Kelompok Mawar binaan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) melalui lembaga program Zakat Community Development (ZCD) di Kampung Zakat Desa Langko, Kecamatan Lingsar, Kabupaten Lombok Barat terus berusaha membangkitkan usaha di tengah pandemi, salah satunya dengan melakukan produksi kerajinan tangan dari ketak, pada Senin (12/7).

Ketak merupakan tumbuhan sejenis paku-pakuan yang mempunyai nama latin Lygodium Circinatun. Tanaman ini banyak dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai bahan utama pembuatan kerajinan khas Lombok.

Kelompok yang beranggotakan 10 ibu-ibu itu sangat bersemangat untuk menghasilkan kerajinan anyaman khas Lombok. Dalam produksi kali ini, kelompok menghasilkan sebanyak 15 ketak, dan 10 di antaranya berhasil terjual dengan harga satuan Rp40.000.

Adapun proses produksi kerajinan ketak secara umum terbagi menjadi tiga tahap yaitu penghalusan bahan baku, pembentukan model, dan menganyam sesuai bentuk sampai akhir. Kegiatan produksi membutuhkan waktu 3-4 hari untuk bisa menjadi satu anyaman cantik yang siap dipasarkan. Pemasaran anyaman ketak saat ini masih bersifat lokal yang dijual melalui pengepul dan dijual ke toko oleh-oleh yang terletak di wilayah Lombok Barat. Namun, di masa pandemi penjualan ketak juga mulai merambah ke media sosial untuk lebih mudah dalam menjangkau konsumen.

Umumnya dalam sebulan kelompok mampu membuat sekitar 40 buah kerajinan ketak yang dijual dengan harga mulai dari Rp15.000 sampai Rp200.000. Harga kerajinan ketak bisa berbeda tergantung dengan ukuran dan motif termasuk kesulitan pengerjaannya. Dari usaha ini, rata-rata kelompok mampu meraup keuntungan sekitar Rp500.000.

Menganyam ketak melalui program pemberdayaan ZCD ini diharapkan mampu menjadi alternatif untuk mengembangkan potensi usaha mustahik demi memulihkan perekonomian yang dampaknya langsung dirasakan oleh mustahik.

#BAZNASRI
#InovasiBerkaryaUntukUmat
#LembagaUtamaMenyejahterakanUmmat
#GerakanCintaZakat
#ZakatCommunityDevelopment