"https://baznas.go.id/25"

Usaha Mustahik Binaan BAZNAS Hindari Riba Demi Madu Manis Keberkahan

  • Diposting oleh : Markom
  • Tanggal : 16/09/2020
  • Kepala Divisi Pendayagunaan BAZNAS, Randi Swandaru bersama para anggota kelompok Tetes Bunga Sejahtera, Gunung Kidul, Yogyakarta


    Sutadi ialah seorang inisiator dari Kelompok binaan BAZNAS yang telah memberikan manfaat terhadap masyarakat mustahik melalui pengembangan budidaya lebah madu di Dusun Wungurejo, Gunung Kidul, Yogyakarta.

    Setelah memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya di Gunung Kidul, sejak bertahun-tahun lamanya, merantau di Ibukota bekerja sebagai tukang perabot keliling, Sutadi memutuskan untuk memulai mengembangkan budidaya lebah madu di desanya.

    Ia belajar tentang budidaya tersebut dari mertuanya yakni Rudi Sunarto, yang kemudian bersama rekannya, Sumanto, mereka memulai budidaya lebah madu, yang pada awalnya hanya untuk konsumsi keluarga.

    Pada tahun 2013 mereka kemudian memantapkan diri untuk menjual hasil produksinya, di tahun tersebut budidaya lebah madu masih dipandang sebelah mata, karena masyarakat menganggap, ternak dan tani lebih menjanjikan untuk mencukupi kehidupan keluarga ketimbang dari budidaya lebah.

    Sutadi, Rudi Sunarto, dan Sumanto kemudian mendirikan kelompok Tetes Bunga Sejahtera (TBS) pada tahun 2017 yang diketuai oleh Sutadi. Ia melihat, semakin hari madu lebah semakin banyak peminatnya, untuk meningkatkan produksi mereka membutuhkan modal.

    Terjadi perdebatan, mereka terbentur permodalan untuk memajukan usahanya, kala itu hanya ada dua jalan, antara pinjaman bank atau rentenir. Namun mereka berkomitmen agar berusaha untuk tidak berurusan dengan riba.

    “Saya tidak setuju. “Kita memang membutuhkan permodalan untuk meningkatkan produksi madu, namun bila permodalan itu berbunga, saya tidak setuju,” kata Sutadi.

    Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) kemudian hadir, membantu para petani budidaya lebah dengan penyaluran modal. Bantuan permodalan itu dimanfaatkan untuk membeli stupa tau kotak lebah dan anakkan lebah. Sehingga, skala produksi madu bisa ditingkatkan.

     

    Lahan budidaya lebah madu ini berada di halaman rumah mereka, dengan jumlah sebanyak 50 stup madu yang diletakkan di dekat pepohonan, lebah dilepas untuk mencari sumber makanan secara bebas. Kini usaha budidaya lebah madu yang awalnya hanya sebagai usaha sampingan, mulai menemukan hasil yang menguntungkan.

     

    Saat ini, di lokasi tersebut, Dusun Wungurejo, Gunung Kidul, Yogyakarta dikembangkan Sentra Lebah Madu, yang memberikan manfaat terhadap sebanyak 44 mustahik. Kini, produksi budidaya lebah madu tidak hanya dijual di daerahnya saja, tapi hingga daerah perkotaan.

     

    Selain itu, Sentra Lebah Madu Gunung Kidul juga memperluas jaringan, bekerja sama pada program BASUMA (Bagi-bagi Susu dan Madu) yang dijalankan oleh BAZIS DKI Jakarta dengan brand Shufrun. Melalui BAZNAS Microfinance (BMFi) juga dipasarkan hasil budidaya ini dengan brand Madu Semesta yang dipasarkan baik secara offline maupun online.

     

    Sutadi juga berencana untuk mengembangkan usahanya dengan memproduksi olahan makanan dari turunan madu seperti, permen madu, dodol madu, sirup madu dan lain sebagainya. Masyarakat atau mustahik sekitar juga akan terdampak karena dapat diberdayakan kemudian memiliki pendapatan tambahan.

BAYAR ZAKAT