Salah satu hasil resolusi dari rapat kerja nasional zakat tahun 2021 adalah percepatan transformasi digital dalam pengelolaan zakat. Untuk mengakselerasi digitalisasi dalam pengelolaan zakat di Indonesia, BAZNAS melalui pusat kajian strategis bekerjasama dengan Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah Bank Indonesia untuk menyusun penelitian mengenai digitalisasi dalam pengelolaan zakat diantaranya adalah penyusunan parameter kesiapan digital organisasi pengelola zakat (OPZ) dengan output tersusunnya sebuah Indeks yang dapat mengukur tingkat kesiapan OPZ dalam melakukan transformasi digital.

Parameter mengukur aktivitas pengelolaan zakat seperti pengumpulan, pendistribusian dan penyaluran, serta aktivitas pelaporan pengelolaan zakat menggunakan empat model critical successful factors yaitu kesiapan infrasturktur digital, kesiapan penggunaan alat-alat digital, kesiapan ekosistem digital, dan kesiapan SDM yang memiliki kapasitas dalam pengelolaan zakat secara digital. Dengan parameter tersebut, Puskas BAZNAS beserta Bank Indonesia akan melakukan pengukuran di tingkat nasional pada tahun 2022 dengan melibatkan OPZ di seluruh Indonesia.

Sebelum melakukan pengukuran di tahun yang akan dating, Puskas BAZNAS dan Bank Indonesia melakukan terlebih dahulu kegiatan uji coba pengukuran Indeks Kesiapan Digital OPZ di 3 provinsi yaitu Provinsi Banten, Provinsi DKI, dan Provinsi Jawa Barat. Di Provinsi Banten, uji coba dilakukan di BAZNAS Provinsi Banten, BAZNAS Kota Cilegon, dan LAZ Harapan Dhuafa Banten. Uji coba di Provinsi Banten dipimpin langsung oleh peneliti senior Puskas BAZNAS, Bapak Abdul Aziz Yahya Saoqi pada

Terkait