Bersama BAZNAS, Erna Jadikan Tanah Papua sebagai Ladang Dakwah

  • Diposting oleh : Markom BAZNAS
  • Tanggal : 29/04/2021
  • Erna Nurfadilah Abdul Rahim bersama anak-anak (Foto: BAZNAS)


    Kondisi Kampung Ambon di Desa Abepantai, Kota Jayapura, Papua, saat itu sangat memprihatinkan. Dari segi ekonomi, pendidikan, sosial, dan agama sangat jauh tertinggal. Kondisi ini membuat seorang perempuan mungil tergerak hatinya untuk membuat sebuah perubahan di desa tersebut.

     

    Ia adalah Erna Nurfadilah Abdul Rahim. Perempuan mungil dari Makassar ini mengambil tantangan menjadi pendamping program Zakat Community Deveplopment (ZCD) BAZNAS. Tak pernah terbayangkan sebelumnya, ia menjadi salah satu ujung tombak sebuah perusahaan di tempat yang kerap dipandang sebelah mata. Erna memantapkan hati menjadi pendamping BAZNAS untuk Desa Abepantai di Papua.

     

    "Awalnya memang berat karena budaya di sini sangat berbeda. Awal-awal datang ke sini, saya mesti sedikit menyesuaikan dalam berbusana muslimah. Belum lagi pemikiran warga masih menyimpan prasangka. Awalnya, saya dianggap seperti penyebar agama baru," cerita Erna.

     

    Mengenyam pendidikan dengan kuliah jurusan psikologi, Erna pandai melihat situasi dan kondisi kehidupan para mustahik BAZNAS. Ia juga kerap melakukan pendekatan emosi dan pelan-pelan para warga mulai menerima kehadiran Erna di Kampung Ambon. "Di balik kesuksesan mendampingi, ada sebuah prinsip yang dipegang teguh, yaitu segala sesuatu yang dilakukan dengan hati akan sampai ke hati juga,” ungkap Erna.

     

    Kampung Ambon merupakan desa penghasil sayur bayam paling besar di Kota Jayapura. Namun keterbatasan pengetahuan, petani bayam di kampung ini kurang memberikan dampak yang signifian untuk perbaikan ekonomi mereka. Oleh karena itu, ZCD BAZNAS melakukan pendampingan kepada para petani bayam di Kampung Ambon.

     

    Erna yang menjadi pendamping BAZNAS berperan membina para petani dan kelompok usaha yang mayoritas merupakan ibu-ibu. Sebagai pendamping BAZNAS, Erna mengajarkan para ibu-ibu membuat olahan dan produk turunan bayam, seperti stik bayam, ice cream bayam, kerupuk bayam, dan sebagainya.

     

    Tidah hanya itu, Erna sebagai pendamping BAZNAS juga mengajarkan para petani bagaimana cara mengambil gambar produk olahan yang menarik agar memikat para pembeli. Meski dilanda dengan keterbatasan fasilitas, pendamping BAZNAS ini tidak menyerah untuk terus memberikan ilmu kepada para mustahik di Kampung Ambon. Erna melihat Kampung Ambon sebagai sebuah ladang dakwah yang begitu luasnya.

     

    "Selain bidang ekonomi, nilai spiritual mustahik di sini juga perlu dibangun. Maka dari itu, kami mendirikan Rumah Quran yang sekarang diikuti oleh anak-anak dengan jumlah 50 anak," terang Erna. 

     

    Erna memang menyukai anak-anak. Tak jarang, sehabis mendampingi para mustahik BAZNAS, ia kerap bermain dan mengajarkan banyak hal baru kepada anak-anak Kampung Ambon. "Selama proses program ini, saya semakin paham dalam menghadapi karakter manusia yang begitu kompleks, ilmu yang selama ini saya dapat sebatas teori, kini benar-benar harus diaplikasikan di sini,” ucap Erna dengan sedikit senyum melihat perkembangan para mustahik. 

     

    Pendamping BAZNAS ini mengakui mendapat banyak sekali pelajaran hidup yang sesungguhnya dari para mustahik BAZNAS selama program berlangsung. "Menjadi pendamping pemberdaya adalah pekerjaan yang memang sangat melelahkan, namun lengkungan kecil bermakna besar yang terlihat di wajah mereka mampu menghapus rasa lelah itu seketika," kata Erna Nurfadilah menutup ceritanya.

BAYAR ZAKAT