Irfan Syauqi Beik*


Di tengah badai pandemi Covid-19 yang melanda lebih dari 150 negara seluruh dunia termasuk Indonesia, maka kaum dhuafa adalah kelompok yang paling rentan terhadap dampak pandemi Covid 19 ini. Karena itu, menjaga kondisi mereka harus mendapat perhatian kita semua. Apalagi mayoritas kaum dhuafa sangat bergantung pada sumber pendapatan yang sifatnya harian. Berhentinya kegiatan ekonomi akan sangat memukul mereka, sehingga ini berpotensi memicu krisis sosial kemanusiaan yang lebih besar. Belum lagi ditambah dengan ancaman perlambatan pertumbuhan ekonomi hingga berpotensi mencapai angka di bawah empat persen, jatuhnya nilai rupiah hingga menembus batas psikologisnya, dan rontoknya bursa saham, menambah tekanan yang sangat berat bagi perekonomian nasional, dan terutama bagi kaum dhuafa. 

Dengan situasi yang dihadapi ini maka peran semua komponen bangsa menjadi sangat penting. Disinilah peran lembaga zakat, baik BAZNAS maupun LAZ, menjadi sangat penting dan strategis dalam membantu tugas negara dalam mengatasi pandemi Covid 19. Ada lima hal yang dapat dilakukan oleh lembaga zakat dalam meminimalisir dampak ekonomi terhadap usaha mikro mustahik.

Hal yang pertama adalah memperkuat edukasi kepada para mustahik pelaku usaha mikro. Edukasi ini mencakup mencakup dua informasi utama yang perlu dipahami dengan baik, yaitu : (i) informasi mengenai Covid 19 yang benar, sehingga mustahik bisa memfilter informasi-informasi hoaks yang berseliweran mengenai Covid 19, dan (ii) informasi mengenai proses produksi yang halal, aman dan sehat, yang bebas dari paparan virus corona. Ini sangat penting agar usaha mikro mustahik dapat beradaptasi cepat dengan situasi yang ada. Dalam situasi tanggap darurat seperti saat ini, sebagaimana ditetapkan BNPB hingga 29 Mei 2020, pengamanan kondisi ekonomi mustahik harus betul-betul diperhatikan oleh BAZNAS dan LAZ. Jangan sampai kondisi yang ada memundurkan usaha yang telah dilakukan lembaga zakat selama ini.

Selanjutnya hal yang kedua adalah bagaimana memperkuat kampanye bahwa produk barang dan jasa mustahik halal dan aman untuk dikonsumsi, setelah sebelumnya para mustahik ini diedukasi mengenai proses produksi yang bebas dari paparan Covid-19. Namun adanya kampanye pentingnya social distancing, sedikit banyak akan memengaruhi volume penjualan produk mustahik. Akan tetapi hal ini, menurut Anggota BAZNAS Nana Mintarti, dapat dimitigasi dengan mengubah pola pemasaran. Selama ini penjualan produk mustahik lebih didominasi oleh offline marketing dibandingkan dengan online marketing. Offline marketing adalah pola pemasaran dimana mayoritas pembeli mendatangi tempat usaha mustahik. Dengan online marketing maka produk mustahiklah yang mendatangi rumah para pembeli. Pengalaman lapangan selama ini, produk mustahik yang didominasi oleh online marketing masih relatif sedikit. 

Untuk itu, selain memanfaatkan aplikasi ojek online, sebagaimana yang terjadi saat ini, lembaga zakat juga dapat memanfaatkan ojek pangkalan (ojek konvensional) sebagai sarana transportasi yang ada. Disinilah pentingnya tenaga-tenaga pendamping lembaga zakat untuk melakukan edukasi yang baik terkait pola hidup sehat dan bersih kepada para ojek pangkalan ini sehingga masyarakat teryakinkan bahwa produk yang sampai pada mereka melalui jasa para ojek pangkalan tersebut betul-betul bebas dari paparan covid 19. 

Hal ketiga yang bisa dilakukan adalah dengan memperkuat ekosistim bisnis mustahik. Caranya adalah dengan memprioritaskan produk mustahik untuk dibeli dan disalurkan oleh lembaga zakat dalam program-program penyaluran mereka. Misalnya, menghadapi Ramadhan dan Idul Fitri 1441 yang semakin dekat ini, maka lembaga zakat harus mengusahakan untuk memenuhi kebutuhan beras fitrah yang berasal dari para petani binaannya. Ini yang dilakukan BAZNAS dengan memanfaatkan hasil panen petani mustahik yang tergabung dalam program lumbung pangan BAZNAS. Pendeknya, semua program penyaluran zakat yang berupa barang, semaksimal mungkin memanfaatkan produk karya para mustahik.

Hal yang keempat adalah mendorong pemasaran produk-produk mustahik yang sesuai dengan kondisi pandemi Covid 19 ini. Hal ini bisa dilakukan pada produk-produk kesehatan tertentu yang diproduksi para mustahik, seperti jamu dan madu. Tugas BAZNAS dan LAZ adalah membantu proses pemasarannya sehingga publik bisa menyerap produk-produk tersebut dengan baik.

Sedangkan hal yang kelima adalah advokasi kebijakan pemerintah. Bagaimanapun peran negara tidak bisa diabaikan. Advokasi ini dilakukan agar keberpihakan negara terhadap usaha bisnis kaum dhuafa bisa ditingkatkan. Harus ada stimulus kebijakan yang dapat dinikmati oleh para mustahik ini. Stimulus tersebut dapat berupa suntikan modal dalam bentuk hibah kepada mustahik, penurunan pajak UMKM hingga nol persen, dan lain-lain. Wallaahu a’lam.                 

*Penulis adalah Pengamat Ekonomi Syariah FEM IPB; Direktur Pendistribusian dan Pendayagunaan BAZNAS RI

Artikel di atas telah dimuat di Republika edisi Kamis 26 Maret 2020