Supervisi Program ZCD Basis Ternak dan Olahan Sapi di Desa Cendana, Sulawesi Selatan

  • Diposting oleh : Community Development
  • Tanggal : 08/02/2022
  • Supervisi Program ZCD Basis Ternak dan Olahan Sapi di Desa Cendana, Sulawesi Selatan


    Lembaga Zakat Community Development (ZCD) BAZNAS ikut berperan dalam pengembangan usaha masyarakat berbasis ternak dan olahan sapi di Desa Cendana, Kecamatan Cendana, Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan.

    Dalam hal ini, ZCD BAZNAS melakukan konsep pemberdayaan dan usaha kelompok para mustahik di berikan bantuan 20 sapi dan penguatan hasil olahan susu. Penguatan aspek ekonomi, ZCD membentuk 2 kelompok, yaitu Kelompok Cendana Sejahtera dan Kelompok Nurul Hidayah. Kelompok Cendana Sejahtera merupakan kelompok peternak sapi yang beranggotakan 8 orang peternak. Populasi ternak sapi perah yang ada sebanyak 30 ekor dan ada penambahan populasi sebanyak tujuh ekor selama dua tahun terakhir dengan hasil susu rata-rata perbulanya 1500 liter.

    Semantara Kelompok Nurul Hidayah yang berangotakan 18 orang fokus melalukan olahan hasil susu sapi dengan pembuatan produk dangke dan beberapa produk turunan lainnya seperti kerupuk susu, kue kacang, sukro, cistik, dodol susu, kefir, susu fermentasi dll. Pendapatan hasil penjualan yamg saat ini berjualan di galery bantuan ZCD mendapatkan omset 600 ribu perhari dengan keuntungan dari 20 bungkus dengan modal bahan 76 ribu kelompok mendapatkan keuntungan 134 ribu dari hasil penjualan 10 ribu per bungkusnya. Demikian juga dengan usaha dangke dari 10 liter susu sapi dapat menghasilkan 7 buah dangke dengan harga 25rb / dangke sehingga setiap produksi per 10 liter dangke mustahik mendapatkan keuntungan bersih sekitar 55 ribu kapasitas produksi dangke 1 hari bisa mencapai 50 hingga 100 liter perhari.

    Kabupaten Enrekang yang berada di daerah ketinggian dengan suhu udara yang relatif lebih sejuk mempunyai potensi yang cukup besar untuk pengembangan sapi perah. Ada dua faktor penujang pengembangan sapi perah, yaitu pertama keadaan wilayah yang sejuk dengan rata-rata temperatur 25,7 °C sampai 27,2 °C dan bahkan temperatur minimun sekitar 21° C sampai 23,4 °C (Dinas Peternakan dan Perikanan Kab. Enrekang, 2017). Faktor kedua adanya kebutuhan pasar produk dangke semacam keju lunak yang merupakan makanan khas tradisional masyarakat Kabupaten Enrekang.

    Produk dangke merupakan produk agribisnis peternakan sapi perah yang sangat menjanjikan cepat terjual terutama karena masih masih kurang dibanding
    kebutuhan.

    Dangke berasal dari susu sapi rasa gurih seperti keju. Produksi dangke di kabupaten Enrekang saat ini baru mencapai 3000 buah atau baru mencukupi 25% dari total kebutuhan masyarakat Enrekang. Permintaan dangke di Kabupaten Enrekang juga terus meningkat setiap tahun, dengan populasi induk yang laktasi saat ini 604 ekor produksi susu baru mencapai 4824 liter perhari atau sama dengan 3216 buah dangke.

    Hal yang menarik bahwa minat masyarakat Enrekang memelihara sapi perah cukup tinggi dan telah menyebar diseluruh kecamatan yang ada di Kabupaten Enrekang. Namun banyak tantangan yang dihadapi oleh peternak di daerah yang baru dikembangkan termasuk faktor suhu udara dan kelembaban, sumberdaya manusia, sumberdaya biologis (unsur-unsur yang diperlukan dalam proses produksi susu) serta sumberdaya ekonomi.

     

    Tantangan tersebut tidak menghalangi BAZNAS untuk terus menguatkan peberayaan ekonomi agar terciptanya masyarakat yang berdaya dan sejahtera. 

     

    #BAZNASRI
    #InovasiBerkaryaUntukUmat
    #LembagaUtamaMenyejahterakanUmmat
    #GerakanCintaZakat
    #ZakatCommunityDevelopment

>
BAYAR ZAKAT