Konferensi Zakat Internasional atau (KEIZAC) 2019, yang diadakan oleh lembaga Zakat Kedah, telah berlangsung selama 3 hari, dari 4 sampai 6 Agustus 2019, di Alor Setar, Ibu Kota Provinsi Kedah, yang terletak di sebelah utara Malaysia.

KEIZAC 2019 telah mengangkat topik yang berkaitan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB dalam Bahasa, atau SDGs dalam Inggris) dan Revolusi Industri 4.0, dimana peran zakat dalam kedua isu tersebut telah menjadi topik utama dalam pembahasan, baik diskusi di sesi pleno maupun paralel.

Tim Peneliti dari Pusat Kajian Strategis (Puskas) BAZNAS ikut serta dalam KEIZAC 2019. Dalam hal ini, Tim Puskas telah menjadi salah satu pemateri di sesi paralel. Tim telah menyampaikan materi dari hasil kajian Puskas Working Paper, yang membahas tentang cara institusi zakat dalam merespon kemunculan perusahan teknologi finansial atau fintech, dimana BAZNAS telah menjadi sampel kajian.

Sebagaimana disampaikan oleh Tim, terdapat 3 argumen yang dapat secara akurat menjelaskan cara BAZNAS dalam merespon fintech. Pertama, BAZNAS telah memiliki website khusus dan aplikasi telepon genggam. Kedua, BAZNAS telah berkolaborasi dengan perusahan fintech lokal. Dan ketiga, BAZNAS telah mencipatkan kode QR, dimana hal-hal tersebut merupakan cara BAZNAS untuk menghimpun dana Zakat. Ketiga hal tersebut merupakan bukti nyata yang merepresentasikan posisi BAZNAS yang adaptif terhadap perubahan teknologi.  

Singkatnya, materi yang disampaikan oleh Tim Puskas di KEIZAC 2019 sangat signifikan baik untuk praktisi maupun akademisi. Untuk praktisi zakat, materi yang disampaikan memberikan informasi bermanfaat mengenai keabsahan hukum Islam dalam mengumpulkan dana zakat melalui teknologi. Sedangkan untuk akademisi, kajian yang disampaikan merupakan penilitian yang pertamakali dilakukan, sehingga sangat bermanfaat untuk literatur zakat.

 

Rep: Ali - Puskas BAZNAS