Untaian Cita Siswa Cendekia: Aku dan Matematika, Jalan Menuju Profesor

  • Diposting oleh : Sekolah Cendekia
  • Tanggal : 14/06/2022
  • Untaian Cita Siswa Cendekia: Aku dan Matematika, Jalan Menuju Profesor


    “Saya cinta matematika, dan saya ingin berbagi kesenangan bermain dengan angka tersebut kepada orang lain.”

    Qian Santang Sayyafullah, kecintaan akan matematika sudah mendarah daging sejak ia menginjak bangku Taman Kanak-kanak. Ia sangat menyukai bermain dengan angka, berbekal kemampuan dan kecintaannya akan matematika, mendorong Qian bertekad untuk menjadi seorang guru besar/profesor di masa yang akan datang.

    Qian-sapaan akrabnya, dibesarkan dari keluarga sederhana. Ayahnya bekerja sebagai guru mengaji dan petani di Serang, Banten sedangkan Ibu sehari-hari menjadi ibu rumah tangga yang sekaligus sesekali berjualan online. Dibalik keterbatasan ekonomi, Qian mencoba merajut mimpi di Sekolah Cendekia BAZNAS, sebuah sekolah bebas biaya yang dikelola melalui dana zakat untuk siswa dhuafa di seluruh Indonesia.

    Qian giat berlatih untuk mewujudkan mimpinya, setiap hari ia belajar matematika untuk mengejar keterampilan siswa lain dalam bidang eksakta tersebut.

    “Saat ini saya sudah mendapatkan 2 medali olimpiade nasional matematika. Namun itu semua belum cukup, saya harus memacu diri lebih, karena di luar sana masih banyak saingan dalam bidang itu," ungkapnya.

    Olimpiade matematika menjadi ranah evaluasi kemampuan bagi Qian, meskipun ia mengakui bahwa terdapat perbedaan yang besar antara tipe soal dalam olimpiade dan pelajaran dalam kelas. Menyeimbangkan fokus dengan mengikuti klub bidang studi matematika menjadi kunci Qian untuk ahli dalam matematika khususnya tipe soal olimpiade.

    “Klub Bidang Studi (KBS) Matematika sangat membantu saya untuk fokus dalam jenis soal olimpiade, saya ingin terus belajar dan belajar memaksimalkan diri. Muaranya tentu menjadi bermanfaat untuk orang lain dalam bidang matematika, salah satunya adalah menjadi profesor. Saya ingin menularkan kecintaan ini kepada orang lain bahwa matematika mudah serta menyenangkan,” jelasnya.

    Mimpi besar Qian ia rakit sedikit demi sedikit dari sekarang, belajar setiap hari menjadi menu wajib bagi dirinya. Membagi waktu dengan padatnya kegiatan di Sekolah mengharuskan ia mampu memaksimalkan setiap momentum.

    “Selain belajar di kelas dan KBS, untuk terus mendalami pelajaran saya mengatur jadwal ketat untuk belajar, setiap malam berkeliling kamar kakak kelas guna belajar bersama mereka. Senin matematika, Selasa Fisika, Rabu Kimia, Kamis Biologi, Jumat Bahasa Arab. Berat memang dirasa, namun semua menjadi jalan saya meraih cita,” jelasnya.

    Selain belajar akademik, di Sekolah Cendekia BAZNAS ia juga berusaha menyeimbangkan diri dengan kurikulum asrama. Saat ini ia telah hafal 16 Juz Al-Quran dan 60 hadis pilihan. Ia sadar jika kecintaan akan eksak bukan penghalang baginya menyediakan waktu untuk menghafal Al-Quran dan belajar agama.

    “Ayah selalu berpesan akan percuma jika pintar segala macam pelajaran namun nihil dalam keagamaan. Itu yang selalu saya pegang.”

    Qian Santang Sayyafullah memiliki mimpi besar yang harus ia capai, bermalas malas tak pernah dekat dengan dirinya. Produktif dalam setiap waktu menjadi jalan satu-satunya.

>
BAYAR ZAKAT