Suara takbir berkumandang, mengagungkan kebesaran Allah SWT. Para siswa Sekolah Cendekia BAZNAS mengumandangkan gema takbir secara bergantian. Ada kerinduan yang membendung dalam gema takbir kali ini. Mereka telah melewati dua hari raya, hari raya Idul Fitri dan Idul Adha namun harus berjauhan dengan keluarga.

Pandemi Covid-19 membuat mereka harus bertahan di Sekolah Cendekia BAZNAS hampir setahun lamanya. Tetapi para siswa tidak berlarut dalam kesedihan karena jauh dari kedua orang tua. Mereka dibantu oleh pembina dan Oceans (Organiasasi siswa Cendekia BAZNAS) menjalani euforia semarak Idul Adha di Sekolah Cendekia BAZNAS.

Sebelum hari raya Idul Adha tiba, mereka terlihat mempersiapkan diri menghias area sekolah dengan background Idul Adha yang dibuat dengan kemampuan dan bahan yang ada. Ada beberapa siswa yang memiliki bakat melukis dengan bermodalkan kreativitas, mereka membuat desain kreatif bertuliskan 'Selamat Hari Raya Idul Adha 1442 H. Di saat malam, dengan kompak mereka menggemakan “Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar. Laa-ilaaha-illallaahu wallaahu akbar. Allahu akbar walillaahil-hamd”.

Hari raya Idul Adha tiba, civitas akademik Sekolah Cendekia BAZNAS melaksanakan shalat Idul Adha di lapangan Sekolah Cendekia BAZNAS, Selasa (20/7). Beberapa siswa dilibatkan untuk menjadi panita pelaksana shalat hari raya Idul Adha. Santri Kelas X, Faris sebagai MC menyampaikan mekanisme hal-hal yang berkaitan dengan pelaksanaan shalat Idul Adha, Vian sebagai bilal mengigatkan jamaah agar fokus dan tertib dalam mendengarkan khotbah. Mereka mengadakan shalat dengan protokol kesehatan yang berlaku. Ustaz Hilmi selaku khotib mengingatkan kepada para jamaah untuk berjuang di tengah pandemi dengan sabar yang sebaiknya sabar.

Setelah melaksanakan shalat Idul Adha, mereka diberikan waktu untuk berjumpa dengan keluarga secara virtual. Mendengar suara dan keceriaan keluarganya walaupun secara virtual, setidaknya itu bisa mengobati rasa rindu siswa di saat tidak bisa berkumpul. Selain itu beberapa siswa mengisi waktu luang selama Idul Adha dengan menambah hafalan Al Quran. Mereka masih semangat menuntut ilmu di tengah-tengah perayaan.

Di saat momentum Idul Adha, teringat kisah spiritual Nabi Ibrahim AS dengan anaknya Nabi Ismail AS, bagaimana Nabi Ibrahim mengorbankan anaknya kepada Allah SWT dan karena Allah SWT, Nabi Ismail rela dirinya menjadi kurban, namun seketika Allah SWT menggantinya dengan seekor kambing. Kisah Nabi Ibrahim bukan lagi soal berkurban hewan ternak, kambing atau sapi. Ada esensi di dalamnya, bagaimana berkurban mengajarkan kita untuk bertakwa dan ikhlas menerima segala ketetapan yang diberikan Allah SWT.

Jika direfleksikan, pengorbanan siswa Sekolah Cendekia BAZNAS sungguh luar biasa. Mereka tetap teguh menuntut ilmu di tengah kerinduan yang tidak terbendung. Mereka mengorbankan waktu dan kebahagiaan bersama keluarga dengan terus belajar dan menghafal. Mereka ikhlas menerima keadaan pandemi yang mengharuskannya bertahan di sekolah dan jauh dengan keluarga. Bahkan mereka tetap bersuka cita menyambut hari raya dengan mengadakan perlombaan di saat hari raya Idul Adha.

(Humas dan CC)