Bogor - Pusat Kajian Strategis Badan Amil Zakat Nasional (Puskas Baznas) bekerjasama dengan Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor (FEM-IPB) menggelar acara The Islamic Economics Winter Course (IEWC) 2019. 

Acara yang digelar selama sepekan ini akan menghadirkan 10 tokoh regulator, praktisi, peneliti dan akademisi juga hadir sebagai pembicara, antara lain Prof Aslam Haneef dari Interational Islamic University Malaysia; Direktur International Centre For Education In Islamic Finance (INCEIF) Malaysia, Prof Dr Azmi Omar; Prof Dr Yusman Syaukat dari IPB.

Hadir sebagai pembicara kunci, Ketua BAZNAS, Prof Dr Bambang Sudibyo, MBA, CA. Hadir pula beberapa tokoh ekonomi Islam sebagai pembicara, antara lain Prof. Dato’ Mohd. Azmi Omar selaku President International Centre For Education In Islamic Finance (INCEIF) Malaysia; Prof. Mehmet Asutay, Durham Inggris; Prof. Hasanudden Abd. Azis dari International Islamic University Malaysia (IIUM); Prof. Mustafa Omar Mohammed dari IIUM; Prof. Raditya Sukman dari Universitas Airlangga Surabaya; Prof Aslam Haneef dari IIUM; Dr. Dadang Muljawan selaku Direktur Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah Bank Indonesia, dll.

Ketua Baznas, Prof. Bambang Sudibyo MBA, CA mengatakan para peserta merupakan pelaku industri, akademisi dan peneliti yang datang dari berbagai negara seperti Nigeria, Bangladesh, Thailand, Malaysia dan Indonesia.

“Acara ini membahas isu-isu global terkini terkait perbankan dan keuangan syariah baik dari aspek ekonomi maupun hukum syariah serta isu-isu keuangan inklusif dan sosial syariah,” ujar Prof. Bambang Sudibyo.

Beliau juga menjelaskan berbagai data menguatkan optimisme akan masa depan ekonomi islam, termasuk pengelolaan zakat nasional yang cerah, sehingga penting untuk menyiapkan layanan yang terbaik bagi muzaki dan mustahik.

Dengan layanan terbaik ini, zakat akan makin tumbuh dengan baik dan memberikan kontribusi bagi perkembangan dunia islam masa kini.

“Populasi Muslim saat ini sekitar 22 persen dari populasi dunia, dan di antara semua agama di dunia pertumbuhan pemeluk Islam adalah yang terbesar. Dengan pertumbuhan populasi tercepat ini, diperkirakan pada tahun 2050 Muslim sudah menjadi yang terbesar,” jelas Bambang yang juga menyampaikan materi berjudul The Role of Zakat in the Contemporary Development of Islamic World.

Ia menambahkan, tren perkembangan demografi ini tentu berdampak besar pada potensi dan perkembangan ekonomi dan keuangan syariah, termasuk di dalamnya zakat.

“Misalnya, sistem keuangan syariah dunia yang pada 2017 nilainya hanya 2,438 Miliar dolar ASpada 2023 diperkirakan akan menjadi 3,809 miliar dolar AS. Bisnis makanan halal yang nilainya hanya 1,303 miliar dolar AS pada 2017, pada 2023 diperkirakan akan menjadi 1,863 miliar dolar AS,” kata Prof. Bambang Sudibyo.

“Begitu pula dengan wisata halal yang pada 2017 nilainya hanya 177 miliar dolar AS, kelak pada 2023 diperkirakan akan naik menjadi 274 miliar dolar AS,” imbuhnya.

Ditambahkan Dr. Irfan Syauqi Beik selaku Direktur Pendistribusian dan Pendayagunaan BAZNAS, sektor ekonomi syariah menjadi salah satu sektor yang memiliki tren pertumbuhan yang cepat dibandingkan sektor yang lain. Perkembangan yang dinamis ini tentunya harus didukung dengan kesiapan sumber daya manusia (SDM) yang unggul untuk memberikan dukungan bagi industri-industri yang bergerak dalam sektor ekonomi syariah.

“Dalam rangka memenuhi tuntutat pasar tersebut, maka diperlukan suatu pelatihan dan kursus untuk meningkatkan skill dan juga kemampuan SDM dalam bidang ekonomi syariah. Karena itu Pusat Kajian Strategis (Puskas) BAZNAS dan Departemen Ilmu Ekonomi Syariah, FEM IPB menginisiasi kegiatan IEWC ini,” ucap Irfan.

Menurutnya, IEWC merupakan kursus singkat ekonomi syariah secara komprehensif. Tidak hanya itu, IEWC juga memfasilitasi para peserta untuk dapat mengunjungi secara langsung industri-industri kunci dalam sektor ekonomi syariah.