BAZNAS Gerak Cepat Dirikan Posko Medis RSB Gempa NTT

BAZNAS Gerak Cepat Dirikan Posko Medis RSB Gempa NTT

BAZNAS Gerak Cepat Dirikan Posko Medis RSB Gempa NTT

20/08/2026 | Humas BAZNAS RI

Di tengah suasana duka dan keterbatasan akses, sebuah pos pelayanan kesehatan mulai berdiri di Pondok Pesantren Pancasila, Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT). Bukan bangunan besar dengan fasilitas lengkap, melainkan posko darurat yang menjadi tempat warga terdampak gempa mendapatkan pertolongan medis.

Posko itu didirikan oleh tim medis Rumah Sehat BAZNAS (RSB) sebagai bagian dari respons cepat Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) RI terhadap gempa bumi yang mengguncang NTT.

Ketika kebutuhan warga begitu banyak sementara fasilitas di lokasi bencana terbatas, kehadiran tenaga kesehatan menjadi lebih dari sekadar layanan medis. Ia menjadi tanda bahwa para penyintas tidak menghadapi masa sulit itu sendirian.

“Tim RSB alhamdulillah pagi ini sudah standby membuka pos layanan kesehatan untuk para korban gempa NTT,” ujar Ketua BAZNAS RI Dr. Ir. H. Sodik Mudjahid, M.Sc., dalam keterangan tertulis, Rabu (19/8/2026).

Datang Ketika Warga Membutuhkan

Gempa yang berpusat di Kabupaten Nagekeo pada Sabtu (15/8/2026) meninggalkan dampak yang tidak ringan. Berdasarkan data per pukul 16.00 WIB, Selasa (18/8/2026), bencana yang disusul ribuan gempa susulan itu telah menyebabkan 70 orang meninggal dunia dan 1.182 orang mengalami luka-luka.

Sebanyak 40.040 orang harus mengungsi, sementara 11.952 rumah terdampak.

Di tengah angka-angka tersebut, ada kehidupan yang harus segera dipulihkan. Ada warga yang membutuhkan pemeriksaan kesehatan, keluarga yang kehilangan tempat tinggal, anak-anak yang membutuhkan perlindungan, serta para pengungsi yang harus bertahan dalam kondisi serba terbatas.

Karena itu, BAZNAS mengerahkan dua kekuatan utamanya, yakni BAZNAS Tanggap Bencana (BTB) dan Rumah Sehat BAZNAS (RSB).

Keduanya bergerak untuk menjawab kebutuhan paling mendesak di lapangan.

Posko Sederhana, Harapan yang Besar

Pendirian posko medis di Pondok Pesantren Pancasila menjadi salah satu bentuk nyata gerak cepat tersebut.

Di lokasi bencana, fasilitas yang tersedia tidak selalu ideal. Aksesibilitas menjadi tantangan, sementara kebutuhan masyarakat datang hampir bersamaan. Namun, keterbatasan itu tidak menjadi alasan untuk menunda pertolongan.

Tim medis RSB hadir untuk memberikan pelayanan kesehatan darurat kepada masyarakat yang terdampak.

Bagi seorang penyintas, pemeriksaan kesehatan mungkin terlihat sederhana. Namun dalam situasi bencana, bertemu tenaga medis, mendapatkan obat, atau sekadar mengetahui bahwa kondisi tubuhnya masih baik dapat menghadirkan rasa aman yang sangat berarti.

Di situlah kemanusiaan bekerja: bukan hanya melalui bantuan dalam jumlah besar, tetapi juga melalui kehadiran orang-orang yang datang ketika dibutuhkan.

Bantuan Tak Berhenti pada Layanan Kesehatan

Respons BAZNAS juga tidak hanya berfokus pada pelayanan medis.

Kebutuhan para pengungsi sangat beragam. Karena itu, bantuan diarahkan untuk memenuhi kebutuhan dasar, mulai dari fasilitas kesehatan dan tenda hingga perlengkapan ibu dan anak.

Kebutuhan pangan pun menjadi perhatian. BAZNAS menyiapkan dapur umum di Kelurahan Mbay 1, Nagekeo, serta membagikan makanan siap saji kepada warga di Desa Reo, Manggarai.

Langkah-langkah tersebut menunjukkan bahwa penanganan bencana bukan sekadar tentang datang membawa bantuan, melainkan memahami apa yang benar-benar dibutuhkan masyarakat untuk melewati hari-hari sulit.

Dari Zakat Menjadi Kekuatan Kemanusiaan

Di balik gerakan bantuan tersebut, terdapat kepercayaan masyarakat yang diwujudkan melalui dana zakat dan donasi.

Hingga saat ini, dana bantuan yang terkumpul disebut telah mencapai kurang lebih Rp6 miliar. Dana tersebut akan terus disalurkan untuk berbagai program, baik dalam fase tanggap darurat maupun pemulihan.

Angka Rp6 miliar bukan sekadar jumlah dana. Di dalamnya ada kepedulian dari banyak orang yang mungkin tidak pernah bertemu langsung dengan para penyintas gempa, tetapi memilih untuk membantu mereka.

Zakat dan donasi akhirnya menemukan maknanya ketika berubah menjadi makanan bagi pengungsi, layanan kesehatan bagi korban, perlengkapan bagi keluarga, dan harapan bagi mereka yang sedang berusaha bangkit.

Ketika Kebaikan Hadir di Tengah Bencana

Bencana selalu meninggalkan luka yang tidak dapat disembuhkan dalam satu atau dua hari. Setelah gempa berhenti, perjuangan para penyintas belum selesai.

Mereka masih harus menghadapi kehilangan, memperbaiki tempat tinggal, memulihkan kondisi kesehatan, dan menata kembali kehidupan.

Karena itu, kehadiran lembaga kemanusiaan, tenaga medis, relawan, dan para donatur menjadi bagian penting dari perjalanan panjang tersebut.

Posko medis RSB di Manggarai mungkin hanya sebuah posko darurat. Namun bagi warga yang membutuhkan pertolongan, keberadaannya membawa pesan yang jauh lebih besar: di tengah keterbatasan, selalu ada ruang untuk menghadirkan kepedulian.

Gerak cepat BAZNAS di NTT menjadi pengingat bahwa kemanusiaan tidak selalu membutuhkan langkah yang sempurna untuk dimulai. Terkadang, yang paling dibutuhkan adalah keberanian untuk datang, kesediaan untuk membantu, dan ketulusan untuk tetap berada di sisi mereka yang sedang menghadapi masa paling berat.

Dari sana, sebuah bantuan kecil dapat tumbuh menjadi harapan besar.

Berikan dukungan terbaik Anda melalui: baznas.go.id/sedekahbencana atau klik link ini: SEDEKAH BENCANA BAZNAS

atau melalui:

BSI 900.005.5740

BCA 686.073.7777

a.n. Badan Amil Zakat Nasional

Layanan BAZNAS

wa.me/6281188821818

[email protected]

14047 / 021-39526001

Dapatkan Update Berita dan Informasi Penyaluran Zakat, Infak, dan Sedekah.

Follow us

Copyright © 2026 BAZNAS

Kebijakan Privasi   |   Syarat & Ketentuan   |   FAQ