Pusat Kajian Strategis BAZNAS mendapat undangan dari Asia-Japan Research Institute, Ritsumeikan University, Jepang untuk menyampaikan pengalaman terkait riset dan pengembangan zakat di Indonesia pada acara Workshop Zakat dan Waqf dengan tema “Reassessing Waqf, Zakat, and Takaful: The Revival of Islamic Welfare Institutions in Asia”, Sabtu (30/1). Dalam paparannya, Kepala Pusat Kajian Strategis BAZNAS Dr. Muhammad Hasbi Zaenal, menjelasakan pengalaman dalam kegiatan riset dan pengembangan zakat di Indonesia.

Mengawali presentasinya, disampaikan pada tahun 2011 Undang-Undang No. 23 tentang pengelolaan zakat di Indonesia diluncurkan. Undang-undang ini mengatur tentang pengelolaan zakat secara terpusat yang mencakup seluruh wilayah Indonesia. Pasca berlakunya undang-undang ini, Indonesia menjadi negara dengan cakupan pengelolaan zakat terbesar di dunia, yang mengatur pengelolaan zakat bagi 229,62 juta penduduk muslim Indonesia dengan luas wilayah 1.922.570 km².

Untuk mewujudkan efektivitas pengelolaan zakat sebesar itu, diperlukan berbagai hasil penelitian dan pengembangan yang dapat menghasilkan, menumbuhkan, mengarahkan, dan terus memperkuat kualitas pengelolaan zakat di Indonesia.

Pada tahun 2016, BAZNAS membentuk Pusat Kajian Strategis BAZNAS (Puskas BAZNAS) yang diproyeksikan mendukung tugas-tugas strategis tersebut. Saat ini telah banyak hasil penelitian dari Pusat Kajian Strategis BAZNAS, baik dalam bentuk penelitian dasar pengembangan zakat, penelitian implementatif, seri working papers, penelitian kebijakan, dan penguatan publikasi melalui penyediaan jurnal internasional zakat (IJAZ) dan konferensi internasional zakat (ICONZ) yang berdampak bagi perkembangan zakat Indonesia baik dari sisi segmen kelembagaan, pengumpulan, pendistribusian, operasi, publikasi mauput pusat data.