Ekonomi modern identik dengan sumbangsih gagasan Adam Smith. Salah satu pemikirannya yang cukup berpengaruh ialah “ekonomi pada dasarnya bersifat self-interest”. Senada dengan Adam Smith, bapak dari free market economics Milton Friedman menyatakan bahwa setiap orang umumnya akan selalu mengutamakan kepentingan dirinya sendiri sebelum kepentingan yang lain. Pemikiran keduanya dianut oleh banyak orang dan cukup memengaruhi sistem perekonomian dunia.

Pandemi Covid-19 telah membawa dunia ke dalam krisis multidimensi. Krisis yang menyerang sektor kesehatan pada awalnya kemudian mulai menyerang sektor ekonomi. Efek domino yang dihasilkan oleh merebaknya Covid-19 di dunia membuat banyak orang bertanya-tanya, kebijakan ekonomi seperti apakah yang dapat mengatasi krisis multidimensi yang disebabkan oleh Covid-19. Jika mengacu pada invisible hand yang dikenalkan oleh Adam Smith, sistem perekonomian sangat sulit untuk pulih.

Hal tersebutlah yang mendorong untuk Puskas untuk mengadakan Puskas Webinar Series dimana pandangan filosofis dari ekonomi mainstream didiskusikan lebih lanjut dan dasar ekonomi Islam diperbandingkan. Berjudul ‘Mainstream and Islamic Economics in Anticipating the Crisis of Covid-19’, Puskas mengundang pembicara dari Pakistan yaitu Dr. Salman Ahmad Shaikh yang dilakukan secara daring menggunakan BAZNAS TV. Webinar ini adalah seri kedua dari Puskas Webinar Series dan telah sukses dilaksanakan pada Rabu, 22 April, 2020.

Pada diskusinya Dr. Salman Ahmad menjelaskan saat krisis yang sekarang terjadi, peran berbagai stakeholders sangat diperlukan. “Gotong royong” dalam membangun kembali ekonomi dan mengesampingkan self-interest. Terlebih ketika kebijakan lockdown dikeluarkan, banyak warga yang kehilangan pekerjaan sehingga diprediksi akan menurunkan angka kesejahteraan. Dan dalam menghadapi hal tersebut, ekonomi mainstream yang berdasarkan pada sifat kerakusan tidak bisa menjadi solusi.

Ekonomi Islam hadir sebagai jalan alternatif bagi pihak-pihak yang tidak sependapat dengan pemikiran ekonomi modern. Dalam ekonomi islam, prinsip utamanya ialah asumsi multi-interest dalam aktivitas perekonomian. Hal ini tertuang pada Maqasid Sharia yaitu tujuan dari Syariah dimana ekonomi Islam bertujuan untuk memelihara lima elemen; spiritual, hidup, intelektual, keturunan dan kekayaan di masyarakat. Artinya, yang diprioritaskan adalah nilai-nilai komunalitas terlebih dahulu, baru kepentingan individu. Konsep gotong-royong yang ditawarkan dalam ekonomi islam tercermin pada hadirnya ZIS atau Zakat, Infaq, dan Shadaqah. ZIS hadir untuk mendorong setiap manusia untuk bermurah hati, saling tolong-menolong dengan sesama.

Para peserta yang mengikuti webinar di platform Youtube menunjukan antusiasme yang tinggi dengan memberikan banyak pertanyaan pada diskusi. Puskas Baznas berharap bahwa diskusi yang dilaksanakan ini dapat meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai nilai-nilai ekonomi Islam dan mencoba memulainya dengan saling membantu sesama, terlebih di bulan Ramadan yang akan datang.

 

Rep: Puskas BAZNAS