Muzaki: Kriteria Orang Wajib Berzakat
Muzaki: Kriteria Orang Wajib Berzakat
16/02/2026 | Humas BAZNASZakat merupakan salah satu rukun Islam yang memiliki peran penting dalam membangun keadilan sosial dan kesejahteraan umat. Dalam ajaran Islam, zakat tidak hanya menjadi bentuk ibadah kepada Allah SWT, tetapi juga wujud kepedulian terhadap sesama. Orang yang memiliki kewajiban menunaikan zakat disebut sebagai muzaki. Memahami siapa yang termasuk muzaki sangat penting agar seorang Muslim dapat menjalankan kewajiban agamanya dengan benar serta memastikan hartanya menjadi bersih dan berkah.
Pengertian Muzaki dalam Islam
Secara bahasa, muzaki berasal dari kata “Zakat” yang berarti suci, tumbuh, dan berkah. Dalam istilah syariat, muzaki adalah seorang Muslim yang memiliki kewajiban mengeluarkan zakat atas harta yang dimilikinya karena telah memenuhi syarat tertentu.
Kedudukan muzaki sangat penting dalam sistem ekonomi Islam. Melalui zakat yang ditunaikan oleh muzaki, keseimbangan sosial dapat terjaga, kesenjangan ekonomi dapat diperkecil, dan kesejahteraan umat dapat meningkat. Oleh karena itu, memahami status sebagai muzaki bukan sekadar persoalan hukum, tetapi juga kesadaran spiritual dan sosial.
Dasar Hukum Kewajiban Muzaki Menunaikan Zakat
Kewajiban zakat ditegaskan dalam Al-Qur’an dan hadis. Allah SWT berfirman:
“Dirikanlah salat dan tunaikanlah zakat…”
(QS. Al-Baqarah: 43)
Ayat ini menunjukkan bahwa zakat memiliki kedudukan yang sejajar dengan salat sebagai kewajiban utama umat Islam. Rasulullah SAW juga bersabda bahwa Islam dibangun atas lima perkara, salah satunya adalah menunaikan zakat.
Dengan demikian, seorang muzaki yang telah memenuhi syarat wajib zakat tidak boleh menunda atau mengabaikan kewajiban tersebut.
Kriteria Seseorang Disebut sebagai Muzaki
Tidak setiap Muslim otomatis menjadi muzaki. Islam menetapkan beberapa syarat agar seseorang berkewajiban menunaikan zakat. Berikut kriteria utama yang menjadikan seseorang sebagai muzaki:
1. Beragama Islam
Zakat merupakan ibadah wajib bagi umat Islam. Oleh karena itu, hanya seorang Muslim yang memiliki kewajiban sebagai muzaki.
2. Merdeka dan Memiliki Kepemilikan Harta Penuh
Seseorang harus memiliki kendali penuh atas hartanya. Harta yang masih menjadi sengketa atau bukan milik pribadi tidak termasuk dalam perhitungan zakat.
3. Harta Mencapai Nisab
Nisab adalah batas minimal kepemilikan harta yang mewajibkan Zakat. Jika harta belum mencapai nisab, seseorang belum termasuk muzaki.
Contoh nisab:
Zakat emas: setara 85 gram emas
Zakat perak: setara 595 gram perak
Zakat perdagangan: setara nilai 85 gram emas
Zakat pertanian: 653 kg gabah kering
4. Harta Telah Mencapai Haul
Haul berarti kepemilikan harta telah berlangsung selama satu tahun hijriyah. Syarat ini berlaku untuk zakat harta seperti tabungan, emas, dan perdagangan.
Namun, zakat pertanian, rikaz (harta temuan), dan hasil tambang tidak mensyaratkan haul.
5. Harta Berkembang atau Berpotensi Berkembang
Harta yang wajib dizakati adalah harta yang memiliki potensi berkembang atau produktif, seperti:
- uang dan tabungan
- emas dan perak
- hasil perdagangan
- investasi
- hasil pertanian
- ternak
Jika seseorang memiliki harta yang memenuhi syarat tersebut, ia termasuk muzaki dan wajib menunaikan zakat.
Jenis Harta yang Menjadikan Seseorang Muzaki
Dalam kehidupan modern, bentuk harta semakin beragam. Berikut beberapa jenis harta yang dapat menjadikan seseorang berstatus muzaki:
Zakat Penghasilan
Penghasilan rutin seperti gaji, honorarium, atau pendapatan profesional wajib dizakati jika mencapai nisab setara 85 gram emas per tahun.
Zakat Perdagangan
Pengusaha atau pedagang menjadi muzaki apabila modal usaha dan keuntungan bersih mencapai nisab.
Zakat Pertanian
Petani yang hasil panennya mencapai nisab wajib mengeluarkan zakat sebesar 5% atau 10% tergantung sistem pengairan.
Zakat Emas dan Tabungan
Emas, perhiasan yang disimpan, serta tabungan yang mencapai nisab dan haul wajib dizakati sebesar 2,5%.
Zakat Investasi dan Aset Produktif
Keuntungan dari investasi properti, saham, atau usaha produktif termasuk objek zakat.
Dengan memahami jenis harta ini, seorang Muslim dapat menyadari kapan dirinya telah menjadi muzaki dan wajib menunaikan zakat.
Perbedaan Muzaki dan Mustahik
Untuk memahami zakat secara utuh, penting membedakan antara muzaki dan mustahik.
Muzaki adalah orang yang wajib membayar zakat.
Mustahik adalah orang yang berhak menerima zakat.
Mustahik terdiri dari delapan golongan yang disebutkan dalam QS. At-Taubah ayat 60, termasuk fakir, miskin, amil zakat, dan lainnya.
Dengan memahami perbedaan ini, seorang muzaki dapat menunaikan Zakat secara tepat sasaran.
Menjadi muzaki adalah kehormatan sekaligus tanggung jawab bagi setiap Muslim yang telah memenuhi syarat wajib zakat. Dengan memahami kriteria muzaki, seorang Muslim dapat menunaikan zakat dengan kesadaran penuh, bukan sekadar kewajiban administratif, tetapi sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT.
Kesadaran sebagai muzaki juga menjadi jalan untuk membersihkan harta, menumbuhkan keberkahan, serta menghadirkan keadilan sosial dalam kehidupan bermasyarakat. Ketika zakat ditunaikan dengan benar, maka keberkahan tidak hanya dirasakan oleh penerima, tetapi juga oleh muzaki yang menunaikannya dengan ikhlas.
Oleh karena itu, mari memahami peran sebagai muzaki dan menunaikan zakat secara tepat waktu dan tepat sasaran, agar ibadah ini benar-benar menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah sekaligus menebar manfaat bagi sesama.
Dapatkan Update Berita dan Informasi Penyaluran Zakat, Infak, dan Sedekah.
Follow us