Tantangan Baru ZChicken Pak Tulen dan Alpa, Saat Es Teh Menjadi Penyelamat Omzet
Saat Ayam Tak Lagi Seramai Dulu, Segelas Es Teh Menjaga Harapan Tetap Menyala
19/06/2026 | Humas BAZNAS RISore itu, aktivitas di Outlet ZChicken milik Pak Tulen (38) dan Alpa (24) di Jalan HR. Soebrantas, Kelurahan Teluk Binjai, Kecamatan Dumai Timur, Kota Dumai, berjalan seperti biasa. Pelanggan datang silih berganti, pesanan disiapkan dengan teliti, dan senyum tetap tersungging di wajah keduanya. Namun di balik rutinitas yang tampak sederhana itu, tersimpan cerita tentang perjuangan, ketahanan, dan harapan yang terus mereka rawat setiap hari.
Ada masa ketika akhir pekan menjadi hari yang paling dinanti. Aroma ayam goreng yang menggoda seolah menjadi magnet bagi pelanggan. Dalam sehari, 50 potong ayam bisa habis terjual tanpa tersisa. Kesibukan menjadi pemandangan yang akrab, sementara rasa syukur mengalir dari setiap transaksi yang terjadi.
Namun waktu terus berjalan. Kondisi pasar berubah, kebiasaan konsumen bergeser, dan tantangan baru perlahan datang menghampiri. Kini, untuk menjual 40 potong ayam dalam sehari saja tidak lagi semudah dulu. Pada hari-hari biasa, penjualan berkisar antara 15 hingga 30 potong. Angka yang mungkin terlihat sederhana, tetapi bagi pelaku usaha kecil, setiap potong yang terjual adalah bagian dari harapan yang diperjuangkan.
Meski demikian, Pak Tulen dan Alpa memilih untuk tidak larut dalam keluhan. Mereka memahami bahwa setiap usaha memiliki musimnya sendiri. Ketika satu pintu rezeki tidak lagi terbuka selebar dahulu, mereka mencari celah lain untuk tetap melangkah.
Di tengah situasi itu, hadir sosok yang tak pernah mereka duga akan menjadi penyelamat usaha: segelas Es Teh Solo.
Minuman sederhana tersebut perlahan mendapat tempat di hati pelanggan. Dipesan sebagai pelengkap makanan, lalu kembali dicari karena kesegarannya. Dari hari ke hari, Es Teh Solo bukan hanya menjadi produk tambahan, melainkan penopang yang menjaga usaha tetap berdiri ketika penjualan ayam sedang tidak bersahabat.
Berkat penjualan minuman tersebut, omzet harian outlet tetap mampu bertahan di kisaran Rp300 ribu hingga Rp400 ribu. Angka yang mungkin tidak langsung menghapus tantangan, tetapi cukup untuk menjaga roda usaha terus berputar dan mimpi tetap hidup.
“Dulu weekend itu emas, 50 potong pasti habis. Sekarang 40 potong saja susah. Tapi alhamdulillah ada Es Teh Solo, jadi omzet tetap aman Rp300-400 ribu per hari,” tutur Alpa dengan senyum yang menyiratkan rasa syukur sekaligus keteguhan.
Setiap hari, sejak pukul 09.00 WIB hingga tengah malam, outlet itu tetap membuka pintunya. Bukan sekadar untuk berjualan, tetapi juga sebagai wujud keyakinan bahwa kesempatan selalu ada bagi mereka yang mau bertahan. Di balik etalase sederhana itu, ada mimpi yang terus diperjuangkan, ada keluarga yang ingin dibahagiakan, dan ada harapan yang tidak pernah padam.
Kisah Pak Tulen dan Alpa mengajarkan bahwa dalam perjalanan usaha, tidak semua hari akan dipenuhi keramaian. Ada masa ketika penjualan menurun dan keadaan tidak sesuai harapan. Namun sering kali, pertolongan datang dari arah yang tak disangka-sangka. Seperti segelas es teh yang sederhana, yang perlahan mengambil peran besar dalam menjaga asa tetap menyala.
Karena pada akhirnya, kekuatan seorang pelaku usaha bukan terletak pada seberapa besar tantangan yang dihadapi, melainkan pada kemampuannya untuk terus bertahan, beradaptasi, dan percaya bahwa setiap usaha yang dijalani dengan sungguh-sungguh akan selalu menemukan jalannya. Di outlet kecil itu, harapan masih tersaji setiap hari—bersama aroma ayam goreng dan segelas Es Teh Solo yang kini menjadi simbol keteguhan mereka menghadapi perubahan zaman.
Dapatkan Update Berita dan Informasi Penyaluran Zakat, Infak, dan Sedekah.
Follow us