Memasuki pertengahan tahun 2019 ini, sejumlah wilayah Indonesia diprediksi akan dilanda bencana kekeringan selama 3 -5 bulan kedepan. Menurut Plh Pusdatinmas BNPB, sebanyak 55 Kabupaten dan Kota di Pulau Jawa, Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Nusa Tenggara Timur (NTT) telah menetapkan status siaga darurat kekeringan. Sementara itu, wilayah kabupaten/kota yang telah teridentifikasi telah terdampak kekeringan mencapai 75 kabupaten/kota termasuk dua kabupaten di Provinsi Bali. Prediksi kekeringan ini diperkuat dari pantauan BMKG yang menyebutkan potensi hujan sejak hari ini (22/7/2019) hingga tujuh hari kedepan masih cukup rendah untuk wilayah Sumatera bagian Selatan, Jawa, Bali dan Nusa Tenggara.

Menanggapi situasi darurat kekeringan ini, pada Jumat (19/7/2019) BNPB telah mengadakan rapat koordinasi dengan sejumlah Lembaga/organisasi kemanusiaan dibidang kebencanaan, termasuk BAZNAS Tanggap Bencana. Dalam rapat koordinasi tersebut dibahas langkah-langkah strategis yang diambil untuk mengatasi situasi darurat kekeringan ini. Adapun BNPB bekerja sama dengan BMKG dan BPPT telah menyiapkan operasi teknologi modifikasi cuaca (TMC) yang akan difokuskan pada penanganan kekeringan dan kegagalan panen di wilayah darurat kekeringan.

Sedangkan BAZNAS Tanggap Bencana yang disampaikan langsung oleh Direktur BAZNAS Tanggap Bencana menyatakan akan segera mengambil langkah strategis berupa program penanganan bencana kekeringan secara terpadu. Program ini meliputi pengenalan wilayah terdampak kekeringan, pengenalan sumber air terdekat, proeses pipanisasi, pembuatan penampungan air, pendistribusian akses air kepada masyarakat terdampak kekeringan hingga pembuatan sistem pengelolaan air untuk menjaga keberlanjutannya. Seluruh kegiatan dalam program penanganan bencana kekeringan secara terpadu ini akan melibatkan peran serta masyarakat dalam penanganan bencana kekeringan. Program penanganan bencana kekeringan secara terpadu ini diproyeksikan akan dilaksanakan di sejumlah titik darurat kekeringan di wilayah Pulau Jawa.