Indahnya motif dan warna kain batik tidak bisa terlepas dari keterampilan dan ketelitiaan para perajin batik. Sejak dulu batik menjadi kebanggaan Indonesia dan kekayaan yang indah warisan nenek moyang.

Dahulu kala, sebelum pewarna sintetis ditemukan, batik diwarnai dengan pewarna alami yang didapat dari lingkungan sekitar. Kemajuan berkembang, banyak perajin yang telah meninggalkan pewarna alami, dan memiliki memakai sintetis karena dianggap lebih mudah.

Namun tidak bagi mustahik perajin yang diberdayakan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) di Desa Sumurgung, Kecamatan Tuban, kabupaten Tuban. Mustahik Kelompok Usaha Putri Berdikari Batik Sumurgung tetap melestarikan dan mengembangkan pewarna alami pada kain batik yang diproduksinya.

Penggunaan pewarna alami pada kain batik, memiliki keunggulan warna yang ditimbulkan lebih natural. Senin, (6/12), BAZNAS mendampingi 11 mustahik kelompok perajin memproduksi pewarna alami dari daun mangga yang akan dikombinasikan dengan kulit rambutan.

Warsimah, salah satu mustahik perajin BAZNAS menjelaskan, daun mangga dan rambutan untuk pewarna alami ini, diambil dari kebun mini perajin. "Daung mangga dan kulit rambutan bisa jadi pewarna alami, ini kita rebus dulu dan didiamkan beberapa hari," katanya.

Di hari itu juga, selain memproduksi pewarna alami, para Mustahik melanjutkan proses produksi kain batik, produksi meliputi proses membatik, isen, nglengkreng, baleni, dan nembok. Selama proses produksi, mustahik menjalankan protokol kesehatan sebagai ikhtiar menjaga kesehatan dari virus Covid-19.

 

#BAZNASRI
#InovasiBerkaryaUntukUmat
#LembagaUtamaMenyejahterakanUmmat
#GerakanCintaZakat
#ZakatCommunityDevelopment


Terkait