Kisah dari buku Inspiring Journey To Islam yang disusun oleh Mualaf Center BAZNAS 

Kepada siapa kita akan kembali, bila bukan pada Sang Pemilik Langit dan Bumi? Kepada siapa kita akan meminta, bila bukan pada Yang Maha Segala? Karena kembali adalah sebuah proses perjalanan setiap manusia yang tidak akan bisa ditempuh tanpa kesungguhan hati yang terus meminta.

“Islam memberikan saya kedamaian.” ucap seorang lelaki sederhana yang terpancar kesahajaan dari wajahnya. Ia adalah seseorang yang pernah tenggelam dalam sebuah masa yang begitu kelam. Bukan hanya terlibat sebagai pemain, bahkan menjadi seorang bandar judi adalah titel yang kala itu melekat pada dirinya. Namun hal itu nampaknya belum cukup untuk memuaskan kesenangan dalam diri seorang lelaki yang kini telah berkopiyah itu. Dilengkapi dengan mabuk-mabukan yang juga layaknya sebuah rutinitas baginya, ternyata turut mendorong ia pada suatu arus kehidupan yang kian menjauhkan langkahnya dari jalan kebenaran.

Keyakinannya pada agamanya terdahulu, nyatanya tidak juga membuat ia meninggalkan hal-hal yang sebenarnya ia yakini bertentangan dengan agama manapun. Hingga ia menganggap semua agama sama, tak ada bedanya, kecuali bagaimana jalan yang ditempuh oleh masing-masing manusia dalam setiap agamanya itu. Entah dengan alasan apa, lelaki bernama lengkap Mardinus itu telah membenci Islam sejak dulu. Ketidaksukaannya melihat orang-orang Islam melakukan gerakan-gerakan salat, memberi kesan aneh dalam benaknya. “Untuk apa sih seperti itu?”, tanyanya sebelum cahaya Islam mulai menyapa ke dalam bilik-bilik hatinya.

Allah Yang Maha Pengasih tidak pernah pilih kasih. Ia memberi peluang pada setiap insan, tak peduli bagaimana statusnya di hadapan sesama manusia, di mana ia bertempat tinggal, meski di antara gedung-gedung bertingkat, ataupun di barisan rumah sederhana ‘seadanya’ yang sulit dijangkau.

Siapapun yang belum terjamah dengan kebaruan teknologi, tak berarti akses hidayah tertutup juga bagi mereka yang barangkali tengah menanti-nanti petunjuk dari Sang Ilahi Rabbi. Sebagaimana yang dialami lelaki yang akrab disapa dengan panggilan Mamar dari sebuah kampung di daerah Keranji Paidang, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat.

“Ayo masuk!” ujar seorang lelaki tepat di depan pintu masjid. Lelaki di sampingnya yang menerima ajakan itu masih diam tak bergeming, ia ragu sekaligus takut. Bagaimana tidak? Sekawanan duri-duri tajam terpancang di pintu masjid itu.

“Jangan tengok ke belakang!” ujar lelaki tadi untuk kedua kalinya. Beberapa orang terlihat santai melewati pintu masjid yang berduri itu. Pun seorang lelaki yang mengajak Mamar juga telah masuk dengan aman, yang lantas membuatnya mencoba memberanikan diri untuk menyusul masuk. "Aman!" Batinnya.

Ramai-ramai manusia yang telah masuk ke dalam masjid itu bergiliran membaca Al-Quran.

“Giliranmu. Ayo baca!” Kali ini ia diperintah oleh seorang lelaki bersarung dan berkopiyah serba putih. Dan mudah saja, si bandar judi itu mampu melantunkan setiap ayat demi ayat dalam kitab suci yang berada tepat di depannya. Sebuah keanehan memang, tapi siapa sangka?

Beberapa hari berselang, kejadian yang jauh lebih aneh mulai menghampirinya. “Kamu adalah Tuhan kami!” ujaran dari warga kampungnya membuat pemabuk itu sontak terkaget. "Keterlaluan!" pikirnya.

“Tuhan itu mampu memberikan semua yang kalian minta!” ujar lelaki itu lantang, “Sedangkan aku? Mana mungkin!”

Selepas masyarakat beramai-ramai memaksanya menjadi imam salat, kini mereka beramai-ramai mengakuinya sebagai Tuhan.

"Permainan macam apa lagi ini?" Lelaki yang masih larut dalam senda gurau duniawi itu mulai pusing bukan kepalang. Dan…blam! Ternyata semua hanyalah mimpi yang ia alami dalam beberapa hari belakangan ini.

Mardinus menghela nafas panjang, ia kembali teringat dengan tawaran seorang teman dekatnya beberapa waktu lalu. “Kalau kau mau pindah agama, silakan pindah. Tapi aku belum bisa ikut pindah untuk saat ini.” Tawaran itu lebih terdengar seperti perintah yang tegas dan lugas, karena sang kawan tak hanya sekali mengatakan hal yang serupa pada Mamar.

“Heh, bagaimana kau menyuruhku pindah ke Agama Islam, sedangkan kau sendiri belum masuk Islam?” tanyanya dengan kesal, “tak masuk akal!”

Tidak hanya sampai di situ, ingatan Pak Mamar melayang lebih jauh lagi, melompat dari satu masa ke masa yang lain, dan singgah pada suatu waktu ketika ia hendak berangkat sekolah, tepatnya di jenjang sekolah menengah pertama. Telinganya masih asyik menyimak sebuah wejangan keislaman dari seorang pendakwah melalui siaran radio, hingga ia hampir terlambat berangkat bersama teman-teman sebayanya.

“Ya Allah!” ujarnya secara spontan ketika tersandung sebuah batu di tengah jalan. Ujaran itu rupanya tak menjadi angin lalu, alias justru memancing teman-temannya mendesak dengan tanya-tanya yang serupa.

“Heh Mar, kau sudah pindah agama?”

“Tidak.”

“Yang benar?!” desak kawan lainnya. Mardinus remaja masih mantap menjawab dengan jawaban yang sama seperti sebelumnya. “Kenapa kau sebut-sebut nama itu tadi? Hah?!” kawannya masih berusaha mendesak.

“Mana saya tahu! Itu hanya tak sengaja saja.” Jawabnya sambil kembali melanjutkan perjalanan, berusaha mengabaikan teman-temannya yang masih menyisakan raut-raut wajah penuh tanda tanya.

Rangkaian peristiwa spiritual yang dialami oleh seorang lelaki dari Kampung Otobasa itu akhrinya berujung pada satu keputusan bulat. “Inilah hikmah Islam…” ujarnya, “tidak secara langsung, tapi bertahap, semua ada prosesnya, sedikit demi sedikit, hingga akhirnya saya memahami.”

Meski tidak mudah, Mardinus tak pernah patah semangat untuk mendaras ilmu Agama Islam lebih dalam lagi. Berbagai pertentangan dari keluarga yang notabenenya beragama non-Islam, tak lantas membuatnya berhenti belajar beradaptasi dengan agama yang telah menjadi pilihannya tersebut. Tiga bulan pertama adalah masa-masa sulit baginya, sebab ia benar-benar tidak tahu apa yang harus dilakukan bagi seseorang yang kala itu telah memilih Islam sebagai jalan hidup selanjutnya.

Daging babi masih menjadi santapannya sehari-hari, hingga ia berupaya mencari informasi ke sana kemari, mulai dari mencari tahu berbagai hal yang diwajibkan hingga apapun yang dilarang dalam Islam.

“Dan akhirnya saya mengerti...” jelas Mamar dengan wajah teduhnya, “Apa saja yang diwajibkan dan apa yang dilarang, apa yang dibolehkan dan apa yang harus saya tinggalkan. Salah satunya, ya... mabuk-mabukkan dan berjudi itu, saya tinggalkan semua.”

Allah Yang Maha Kuasa tak pernah mengumbar janji semata. Dia hamparkan luasnya bumi bagi siapapun yang memilih langkah berani, berpindah dari gelapnya masa menuju pada terangnya semesta. Meski tak selalu manis yang dirasa, tapi ketenangan jiwa jauh lebih melapangkan dada. Mardinus adalah salah satunya. Ia merasakan kedamaian yang lebih berarti setelah memeluk Islam, yang bertahap demi bertahap menuntunnya dalam menjalin hubungan baik dengan banyak orang.

Program Mualaf Center BAZNAS yang mendatangkan para ustaz yang silih berganti memberi pengajaran tentang Islam kepada masyarakat Kampung Otobasa, rupanya membuat Mardinus dan para mualaf lainnya di sana lebih semangat untuk belajar mengenal Islam dan setiap ajaran di dalamnya. Tidak hanya itu, bahan-bahan makanan pokok yang rutin disalurkan setiap bulan juga dirasa sangat membantu dalam memenuhi kebutuhan masyarakat di sana. Mereka senang dan sangat berterima kasih.

“Yang utama adalah ilmu agama, maka urusan dunia akan mengikuti kita.” kata Mamar dengan mantap, sambil terus berharap agar kelak sepuluh tahun mendatang, Kampung Otobasa ini memiliki ulama-ulama sendiri yang dengannya mereka bisa menyebarluaskan ajaran Islam lebih merata lagi ke pelosok negeri.

Pesan singkat dari seorang mualaf bersahaja itu rupanya tak sesederhana kalimatnya. Padanan kata yang tersusun lugas dan tegas, mengingatkan setiap insan beriman tentang hakikat dunia yang sejatinya memang terbatas, berbanding terbalik dengan akhirat yang menyuguhkan tempat menjejak berupa surga dan neraka yang sudah pasti tiada jeda. Maka bila tak segera menyiapkan bekal untuk kembali pulang melalui iman dan islam, lantas dengan cara apa lagi kita bisa menghadap kepadaNya dengan sebaik-baik pertemuan?

Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (An-Nisa: 100)

Terkait

  • Lainnya

  • Bayar Zakat

DAFTAR REKENING ZAKAT BAZNAS

BRI Syariah 1000783214
BNI Syariah 0095555554
Bank Muamalat 3010070753
BSM 7001325498
BCA 6860148755
Bank Mandiri 0700001855555
CIMB Niaga Syariah 860000148800
Bank Mega Syariah 1000015559

an. BAZNAS

Untuk informasi daftar rekening lainnya, silahkan klik baznas.go.id/rekening

Atau melalui layanan zakat digital BAZNAS
1⃣ Website : baznas.go.id/bayarzakat
2⃣ Kitabisa : kitabisa.com/baznas
3⃣ Tokopedia : bit.ly/zakat-tokopedia
4⃣ Bukalapak : bit.ly/zakat-bukalapak
5⃣ Shopee : bit.ly/shopee-baznas

Konfirmasikan bukti transfer zakat dan infak Anda melalui:

Contact Centre BAZNAS
Whatsapp: +6287877373555
Telf: +62 21- 3904555
Email: [email protected]

Atau klik link :
bit.ly/KonfirmasiZakatBAZNAS

#ZakatTumbuhBermanfaat
http://baznas.go.id