Perahu Penyambung Hidup di Tengah Ibu Kota

  • Tanggal : 04/06/2019
  • Di Posting Oleh : HUMAS

Mentari pagi belum benar-benar terbit, cahayanya masih sedikit bersinar, bersembunyi di balik gedung-gedung tinggi, seakan masih malu untuk menunjukkannya ke langit.

 

Di waktu tersebut, Bapak Aziz (48 tahun) sudah memulai aktifitas bekerja, sehabis subuh sama seperti kebanyakan para pekerja lain di perkotaan. Namun sedikit berbeda, ia tak mengenakan seragam, atau kemeja dengan dasi keren di badannya.

 

Dengan kaos oblong, Aziz mulai bekerja, bersentuhan dengan aliran kali berwarna gelap yang terkadang baunya tak sedap, menarik perahu membantu masyarakat untuk menyebrang. Tak pernah kita bayangkan, namun bagi Aziz ini sudah menjadi pekerjaan dan sumber penghidupan yang ia geluti sejak tahun 80-an.

 

Menarik perahu `eretan` yang biasa disebut ini menjadi profesinya, berada di tengah aliran Sungai Ciliwung, tepatnya di Kampung Pulo, RT13 RW2, Kelurahan Kampung Melayu, Kecamatan Jatinegara, Jakarta Timur. Menjadi alat bantu penyebrangan masyarakat yang menghubungkan Kampung Pulo, dengan Kelurahan Bukit Duri.

 

Perahu kecil yang terbuat dari kayu, terpal sebagai atapnya ini juga digunakannya sebagai tempat bernaung. Ia tinggal sendiri di perahu itu, istri dan 3 anaknya berada di kampung halaman, Bumiayu, Brebes, Jawa Tengah.

 

Di daerah yang dibelah Sungai Ciliwung ini tidak ada jembatan, masyarakat harus berjalan menyisir sungai terlebih dahulu sejauh kurang lebih 1,5 kilo meter jika ingin beraktifitas menyebrang ke kampung sebelah.

 

Beruntung ada perahu eretan Pak Aziz, banyak anak sekolah, pekerja, dan masyarakat umum menggunakan jasanya untuk bisa menyebrang. Ia tak mematok harga, namun biasanya masyarakat memberinya 1.000 rupiah untuk sekali menyebrang.

 

"Kalau jalan muterin kali ini jauh, capek saya, kalau mau nyebrang pasti naik perahu Aziz, saya terbantu. Warga di sini juga senang karena ada penyebrangan perahu Aziz," kata Ibu Marufi di atas perahu sambil menenteng plastik belanjaanya.

 

Pendapatan Pak Aziz tak menentu, terkadang dalam sehari bisa terkumpul 50.000 rupiah saja ia sudah senang. Uang ini ia tabung untuk menghidupi keluarganya dan membiayai sekolah anak-anaknya di kampung.

 

Kendati begitu, Aziz tetap tidak meninggalkan kewajibannya sebagai seorang Muslim. Zakat fitrah selalu ia tunaikan setiap tahun, hal ini juga ia ajarkan kepada anak-anaknya. Menurutnya meski hidup serba kekurangan, dengan berzakat, merupakan bagian dari ungkapan rasa syukur. Ia yakin Allah Subhanahuwataala tetap bersama orang-orang yang taat kepada-Nya.

 

"Berapapun ya disyukuri, pokoknya keluarga yang pertama. Kalau saya di sini gak papa (hidup lebih kekurangan), Alhamdulillah masih bisa kirim uang ke kampung meski gak banyak," kata Aziz dengan sorotan mata yang dalam ke arah langit seakan memikirkan keluarganya.

 

Aziz bersedih, Hari Raya Idul Fitri kali ini ia tak bisa pulang ke kampung halaman bertemu keluarganya. Rasa rindu memeluk anak-anaknya ia pendam, bukan tanpa alasan, masyarakat yang menggunakan jasanya semakin sedikit, ia pun tak bisa mengumpulkan uang lebih untuk ongkos pergi.

 

Jangankan memikirkan ke kampung halaman, keinginan membeli pakaian baru untuk anak-anaknya pun ia buang jauh-jauh dari pikirannya.

 

Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) melalui tim Layanan Aktif BAZNAS (LAB) berkesempatan bersilaturahmi bertemu dengan Pak Aziz. Ia bercerita bagaimana kehidupan kesehariannya, seperti tidur di dalam perahu yang ditemani banyak nyamuk, atau kehujanan saat hujan deras datang, terpal yang menutupi perahu tak cukup baik melindunginya.

 

Di hari itu juga, BAZNAS mengajak Pak Aziz untuk pergi berbelanja, membeli alat solat seperti mukena, baju Muslim, dan pakaian baru. Ia tak tahu ukuran baju anak-anaknya, ia pun menelepon istrinya menanyakan warna kesukaan dan ukuran bajunya.

 

Matanya sedikit berkaca-kaca, senyum kecil keluar dari mulutnya, membuat siapa saja yang melihatnya akan tersentuh dan teriris hatinya. Suara kecil dari istri dan anak-anaknya terdengar dari speaker telepon genggam tipe lama yang ia pegang. "Mak, ukuran baju adik berapa? Bapak lagi beli baju," kata Aziz kepada istrinya.

 

Tak terasa, hari semakin sore, waktu berbuka puasa sudah dekat. BAZNAS bersama Pak Aziz bergegas kembali dari tempat perbelanjaan menuju perahu tempat tinggalnya. 

 

Hari itu ditutup dengan buka bersama di atas perahu, ditemani dengan suara kecil riak air yang menerpa perahunya. Langit mulai gelap, Aziz bercerita, di malam seperti ini ia selalu teringat keluarganya di kampung, apalagi ketika mendengar suara takbir berkumadang di malam lebaran, semakin membuatnya bersedih.

 

Dengan manfaat dana zakat, infak, dan sedekah, BAZNAS menyalurkanya kepada mustahik sesuai dengan syariat yakni 8 asnaf. Salah satunya dengan melayani dan berbagi kebahagiaan bersama Pak Aziz di Ramadhan jelang Idul Fitri ini, membeli pakaian baru, dan menyalurkan Paket Ramadhan Bahagia (PRB) kepadanya.

 

BAZNAS juga membantu Pak Aziz, agar ia bisa pergi ke kampung halaman bertemu dengan dan berkumpul bersama keluarganya di kampung halamannya sama seperti masyarakat lain yang berkumpul bersama keluarganya di Hari Raya. (Roy)