Bu Yuli, Mustahik Merdeka BAZNAS

  • Diposting oleh : Admin
  • Tanggal : 19/08/2022
  • Bu Yuli, Mustahik Merdeka BAZNAS


    Sapto Yuli Isminarti, atau yang biasa disapa Yuli, mungkin tak pernah menyangka kenekatannya merantau ke Jakarta akan membuahkan hasil manis. Padahal, Yuli pergi ke ibu kota tanpa memiliki bekal apapun, termasuk uang untuk bertahan hidup. 

    Namun, berkat bantuan dan pembinaan yang diberikan oleh Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS), Yuli yang merupakan penyandang disabilitas berhasil berdaya dan meraih sukses. Dari yang bukan siapa-siapa, kini Yuli berhasil memberdayakan penyandang disabilitas lain, dan memiliki usaha konveksi yang berkembang dengan pesat. 

    Kerja keras, semangat pantang menyerah, dan selalu bersyukur menjadi sandaran Yuli dalam segala usahanya.

    Cerita Yuli bermula saat empat tahun lalu, tepatnya tahun 2018, Yuli bersama lima temannya yang merupakan penyandang disabilitas, nekat merantau ke Jakarta demi mengubah nasib. 

    "Saya sendiri juga tidak menyangka empat tahun yang lalu saya berangkat dari Jawa Timur, saya bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa, enggak punya apa-apa sama sekali," cerita Yuli.

    "Saya miskin secara harta, miskin secara fisik, saya sadar miskin secara ilmu karena pendidikan saya pas-pasan, tapi alhamdulillah saya hanya kaya rasa syukur. Jadi saya mensyukuri semua kekurangan saya, saya pergi ke Jakarta, saya ingin berjuang mempunyai kemampuan, saya ingin menunjukkan. Tetapi perjuangan itu panjang dan empat tahun yang lalu rasanya sulit. Saya beli air minum satu gelas aja enggak bisa. Saya bawa lima penyandang disabilitas, yang akhirnya terdampar dan saya tiba-tiba teringat BAZNAS," ujarnya.

    Awalnya Yuli selalu dibantu BAZNAS untuk mencukupi kebutuhan diri dan rekan-rekannya tiap hari. Namun belakangan, Yuli sadar bahwa dia tidak bisa terus meminta bantuan harian. Jika diibaratkan, Yuli tak ingin terus meminta ikan, namun membutuhkan alat pancing untuk memenuhi kebutuhan dan berkembang di kemudian hari.

    "Mulai tahun 2019, saya berpikir tak bisa begini terus. Akhirnya saya terdampar di Bekasi, dan tak tahu mau ngapain," ucap Yuli.

    Yuli yang sadar tak bisa terus berpangku pada bantuan harian, mulai memberanikan diri untuk memulai kehidupan baru, dengan mencoba membuka usaha. 

    "Saya hanya bismillahirrohmanirrohim, intinya Allah akan mengubah nasib suatu kaum, jika kaum itu mau berubah. Saya yakin saya bisa berubah," kata Yuli mengenang masa lalunya.

    Yuli pun kembali ke BAZNAS dan ingin dibina. Setelah melalui proses yang ketat, Yuli dan rekan-rekan akhirnya diberi bantuan 12 mesin jahit, yang hingga sekarang masih berguna dan sangat bermanfaat. "Bantuan yang diterima pada 2019 lalu sebagian besar dimanfaatkan untuk pembelian perlengkapan usaha berupa mesin obras, overdeck, dan mesin jahit," ucapnya. 

    Dua tahun berselang, karena pesatnya pertumbuhan usahanya, Yuli kembali mendapatkan bantuan sebanyak 10 mesin jahit. Pesatnya pertumbuhan usaha Yuli dilatari kepuasan pelanggan yang berimbas pada meningkatnya permintaan pasar. Bahkan, Yuli dan kelompoknya juga mendapat pesanan baju koko dari luar negeri. Selain usaha baju koko, kelompok Yuli memproduksi berbagai jenis produk konveksi seperti pakaian jadi atau mentah, kerudung, masker, kaos, tas dan lain-lain.

    "Sekarang, alhamdulillah karena keyakinan saya, karena perjuangan saya, mesin saya ada 75 mesin jahit," katanya.

    Pandemi Covid-19 yang terjadi tak membuat usaha Yuli gulung tikar. Di saat berbagai sektor terpuruk, Yuli justru berinovasi dengan menjahit masker dan mendistribusikannya ke banyak perusahaan maupun instansi. 

    "Di saat pandemi, saya justru merdeka. Karena saya terus berinovasi, termasuk membuat masker ke banyak perusahaan," katanya. 

    Pada awal membuka usaha konveksi, Yuli membukanya di wilayah Babelan, Bekasi. Namun belakangan dia berpindah tempat karena daerah itu sudah banyak orang berkecukupan dan sejahtera. Dia lalu merasa tidak bermanfaat lagi, lantaran tidak ada yang bisa dia bantu. 

    "Akhirnya setahun yang lalu saya pindah ke kampung nelayan yang kumuh dan miskin, di Muara Beting, Kecamatan Muara Gembong, Kabupaten Bekasi. Di situlah saya membuka kembali, memotivasi bahwa kemerdekaan yang sudah saya rasakan dari saya  mustahik  menjadi muzaki. Saya terjun bebas ke nol lagi, untuk membantu sesama agar termotivasi. Saya semangati mereka," kata Yuli.

    Kehadiran Yuli di Muara Gembong membuahkan hasil. Kini Yuli bisa banyak menebar manfaat kepada orang sekelilingnya, dengan membuka lapangan pekerjaan, khususnya lapangan pekerjaan bagi penyandang disabilitas lain. Yuli membuktikan jika keterbatasan tak menghalangi seseorang untuk melangkah maju dan berkembang. Tekad yang kuat dan kerja kerasnya kini membuahkan hasil. Tak hanya omzetnya yang meningkat, namun juga bisa berguna bagi masyarakat sekitar. 

    "Alhamdulillah satu tahun di Kampung Beting, sekarang ini kampung ini menjadi contoh nyata kampung inklusi ramah disabilitas," pungkas Yuli penuh bangga. 

    Yuli adalah satu dari sejumlah contoh mustahik binaan BAZNAS yang berhasil bertransformasi menjadi muzaki berkat tekad yang kuat dan komitmen penuh untuk berubah.

BAYAR ZAKAT