Semarang (15/09). Direktur Pusat Kajian Strategis BAZNAS, Muhammad Hasbi Zaenal, Ph.D menjadi salah satu narasumber dalam Seminar Nasional bertajuk “Peran Ekonomi Islam Dalam Mengoptimalkan Potensi Industri Halal di Indonesia”. Acara ini diselenggarakan oleh Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Semarang (UNNES), Semarang.

Dalam presentasinya selama 50 menit, Direktur Puskas BAZNAS menjelaskan tentang konsep pilar-pilar ekonomi zakat (Zakatnomics) sebagai guideline utama pembangunan nasional. Konsep ini diambil dari pendalaman tafsir surat At-Taubah: 60.

Dijelaskan bahwa zakatnomics sejatinya sebuah kesadaran untuk membangun tatanan ekonomi baru untuk mencapai kebahagiaan, kesetimbangan kehidupan dan kemulyaan hakiki manusia yang didasari dari semangat dan nilai-nilai luhur Syariat Zakat yaitu semangat ketakwaan, semangat produktif dan berekonomi dengan adil serta semangat mengejawantahkan ZISWAF dalam praktek kehidupan. Dimana tatanan ekonomi ini harus memperjuangkan empat (4) pilar secara bersamaan, yakni (1) Pilar iman dan takwa, (2) Pilar produktivitas, (3) Pilar ekonomi halal, (4) Pilar penguatan sistem.

Pertama, yakni pilar perjuangan membangun human capital dengan literasi dan praktek keagamaan yang kuat. Pilar ini diambil dari pendalaman perjuangan ayat zakat yakni: fi sabilillah, Ibnu Sabil, muallaf. Kedua, yakni pilar memperjuangkan produktifitas, dari kata kunci perjuangan ayat zakat: fakir, miskin, gharim, riqab. Ketiga, yakni pilar memperjuangkan rel ekonomi sedekah atau ekonomi halal, dari kata kunci perjuangan ayat zakat: ekonomi sedekah lawan dari ekonomi riba. Sedangkan keempat, yakni pilar memperjuangkan penguatan sistemnya diambil dari kata kunci Amil, yang mempunyai difinisi pegawai, yang bersinonim dan berkorelasi dengan manajemen/sistem.

Dalam konsep pembangunan nasional yang holistik. Pilar-pilar zakatnomics di atas sangat ideal untuk diterapkan. Pilar pertama menjadi dasar pembangunan karakteristik modal insan yang bersyariat. Pilar kedua menjadi dasar pembangunan kesejahteraan nasional. Pilar ketiga menjadi dasar pembangunan industri bisnis berlandaskan syariah, baik zatnya maupun akadnya. Pilar keempat menjadi dasar pembangunan sistem yang kuat untuk menopang ketiga pilar pembangunan sebelumnya, seperti regulasi dan kelembagaan, operasi dan keuangan, partisipasi publiknya, dan lain sebagainya.

Dalam penutupnya, Direktur Puskas BAZNAS berharap agar konsep zakatnomics yang masih dasar ini dapat dikembangkan lebih jauh oleh generasi ekonomi rabbani kedepannya, diturunkan dalam teori yang lebih detail, dibuat model matematisnya dan dipraktekkan dalam tiap segmen sendi perekonomian.

(Puskas News)