Iman kepada Rasul Harus Diiringi dengan Perbuatan: Ini 5 Bentuk Nyatanya

Iman kepada Rasul Harus Diiringi dengan Perbuatan: Ini 5 Bentuk Nyatanya

Iman kepada Rasul Harus Diiringi dengan Perbuatan: Ini 5 Bentuk Nyatanya

28/08/2025 | Humas BAZNAS RI

Sebagai seorang muslim, iman kepada Rasul merupakan salah satu rukun iman yang tidak bisa ditawar. Allah Swt. telah mengutus para rasul sebagai pembawa risalah, penunjuk jalan, dan teladan bagi umat manusia. Tanpa adanya keyakinan yang benar terhadap para rasul, keimanan seorang muslim dianggap belum sempurna. Namun, iman kepada Rasul tidak boleh berhenti hanya sebatas pengakuan dalam hati atau lisan saja, melainkan harus diwujudkan dalam perbuatan nyata yang mencerminkan ketaatan dan kecintaan kepada Rasulullah dan para rasul sebelumnya.

 

Artikel ini akan membahas lima bentuk nyata yang harus dilakukan seorang muslim sebagai wujud iman kepada Rasul, agar keimanan tidak hanya sebatas teori, tetapi benar-benar menjadi praktik dalam kehidupan sehari-hari.

 


 

1. Mengikuti Ajaran dan Sunnah Rasulullah

 

Bentuk pertama dari iman kepada Rasul adalah dengan mengikuti ajaran dan sunnah Rasulullah saw. Beliau tidak hanya membawa wahyu dari Allah, tetapi juga menjadi teladan terbaik dalam kehidupan.

 

Mengikuti sunnah berarti berusaha meneladani setiap ucapan, perbuatan, dan persetujuan beliau. Hal ini sesuai dengan firman Allah Swt. dalam QS. Al-Ahzab ayat 21: "Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu...". Dengan demikian, iman kepada Rasul harus mendorong seorang muslim untuk mengamalkan sunnah dalam setiap aspek kehidupan, mulai dari ibadah, muamalah, hingga akhlak.

 

Selain itu, iman kepada Rasul juga berarti tidak menolak atau meremehkan sunnah. Banyak orang yang hanya berpegang pada Al-Qur’an tetapi mengabaikan hadis. Padahal, sunnah Rasulullah adalah penjelasan praktis dari Al-Qur’an. Jika sunnah diabaikan, maka keislaman menjadi pincang. Oleh karena itu, iman kepada Rasul menuntut seorang muslim untuk mencintai dan menghidupkan sunnah dalam kehidupan.

 

Dalam praktik sehari-hari, mengikuti sunnah bisa diwujudkan dengan cara sederhana, seperti mengucapkan salam, menjaga kebersihan, makan dengan tangan kanan, serta memperbanyak zikir. Walau terlihat kecil, tetapi perbuatan ini adalah bukti nyata dari iman kepada Rasul.

 

Lebih dari itu, mengikuti sunnah juga mencakup ketaatan dalam perkara besar, seperti menegakkan keadilan, menjaga amanah, dan memperjuangkan kebenaran. Jadi, iman kepada Rasul bukan hanya ritual, tetapi juga mencakup nilai moral dan sosial.

 

Dengan demikian, seorang muslim yang benar-benar memiliki iman kepada Rasul akan selalu berusaha menyesuaikan dirinya dengan ajaran beliau, baik dalam aspek ibadah maupun dalam kehidupan sosial.

 


 

2. Membela Kehormatan Rasulullah

 

Bentuk nyata kedua dari iman kepada Rasul adalah membela kehormatan beliau. Rasulullah saw. adalah manusia mulia yang diutus Allah untuk membawa rahmat bagi seluruh alam. Oleh karena itu, mencintai dan membela beliau adalah konsekuensi logis dari iman kepada Rasul.

 

Membela kehormatan Rasulullah bisa diwujudkan dengan banyak cara. Salah satunya adalah dengan tidak membiarkan beliau dihina atau dilecehkan. Ketika ada penghinaan terhadap Rasulullah, seorang muslim yang memiliki iman kepada Rasul akan merasa terguncang dan berusaha membela beliau dengan cara yang bijak dan sesuai syariat.

 

Selain itu, membela Rasulullah juga bisa dilakukan dengan cara menjaga nama baik beliau. Jangan sampai seorang muslim berperilaku buruk lalu mengatasnamakan ajaran Rasul. Sebaliknya, seorang muslim yang benar-benar beriman harus menunjukkan akhlak yang baik agar orang lain semakin cinta kepada Rasulullah. Inilah bagian dari iman kepada Rasul yang penting untuk dipraktikkan.

 

Membela Rasulullah juga dapat diwujudkan melalui karya, dakwah, dan tulisan. Setiap upaya yang bertujuan mengenalkan dan melestarikan ajaran Rasulullah adalah bukti nyata iman kepada Rasul. Misalnya, menulis tentang akhlak beliau, menyebarkan hadis sahih, atau membuat karya seni yang mencerminkan kecintaan kepada beliau.

 

Pada akhirnya, membela Rasulullah bukan hanya soal menghadapi orang yang menghina beliau, tetapi juga menjaga agar umat Islam tidak menjauh dari ajaran beliau. Itulah bentuk iman kepada Rasul yang paling mendasar.

 


 

3. Menyebarkan Dakwah Rasulullah

 

Bukti ketiga dari iman kepada Rasul adalah melanjutkan dakwah yang beliau bawa. Rasulullah saw. telah menyampaikan risalah Allah hingga tuntas. Tugas umat Islam kini adalah meneruskan dakwah tersebut, agar cahaya Islam tetap bersinar di dunia.

 

Menyebarkan dakwah tidak selalu berarti berdiri di mimbar. Setiap muslim bisa berdakwah sesuai kemampuan. Dengan lisan, seseorang bisa mengajak orang lain berbuat baik. Dengan tulisan, bisa menyebarkan ilmu. Bahkan dengan akhlak, seorang muslim bisa menjadi dakwah berjalan. Semua ini merupakan wujud nyata iman kepada Rasul.

 

Seorang muslim yang memiliki iman kepada Rasul tidak akan membiarkan dirinya hanya diam melihat kemungkaran. Ia akan berusaha, sesuai kapasitasnya, untuk mengajak kepada kebaikan dan mencegah keburukan. Hal ini selaras dengan sabda Rasulullah: "Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tangan. Jika tidak mampu, maka dengan lisan. Jika tidak mampu juga, maka dengan hati, dan itu adalah selemah-lemahnya iman."

 

Lebih jauh, iman kepada Rasul mendorong seorang muslim untuk menyampaikan dakwah dengan cara yang penuh hikmah. Dakwah bukan hanya soal menyampaikan kebenaran, tetapi juga tentang bagaimana cara menyampaikannya. Dengan hikmah dan kelembutan, ajaran Rasulullah akan lebih mudah diterima masyarakat.

 

Oleh karena itu, menyebarkan dakwah Rasulullah adalah kewajiban bersama yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab. Inilah bukti nyata dari iman kepada Rasul dalam kehidupan sehari-hari.

 


 

4. Menjaga Syariat yang Dibawa Rasulullah

 

Bentuk nyata keempat dari iman kepada Rasul adalah menjaga syariat Islam yang dibawa beliau. Rasulullah saw. telah menuntun umatnya dengan syariat yang sempurna, yang mencakup ibadah, muamalah, akhlak, dan hukum-hukum lainnya.

 

Seorang muslim yang memiliki iman kepada Rasul akan selalu berusaha menjaga kemurnian syariat. Artinya, tidak menambah-nambah atau mengurangi ajaran Islam sesuai hawa nafsu. Inilah salah satu bentuk ketaatan yang menunjukkan keimanan sejati.

 

Menjaga syariat juga berarti mengamalkan hukum-hukum Islam dalam kehidupan. Misalnya, melaksanakan shalat, menunaikan zakat, berpuasa, berhaji, serta menjalankan aturan halal-haram dalam kehidupan sehari-hari. Semua itu merupakan bukti nyata iman kepada Rasul.

 

Lebih jauh, menjaga syariat juga berarti menolak segala bentuk bid’ah yang tidak ada contohnya dari Rasulullah. Hal ini karena iman kepada Rasul menuntut kita untuk yakin bahwa ajaran beliau sudah sempurna, sehingga tidak ada yang perlu ditambahkan lagi.

 

Dengan menjaga syariat Rasulullah, seorang muslim berarti menjaga agamanya sendiri. Inilah wujud nyata dari iman kepada Rasul yang harus dipelihara sepanjang hidup.

 


 

5. Meneladani Akhlak Rasulullah

 

Bentuk terakhir dari iman kepada Rasul adalah meneladani akhlak beliau. Rasulullah saw. dikenal sebagai pribadi yang memiliki akhlak mulia. Bahkan Allah sendiri memuji beliau dalam QS. Al-Qalam ayat 4: "Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung."

 

Seorang muslim yang benar-benar memiliki iman kepada Rasul akan berusaha mencontoh akhlak beliau dalam kehidupan sehari-hari. Akhlak mulia ini mencakup kejujuran, amanah, kasih sayang, kesabaran, serta keberanian dalam menegakkan kebenaran.

 

Iman kepada Rasul tidak cukup hanya dengan mengaku mencintai beliau, tetapi harus diwujudkan dengan mencontoh akhlak beliau. Jika Rasulullah dikenal jujur, maka umat Islam juga harus jujur. Jika Rasulullah penuh kasih sayang, maka umatnya pun harus penyayang. Itulah bukti nyata dari iman kepada Rasul.

 

Dalam kehidupan modern saat ini, meneladani akhlak Rasulullah sangat relevan. Misalnya, dalam dunia kerja diperlukan sifat amanah, dalam keluarga dibutuhkan kasih sayang, dan dalam masyarakat diperlukan sikap toleransi. Semua nilai ini ada dalam akhlak Rasulullah, sehingga meneladani beliau adalah wujud nyata iman kepada Rasul.

 

Pada akhirnya, akhlak mulia adalah cerminan dari keimanan. Semakin seseorang meneladani Rasulullah, semakin kuat pula iman kepada Rasul yang ada dalam dirinya.

 


 

 

Dari uraian di atas, jelas bahwa iman kepada Rasul tidak boleh hanya sebatas keyakinan di dalam hati atau ucapan di lisan. Harus ada perbuatan nyata yang mencerminkan keimanan tersebut. Mengikuti sunnah Rasulullah, membela kehormatan beliau, menyebarkan dakwah, menjaga syariat, serta meneladani akhlak mulia adalah lima bentuk nyata yang wajib dilakukan seorang muslim.

 

Dengan melaksanakan semua itu, seorang muslim tidak hanya menunjukkan iman kepada Rasul, tetapi juga membuktikan kecintaannya kepada Allah Swt. Karena mencintai Rasulullah berarti juga mencintai Allah.

 

 

Dapatkan Update Berita dan Informasi Penyaluran Zakat, Infak, dan Sedekah.

Follow us

Copyright © 2025 BAZNAS

Kebijakan Privasi   |   Syarat & Ketentuan   |   FAQ