Ikhtiar Wiryo Memperkuat Lumbung Pangan BAZNAS di Purbalingga

Ikhtiar Wiryo Memperkuat Lumbung Pangan BAZNAS di Purbalingga

22/10/2026 | Humas BAZNAS RI

Suara mesin combine harvester terdengar di hamparan sawah Desa Cilapar, Kecamatan Kaligondang, Kabupaten Purbalingga. Di tengah musim panen, Wiryo, petani yang tergabung dalam Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Citra Desa, menyaksikan hasil kerja kerasnya selama berbulan-bulan dipanen dengan cara yang lebih praktis dan efisien.

Bagi Wiryo, panen kali ini bukan sekadar momen memetik hasil dari tanaman padi yang telah dirawat. Penggunaan mesin pemanen kombinasi menjadi langkah nyata untuk menekan biaya produksi, menghemat waktu, dan menjaga hasil panen agar lebih optimal.

Di lahan seluas 4.218 meter persegi, Wiryo membudidayakan padi varietas Inpari 32. Dari lahan tersebut, ia memperoleh hasil panen sekitar 3,2 ton, dengan omzet yang dilaporkan mencapai Rp23.040.000. Capaian ini menjadi sumber kebahagiaan sekaligus penyemangat untuk terus mengembangkan usaha tani yang lebih efisien.

“Alhamdulillah, saya bersyukur panen kali ini bisa berjalan lancar. Dengan menggunakan mesin combine harvester, pekerjaan terasa lebih ringan, waktu panen lebih singkat, dan biaya yang dikeluarkan juga lebih hemat. Semoga hasil panen ini membawa berkah bagi keluarga dan menjadi motivasi untuk terus meningkatkan usaha tani ke depannya,” ungkap Wiryo penuh syukur.

Sekali Jalan, Tiga Pekerjaan Terselesaikan

Jika dahulu panen identik dengan banyak tenaga kerja, proses yang panjang, dan pekerjaan yang dilakukan secara bertahap, kini teknologi pertanian menawarkan cara yang lebih praktis.

Combine harvester merupakan mesin pemanen kombinasi yang mengintegrasikan tiga pekerjaan utama sekaligus, yakni memotong tanaman padi, merontokkan gabah dari malainya, dan membersihkan gabah dari sisa tanaman maupun kotoran.

Ketiga proses tersebut berlangsung dalam satu rangkaian operasi. Petani pun tidak perlu mengatur setiap tahapan secara terpisah seperti pada metode panen konvensional.

Bagi Wiryo, kepraktisan ini memberikan keuntungan nyata. Proses panen menjadi lebih cepat, kebutuhan tenaga kerja manual dapat ditekan, dan pekerjaan di sawah terasa lebih ringan.

Di tengah tantangan usaha tani yang menuntut efisiensi, kehadiran teknologi seperti ini membuka peluang bagi petani untuk mengelola panen secara lebih terencana.

Menghemat Biaya, Menjaga Pendapatan

Salah satu pertimbangan penting bagi petani saat musim panen adalah biaya yang harus dikeluarkan. Sebab, hasil panen yang baik belum tentu memberikan keuntungan maksimal apabila biaya produksi dan pemanenan terlalu besar.

Pengalaman Wiryo memperlihatkan bagaimana pilihan metode panen dapat memengaruhi pengeluaran usaha tani.

Berdasarkan perhitungan yang disampaikan, biaya panen dengan sistem bawon mencapai sekitar Rp1.000.000 untuk setiap 14.000 meter persegi. Sementara itu, penggunaan mesin combine harvester hanya dikenakan biaya sekitar Rp400.000 untuk luasan yang sama.

Dengan demikian, terdapat potensi penghematan sebesar Rp600.000 atau sekitar 60 persen dibandingkan sistem bawon. Penghematan ini tentu menjadi pertimbangan berharga bagi petani dalam menjaga pendapatan dari hasil panen.

Biaya panen yang lebih rendah dapat membantu mempertahankan margin usaha tani, terutama ketika petani menghadapi perubahan harga gabah, biaya pupuk, dan kebutuhan operasional lainnya. Meski demikian, besarnya penghematan dapat berbeda sesuai kondisi lahan, tarif jasa mesin, serta kebutuhan tenaga kerja dan pengangkutan.

Teknologi Modern untuk Petani yang Lebih Berdaya

Manfaat combine harvester tidak berhenti pada kecepatan dan biaya. Mesin ini juga membantu memperlancar alur kerja panen karena proses pemotongan, perontokan, dan pembersihan dilakukan secara terpadu.

Sistem perontokan dan pembersihan yang terintegrasi dapat membantu mengurangi kehilangan hasil selama penanganan panen sekaligus menghasilkan gabah yang lebih bersih. Namun, tingkat keberhasilannya tetap dipengaruhi oleh kondisi tanaman, pengaturan mesin, dan keterampilan operator.

Penggunaan mesin juga mengurangi ketergantungan pada banyak tenaga kerja manual dalam waktu bersamaan. Hal ini menjadi keuntungan tersendiri ketika tenaga panen sulit diperoleh atau ketika banyak petani memasuki masa panen pada waktu yang hampir bersamaan.

Meski demikian, penerapan teknologi modern masih menghadapi tantangan. Sebagian petani tetap mengandalkan sistem tradisional karena keterbatasan akses terhadap mesin, biaya jasa, kondisi petakan sawah, maupun kebiasaan yang telah berlangsung turun-temurun.

Karena itu, pemanfaatan combine harvester perlu didukung oleh akses layanan mesin yang terjangkau, operator yang terampil, dan pendampingan agar petani dapat menyesuaikan teknologi dengan kondisi lahannya.

Dari Sawah Cilapar untuk Ketahanan Pangan

Pengalaman Wiryo menjadi gambaran bahwa kemajuan pertanian tidak selalu harus dimulai dari perubahan besar. Langkah sederhana, seperti memilih metode panen yang lebih efisien, dapat menjadi bagian penting dari upaya meningkatkan daya saing usaha tani.

Di Desa Cilapar, penggunaan combine harvester bukan hanya membantu mempercepat pekerjaan di sawah. Teknologi ini juga menghadirkan peluang bagi petani untuk mengurangi pengeluaran, mengelola hasil panen dengan lebih baik, dan mempertahankan keberlanjutan usaha pertanian mereka.

Sebagai bagian dari komunitas petani Gapoktan Citra Desa, pengalaman Wiryo dapat menjadi bahan pembelajaran bagi petani lain yang ingin mempertimbangkan penggunaan teknologi serupa. Keputusan tentu perlu disesuaikan dengan luas lahan, kondisi sawah, ketersediaan mesin, dan perhitungan biaya masing-masing.

Harapannya, semakin banyak petani yang memperoleh akses terhadap teknologi panen yang tepat guna, sehingga efisiensi tidak hanya menjadi keunggulan segelintir petani, tetapi juga peluang yang dapat dirasakan secara lebih luas.

Pada akhirnya, menjaga lumbung pangan bukan semata-mata tentang menghasilkan gabah sebanyak-banyaknya. Upaya itu juga mencakup bagaimana petani dapat memanen dengan lebih efisien, menekan kehilangan hasil, dan mempertahankan pendapatan dari kerja keras mereka.

Di sawah Desa Cilapar, mesin combine harvester telah membantu menyederhanakan pekerjaan panen. Dari langkah tersebut, tumbuh harapan bahwa pertanian Purbalingga semakin produktif, petaninya semakin berdaya, dan ketahanan pangan daerah semakin kuat.

Bagi Wiryo, hasil panen kali ini bukan hanya tentang jumlah gabah yang berhasil dikumpulkan atau biaya yang berhasil dihemat. Lebih dari itu, panen ini menjadi pengingat bahwa kerja keras, rasa syukur, dan keterbukaan terhadap teknologi dapat berjalan beriringan untuk membangun masa depan pertanian yang lebih baik.

Dapatkan Update Berita dan Informasi Penyaluran Zakat, Infak, dan Sedekah.

Follow us

Copyright © 2026 BAZNAS

Kebijakan Privasi   |   Syarat & Ketentuan   |   FAQ