Surabaya (24-25). Annual Islamic Finance Conference (AIFC) 2019 ke-4 tahun ini bertempat di Surabaya dengan mengusung tema “Blending Islamic Finance and Impact Investing for SDGs” atau bagaimana keuangan syariah dan impact-investing secara bersama-sama diterapkan untuk mencapai pembangunan berkelanjutan (SDGs).

Hadir dalam acara ini Wakil Menteri Keuangan Mardiasmo, Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elistianto Dardak, General Direktur Islamic Development Bank (IsDB) Wahid Abdelwahab, Representatif United Nation of Development Programme (UNDP) Indonesia Christophe Bahuet, Rektor Universitas Airlangga (Unair) Mohammad Nasih, dan banyak lagi dari para pembuat kebijakan, ekonom, akademisi, dan pelaku industri, baik dari dalam maupun luar negeri, untuk mendiskusikan berbagai isu ekonomi dan keuangan syariah.

Acara dibuka oleh pidato Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Dardak. Dalam pidatonya Emil mengatakan sinergi para stakeholder sangatlah penting untuk mengembangkan ekonomi dan keuangan syariah Indonesia. “Harus ada sinergi yang baik untuk pengembangan ekonomi dan keuangan syariah Indonesia,” Ujar Emil.

Wakil Menteri Keuangan Republik Indonesia, Mardiasmo menyampaikan dalam sambutannya bahwa keuangan syariah memiliki potensi peran yang besar dalam impact investment. “Tujuan investasi syariah adalah untuk mencapai hal yang baik dan menghindari hal yang haram serta adanya kewajiban mengeluarkan zakat kepada yang berhak. Hal ini sejalan dengan impact investing, yaitu tujuan bisnis tetap tercapai dan bisa memberikan manfaat kepada masyarakat dalam mencapai SDGs" ujar Mardiasmo.

Prof Dato Azmi Omar, Presiden INCEIF Malaysia mengatakan bahwa zakat dan wakaf dipandang sebagai instrumen potensial pembiayaan syariah dalam rangka impact investing atau investasi berkelanjutan. Hal demikian karena terdapat banyak persamaan antara lain, bahwa keduanya menghubungkan antara kegiatan bisnis dan kegiatan sosial kemasyarakatan, mempunyai tujuan untuk menyejahterakan masyarakat, serta mempromosikan keuangan inklusif,” ujar Dato.

Joanne Manda, Senior Advisor for Innovative Financing UNDP, mengatakan, pihaknya sangat tertarik untuk menggabungkan investasi berdampak dengan keuangan syariah. Sebab, keuangan syariah memiliki misi yang sama, yakni untuk pembangunan berkelanjutan yang memperhatikan faktor lingkungan dan sosial. salah satu elemen keuangan syariah, zakat, pernah terlibat dengan pembangunan berkelanjutan pada 2018. Saat itu, Badan Amil Zakat Nasional dan Bank Jambi membangun pusat listrik tenaga air untuk empat desa di Jambi dengan 2000 kepala rumah tangga penerima manfaat.

Walid Abdelwahab, Director General Country Relations and Services Islamic Development Bank (IsDB), mengucapkan, prospek Indonesia sangat besar untuk menggabungkan investasi berdampak dan keuangan syariah. Potensi besar tersebut didukung dengan banyaknya persamaan keuangan syariah dan investasi berdampak. ”Mereka ini sama-sama berbasis nilai. Nilai yang berkontribusi langsung ataupun tidak langsung terhadap kehidupan sosial, pembangunan, dan standar lingkungan,” kata Walid.