Bolehkah Zakat Fitrah Dibayar dengan Uang, Ini Penjelasannya
Bolehkah Zakat Fitrah Dibayar dengan Uang, Ini Penjelasannya
10/03/2026 | Humas BAZNAS RIMenjelang akhir bulan Ramadhan, umat Islam di seluruh dunia bersiap menunaikan kewajiban zakat fitrah. Zakat ini menjadi penyempurna ibadah puasa sekaligus bentuk kepedulian sosial kepada fakir miskin agar mereka juga dapat merasakan kebahagiaan di hari raya Idulfitri. Namun di tengah perkembangan zaman dan perubahan sistem ekonomi masyarakat, muncul pertanyaan yang sering dibahas: apakah zakat fitrah dibayar uang diperbolehkan dalam Islam?
Sebagian masyarakat masih mempertahankan tradisi membayar zakat fitrah dengan bahan makanan pokok seperti beras atau gandum. Namun di sisi lain, banyak pula yang memilih menunaikan zakat fitrah dengan uang karena dianggap lebih praktis dan memudahkan penerima zakat. Oleh karena itu, penting bagi umat Islam memahami hukum dan penjelasan ulama mengenai zakat fitrah dibayar uang agar pelaksanaan ibadah ini tetap sesuai dengan syariat.
Artikel ini akan membahas secara lengkap tentang hukum zakat fitrah dibayar uang, pandangan para ulama, dalil yang digunakan, serta bagaimana praktiknya di masyarakat saat ini.
Pengertian Zakat Fitrah
Sebelum membahas apakah zakat fitrah dibayar uang diperbolehkan, penting untuk memahami terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan zakat fitrah.
Zakat fitrah adalah zakat yang wajib dikeluarkan oleh setiap muslim yang mampu pada bulan Ramadhan sebelum pelaksanaan salat Idulfitri. Zakat ini bertujuan untuk membersihkan jiwa orang yang berpuasa dari perkataan sia-sia dan perbuatan yang kurang baik, serta membantu kaum fakir miskin.
Rasulullah SAW bersabda:
“Rasulullah SAW mewajibkan zakat fitrah untuk membersihkan orang yang berpuasa dari perkataan sia-sia dan kotor serta sebagai makanan bagi orang miskin.”
(HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah)
Besaran zakat fitrah yang dikeluarkan adalah satu sha’ bahan makanan pokok. Dalam konteks Indonesia, hal ini biasanya setara dengan sekitar 2,5 hingga 3 kilogram beras.
Namun seiring perkembangan sistem ekonomi modern, muncul pertanyaan baru mengenai apakah zakat fitrah dibayar uang dapat menggantikan bahan makanan tersebut.
Dalil Zakat Fitrah dalam Islam
Dalam beberapa hadis, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa zakat fitrah dikeluarkan dalam bentuk makanan pokok.
Ibnu Umar RA meriwayatkan:
“Rasulullah SAW mewajibkan zakat fitrah satu sha’ kurma atau satu sha’ gandum atas setiap muslim, baik budak maupun merdeka, laki-laki maupun perempuan, kecil maupun besar.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini sering dijadikan dasar oleh sebagian ulama yang berpendapat bahwa zakat fitrah sebaiknya dibayarkan dalam bentuk makanan pokok.
Namun demikian, para ulama memiliki perbedaan pendapat terkait apakah zakat fitrah dibayar uang diperbolehkan atau tidak.
Pandangan Ulama Tentang Zakat Fitrah Dibayar Uang
Perbedaan pendapat ulama mengenai zakat fitrah dibayar uang sebenarnya sudah terjadi sejak masa klasik. Berikut beberapa pandangan dari mazhab-mazhab fikih dalam Islam.
1. Pendapat Mazhab Hanafi
Mazhab Hanafi memperbolehkan zakat fitrah dibayar uang. Mereka berpendapat bahwa tujuan utama zakat fitrah adalah membantu fakir miskin dan memenuhi kebutuhan mereka pada hari raya.
Menurut pandangan ini, uang justru seringkali lebih bermanfaat bagi penerima zakat karena mereka dapat membeli kebutuhan yang lebih mendesak sesuai kebutuhan masing-masing.
Oleh karena itu, dalam mazhab Hanafi, membayar zakat fitrah dengan uang dianggap sah selama nilainya setara dengan makanan pokok yang seharusnya dikeluarkan.
2. Pendapat Mazhab Syafi’i
Mazhab Syafi’i yang banyak dianut oleh umat Islam di Indonesia berpendapat bahwa zakat fitrah sebaiknya dikeluarkan dalam bentuk makanan pokok, bukan uang.
Menurut ulama Syafi’iyah, karena Rasulullah SAW secara jelas menyebutkan zakat fitrah dalam bentuk makanan, maka hal tersebut sebaiknya tetap dipertahankan.
Meski demikian, dalam praktik modern, sebagian ulama Syafi’i kontemporer memberikan kelonggaran jika zakat fitrah dibayar uang melalui lembaga zakat yang kemudian menyalurkannya dalam bentuk makanan pokok kepada mustahik.
3. Pendapat Mazhab Maliki dan Hanbali
Mazhab Maliki dan Hanbali pada dasarnya juga lebih menganjurkan zakat fitrah dalam bentuk makanan pokok.
Namun dalam kondisi tertentu, beberapa ulama dari mazhab ini juga membolehkan zakat fitrah dibayar uang jika dianggap lebih membawa maslahat bagi penerima zakat.
Misalnya dalam kondisi masyarakat perkotaan di mana distribusi makanan pokok lebih rumit dibandingkan uang.
Hikmah dan Tujuan Zakat Fitrah
Untuk memahami apakah zakat fitrah dibayar uang dapat diterima dalam Islam, kita juga perlu melihat hikmah di balik kewajiban zakat fitrah.
Beberapa tujuan zakat fitrah antara lain:
1. Membersihkan Jiwa Orang yang Berpuasa
Zakat fitrah menjadi sarana penyucian diri dari kesalahan yang mungkin terjadi selama menjalankan ibadah puasa.
2. Membantu Kaum Fakir Miskin
Tujuan utama zakat fitrah adalah membantu kaum yang membutuhkan agar mereka juga dapat merasakan kebahagiaan pada hari raya.
Dalam konteks ini, sebagian ulama berpendapat bahwa zakat fitrah dibayar uang justru dapat lebih membantu karena penerima dapat menggunakan uang tersebut untuk berbagai kebutuhan.
3. Menciptakan Kepedulian Sosial
Zakat fitrah juga menjadi sarana memperkuat solidaritas sosial antar sesama muslim.
Dengan adanya zakat fitrah, kesenjangan ekonomi di masyarakat dapat sedikit berkurang, terutama menjelang Idulfitri.
Praktik Zakat Fitrah Dibayar Uang di Indonesia
Di Indonesia, praktik zakat fitrah dibayar uang semakin banyak dilakukan, terutama melalui lembaga zakat resmi.
Lembaga zakat biasanya menentukan nilai zakat fitrah berdasarkan harga beras yang berlaku di wilayah tertentu. Nilai tersebut kemudian dibayarkan oleh muzakki dalam bentuk uang.
Setelah terkumpul, dana zakat fitrah tersebut biasanya akan digunakan untuk membeli beras atau bahan makanan pokok yang kemudian disalurkan kepada mustahik.
Cara ini dianggap sebagai solusi yang tetap menjaga prinsip syariat sekaligus memudahkan proses distribusi zakat.
Waktu Membayar Zakat Fitrah
Baik dalam bentuk makanan maupun jika zakat fitrah dibayar uang, waktu pembayarannya tetap mengikuti ketentuan syariat.
Beberapa waktu penting dalam membayar zakat fitrah antara lain:
-
Waktu wajib: Sejak terbenam matahari pada malam Idulfitri.
-
Waktu sunnah: Setelah salat Subuh sebelum salat Idulfitri.
-
Waktu boleh: Sejak awal bulan Ramadhan.
-
Waktu makruh: Setelah salat Idulfitri.
-
Waktu haram: Jika sengaja menunda hingga setelah hari raya tanpa alasan.
Karena itu, umat Islam dianjurkan menunaikan zakat fitrah tepat waktu agar manfaatnya dapat dirasakan oleh para penerima sebelum hari raya tiba.
Cara Menentukan Nilai Zakat Fitrah Jika Dibayar dengan Uang
Jika seseorang memilih zakat fitrah dibayar uang, maka nilai yang dibayarkan harus setara dengan harga makanan pokok yang menjadi standar zakat fitrah.
Di Indonesia, biasanya nilai ini dihitung berdasarkan harga 2,5 hingga 3 kilogram beras.
Misalnya jika harga beras Rp15.000 per kilogram, maka nilai zakat fitrah yang dibayarkan sekitar Rp37.500 hingga Rp45.000 per orang.
Namun angka ini dapat berbeda-beda tergantung wilayah dan keputusan lembaga zakat setempat.
Perdebatan mengenai zakat fitrah dibayar uang sebenarnya sudah berlangsung sejak lama dalam tradisi fikih Islam. Sebagian ulama berpendapat bahwa zakat fitrah harus dikeluarkan dalam bentuk makanan pokok sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah SAW.
Namun ada pula ulama yang membolehkan zakat fitrah dibayar uang, terutama jika hal tersebut lebih bermanfaat bagi penerima zakat dan memudahkan proses distribusi.
Di Indonesia sendiri, kedua praktik ini masih berjalan berdampingan. Banyak masyarakat yang tetap membayar zakat fitrah dengan beras, sementara sebagian lainnya memilih menunaikannya dalam bentuk uang melalui lembaga zakat resmi.
Yang terpenting adalah memastikan bahwa zakat fitrah ditunaikan tepat waktu, sesuai ketentuan syariat, dan benar-benar sampai kepada mereka yang berhak menerimanya.
Dengan demikian, baik dalam bentuk makanan maupun jika zakat fitrah dibayar uang, tujuan utama zakat fitrah yaitu membantu fakir miskin dan menyempurnakan ibadah puasa tetap dapat tercapai.
Setelah memahami ketentuan zakat fitrah, yang terpenting adalah memastikan kewajiban tersebut benar-benar tertunaikan sebelum Idul Fitri. Jika Anda ingin menunaikan zakat fitrah dengan mudah dan tepat sasaran, salurkan melalui BAZNAS agar zakat Anda dapat menjangkau para mustahik.
Dapatkan Update Berita dan Informasi Penyaluran Zakat, Infak, dan Sedekah.
Follow us