Dari Lapak Sarapan 13K, Harapan Baru Tumbuh di Depan Pasar Induk Bulungan
Dari Lapak Sarapan 13K, Harapan Baru Tumbuh di Depan Pasar Induk Bulungan
22/09/2026 | Humas BAZNAS RIPagi di Jalan Sengkawit, tepat di depan Pasar Induk Kabupaten Bulungan, kini terasa sedikit berbeda. Di tengah aktivitas warga yang mulai memenuhi kawasan pasar, aroma makanan sarapan menguar dari sebuah lapak sederhana.
Namanya Lapak Sarapan 13K.
Di balik harga yang ramah di kantong itu, tersimpan cerita tentang para pelaku usaha kecil yang sedang berjuang mempertahankan penghasilan sekaligus menata kembali harapan ekonominya.
Lapak tersebut dibuka oleh Baznas Microfinance Desa (BMD) sebagai ruang bersama bagi para UMKM mitra binaan untuk memasarkan produk mereka. Bukan sekadar tempat berjualan, lapak ini menjadi jembatan yang mempertemukan produk para mustahik dengan konsumen di lokasi yang strategis.
Bagi Wiwik, kehadiran lapak itu datang pada waktu yang tepat.
Sebelumnya, penjualan nasi yang ia jalankan sempat mengalami penurunan. Kondisi pasar yang tidak menentu membuat pemasukan usahanya ikut terdampak. Namun, setelah bergabung di Lapak Sarapan 13K, ia kembali mendapatkan ruang untuk bertemu dengan pelanggan.
“Alhamdulillah, saya merasa sangat terbantu dengan adanya lapak sarapan 13K ini. Karena jujur, akhir-akhir ini penjualan saya sangat menurun. Tapi semenjak ada lapak ini, alhamdulillah penjualan nasi saya mulai stabil kembali,” ungkap Wiwik kepada Manager BMD Kalimantan Utara.
Bagi pelaku usaha kecil seperti Wiwik, tempat berjualan bukan perkara sepele. Lokasi yang tepat dapat menentukan apakah dagangan dilihat orang atau justru terlewat begitu saja.
Hal serupa dirasakan Sinar.
Sebelum adanya Lapak Sarapan 13K, ia lebih banyak mengandalkan penjualan secara daring. Keterbatasan modal membuatnya belum mampu menyewa tempat untuk berjualan secara langsung.
Kini, situasinya berubah.
Lapak yang disediakan BMD memberinya kesempatan untuk memajang dan menawarkan produknya secara langsung kepada masyarakat. Tanpa harus terbebani biaya sewa tempat usaha, ia bisa memanfaatkan lokasi strategis di depan pasar untuk memperluas jangkauan pembeli.
Hasilnya bahkan di luar perkiraannya.
“Saya dulu cuma jualan online karena tidak punya tempat buat jualan. Tapi karena ada lapak sarapan ini, saya bisa memajang jualan saya di sini,” tuturnya.
Ia pun mengaku terkejut melihat perkembangan pendapatan lapaknya.
“Saya juga kaget, penghasilan lapak kita sekarang bisa sampai Rp3.954.000, yang dulu awal buka cuma Rp940.000. Semoga lapak ini bisa terus berkembang,” katanya penuh syukur.
Bagi Sinar, kenaikan tersebut bukan sekadar pertambahan angka dalam catatan penjualan. Ada rasa percaya diri yang ikut tumbuh. Dari yang sebelumnya hanya bisa berjualan secara online karena tidak memiliki tempat, kini ia memiliki ruang untuk berinteraksi langsung dengan konsumen dan mengembangkan usahanya.
Di situlah makna Lapak Sarapan 13K menjadi lebih luas.
Program ini tidak hanya menghadirkan makanan dengan harga terjangkau bagi masyarakat. Lebih dari itu, lapak menjadi ruang pemberdayaan bagi pelaku UMKM binaan BMD untuk memperluas pasar dan meningkatkan pendapatan.
BMD menempatkan fasilitas pemasaran sebagai bagian dari proses pendampingan ekonomi. Sebab, bantuan modal akan lebih berarti ketika pelaku usaha juga memiliki akses untuk memasarkan produk dan mempertemukannya dengan konsumen.
Dari sebuah lapak sederhana di depan Pasar Induk Bulungan, para mustahik mendapatkan kesempatan untuk melangkah lebih jauh.
Ada Wiwik yang perlahan kembali menemukan kestabilan penjualannya. Ada pula Sinar yang mulai melihat kemungkinan baru setelah memperoleh tempat untuk memasarkan dagangannya.
Cerita mereka menjadi gambaran bahwa pemberdayaan ekonomi sering kali dimulai dari kesempatan yang sederhana: sebuah tempat untuk berjualan, akses kepada pelanggan, dan pendampingan yang terus berjalan.
Lapak Sarapan 13K pun diharapkan tidak berhenti sebagai sebuah program, tetapi terus tumbuh menjadi ruang yang melahirkan lebih banyak pelaku usaha mandiri.
Sebab pada akhirnya, tujuan pemberdayaan bukan sekadar membuat dagangan laku hari ini.
Lebih jauh, ada harapan agar para mustahik dapat perlahan meningkatkan taraf hidup, membangun kemandirian ekonomi, dan suatu hari nanti bertransformasi dari mustahik—penerima zakat—menjadi muzaki, orang yang mampu menunaikan zakat.
Dari sebuah lapak kecil di Jalan Sengkawit, perjalanan menuju kemandirian itu sedang dimulai.
Dapatkan Update Berita dan Informasi Penyaluran Zakat, Infak, dan Sedekah.
Follow us