pendistribusian kepada mustahik. Mereka berhak menerima zakat sebagai bentuk imbalan atas tugas yang dijalankan.
Keberadaan amil sangat penting agar zakat dikelola secara profesional, transparan, dan tepat sasaran.
4. Muallaf
Muallaf adalah orang yang baru masuk Islam atau mereka yang hatinya perlu dikuatkan agar semakin mantap dalam keimanan. Bantuan zakat diberikan untuk membantu mereka menyesuaikan diri dengan kehidupan baru sebagai muslim.
Zakat bagi muallaf juga berfungsi memperkuat persaudaraan dan dukungan sosial dalam komunitas Islam.
5. Riqab (Memerdekakan Budak)
Golongan riqab merujuk pada budak atau hamba sahaya yang ingin memerdekakan dirinya. Pada masa kini, ulama menafsirkan kategori ini secara kontekstual, termasuk membantu korban perdagangan manusia atau individu yang tertindas dan membutuhkan pembebasan dari ketidakadilan.
Hal ini menunjukkan bahwa Islam sangat menjunjung tinggi kebebasan dan martabat manusia.
6. Gharimin (Orang yang Berutang)
Gharimin adalah orang yang memiliki utang karena kebutuhan mendesak dan tidak mampu melunasinya. Utang tersebut bukan untuk maksiat atau pemborosan, melainkan untuk kebutuhan hidup, pendidikan, kesehatan, atau kepentingan sosial.
Zakat membantu mereka keluar dari tekanan ekonomi dan memulai kehidupan yang lebih stabil.
7. Fi Sabilillah
Fi sabilillah berarti segala kegiatan yang dilakukan di jalan Allah untuk kemaslahatan umat. Termasuk di dalamnya dakwah Islam, pendidikan, perjuangan sosial, dan kegiatan yang bertujuan menegakkan nilai-nilai kebaikan.
Dalam konteks modern, kategori ini dapat mencakup kegiatan sosial keagamaan, pendidikan Islam, dan program kemanusiaan.
8. Ibnu Sabil
Ibnu sabil adalah musafir atau orang yang sedang dalam perjalanan dan kehabisan bekal. Meskipun ia tergolong mampu di daerah asalnya, kondisi perjalanan membuatnya membutuhkan bantuan.
Zakat membantu mereka melanjutkan perjalanan dan kembali ke tempat asal dengan aman.
Memahami siapa itu mustahik merupakan bagian penting dalam menunaikan ibadah zakat secara benar dan sempurna. Islam telah menetapkan delapan golongan penerima zakat yang mencerminkan keadilan sosial dan kepedulian terhadap sesama. Dengan memahami dan menerapkan prinsip ini, zakat tidak hanya menjadi kewajiban ibadah, tetapi juga solusi nyata dalam mengatasi kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan umat.
Ketika zakat disalurkan kepada mustahik yang tepat, keberkahan tidak hanya dirasakan oleh penerima, tetapi juga oleh pemberi. Harta menjadi lebih berkah, hati menjadi lebih tenang, dan masyarakat menjadi lebih sejahtera. Oleh karena itu, memahami siapa itu mustahik adalah langkah penting untuk mewujudkan keadilan sosial dan memperkuat solidaritas umat Islam.
Dapatkan Update Berita dan Informasi Penyaluran Zakat, Infak, dan Sedekah.
Follow us