Kelompok Peternak Mustahik Tuah Guree dari Balai Ternak BAZNAS Pidie Jaya di Desa Lhok Pu’uk, Kecamatan Panteraja, Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, berhasil melakukan panen periode kedua untuk jagung manis sebanyak 750 kg, pada Kamis (3/6).

Jagung yang dipanen merupakan hasil pengembangan integrated farming yang memadukan perkebunan jagung dengan peternakan yang dikembangkan peternak mustahik. Adapun sistem integrated farming ini dengan memanfaatkan lahan seluas 2000 meter persegi sebagai perkebunan jagung dan dalam pemeliharaannya hingga panen menggunakan kompos yang diproduksi dari kandang peternak mustahik.

Pendamping program Balai Ternak BAZNAS Pidie Jaya, Nasir, menyampaikan bahwa proses budi daya jagung manis ini hingga panen berlangsung selama 65 hari dan berhasil karena memberikan dampak pendapatan dari buah jagung untuk dijual, dampak zero waste dengan menjadikan ladang menjadi bersih dengan pemanfaatan kompos, serta sisa limbah jagung seperti batang dan daun dapat dimanfaatkan untuk pakan ternak.

Hasil panen periode kedua dari budi daya jagung ini dijual dengan harga jual Rp2.500 per kilogram dan mendapat omzet Rp1.875.000. Melalui penjualan buah jagung ini peternak mendapatkan penambahan pendapatan dengan keuntungan Rp1.275.000.

Hasil panen ini mampu memberikan penambahan pendapatan melalui bagi hasil kepada mustahik sebagai pengelola, anggota kelompok, kas kelompok, dan disisihkan untuk infak sebagai rasa syukur atas panen ini.

Diharapkan konsep integrated farming ini akan mempercepat pendapatan peternak mustahik, menjadi salah satu pilihan diversifikasi usaha dan produk, sehingga bisa memperoleh pendapatan dari usaha kelompok di luar budi daya ternak.

Pengembangan integrated farming ini memang menjadi unggulan di Balai Ternak BAZNAS Pidie Jaya dengan suksesnya mengembangkan beberapa komoditas yang dipadukan dengan peternakan seperti budidaya jagung manis, budidaya semangkan, dan budidaya udang vaname.

Sebagai informasi, konsep integrated farming ini adalah konsep memadukan peternakan ruminansia dengan sektor pertanian. Di mana hasil samping dari ternak seperti kotoran ternak diolah menjadi pupuk organik yang kemudian diberikan sebagai pupuk di lahan pertanian/perkebunan. Setelah mencapai masa panen hasil dari lahan pertanian tersebut seperti buahnya kemudian dijual sedangkan limbah daun dan batang yang tidak dapat dijual akan diolah menjadi pupuk silase. Konsep ini menjadikan usaha peternakan menjadi efisien dan ramah lingkungan.

#BalaiTernakBAZNAS
#LembagaPemberdayaanPeternakMustahik
#PilihanPertamaPembayarZakat
#LembagaUtamaMensejahterakanUmat
#GerakanCintaZakat