Tim peneliti Pusat Kajian Strategis (PUSKAS) BAZNAS telah mengembangkan alat ukur untuk menyelaraskan program BAZNAS yang sedang berjalan dengan TPB. Salah satu alat ukur yang dikembangkan adalah pengukuran kelayakan air dan sanitasi (PKAS). Indikator PKAS yang dikembangkan telah dicoba di beberapa wilaya Indonesia dimana program BAZNAS terkait telah diselenggarakan. Pengukuran ini bertujuan untuk memetakkan program BAZNAS selanjutnya, terutama dalam mendukung TPB ke-6; yaitu ketersedian sumber air bersih yang berkelanjutan.

Proses survey oleh tim Puskas dan Divisi Evaluasi dan Monitoring (DME) BAZNAS telah dilakukan pada 22 sampai 23 Mei 2019. Salah satu desa yang dicakup oleh program sanitasi BAZNAS yaitu Nagarai Balai Baiak Malai IV Koto, yang berada di Padang Pariaman, Sumatera Barat. Menurut data setempat, di Desa tersebut terdapat sejumlah 58 kepala keluarga dengan jumlah populasi 258 orang. Dari jumlah kepala keluarga yang ada, hanya sekitar 5 persen memiliki fasilitas mandi, cuci, kakus (MCK) yang standar. Bagi yang lainnya, akses untuk mendapatkan air bersih masih menjadi isu kronis. Dengan demikian, praktek buang hajat yang tidak layak dan kebiasaan yang tidak sehat lainnya masih sangat umum dilakukan oleh penduduk setempat.

Mangingat ketersediaan air bersih sangat penting terutama untuk kebutuhan Ibadah, BAZNAS setempat dengan PT. Henan Putihrai Asset Management membangun fasilitas MCK umum untuk warga setempat. Sampai saat ini, telah ada sejumlah 4 MCK yang dibangun di sejumlah titik kritikal di Desa tersebut, atas kolaborasi kedua pihak. Tujuan utama pembangunan MCK ini adalah untuk memfasilitasi penduduk setempat terhadap air bersih, terutama untuk kegiatan ibadah.

Sejalan dengan membangun fasilitas MCK, BAZNAS melalui Puskas juga mengkaji program-program selanjutnya untuk diimplementasikan, terutama untuk mendukung ketersediaan sumber air yang berkelanjutan. 

Rep: Puskas BAZNAS