Da’i BAZNAS Syiarkan Islam Dalam Keterbatasan

  • Diposting oleh : Muallaf Center
  • Tanggal : 29/03/2022
  • Da’i BAZNAS Syiarkan Islam Dalam Keterbatasan


    Dalam rangka memberikan wawasan tentang peran BAZNAS dalam optimalisasi zakat pada pembinaan mualaf di pelosok Tim Dakwah BAZNAS menyelenggarakan Webinar bertajuk “Lentera Dakwah di Penjuru Negeri”. Kegiatan ini diselenggarkanmelalui Webinar yang akan diadakan setiap Jumat sore pada bulan Maret dengan narasumber Da’i BAZNAS yang ditempatkan di 4 titik lokasi.

    Sesi ketiga webinar Lentera Dakwah di Penjuru Negeri ini diselengggarakan pada Sabtu (26/3), mengangkat tema “Syiar Islam Dalam Keterbatasan” dengan narasumber Ustadz Abdullatif Amrizal sebagai Da’i BAZNAS titik Tuva Kab. Sigi Sulawesi Tengah dan Ustadz Muhammad Kasja sebagai Da’i Pedalaman Suku Badui. Kegiatan ini diselenggarakan secara virtual dan disiarkan langsung di BAZNAS TV.

    Pada sambutannya Kepala Divisi Pendidikan dan Dakwah BAZNAS Farid Septian memberikan apresiasi kepada para Da’i yang telah memilih jalan sunyi dalam berdakwah.

    “Ini adalah jalan-jalan sunyi yang tidak semua orang bisa menapaki, penting bagi kita untuk bisa menggali mendengarkan kisah inspiratif ini agar menguatkan kembali iman kita dan meneguhkan kembali jalan dakwah kita. Alhamdulillah kami sangat mengapresiasi dan berterimakasih mewakili BAZNAS atas upaya kontribusi, keistiqomahan para Da’i dalam mebina umat di tengah keterbatasan," ungkapnya. “In syaa Allah mohon doa BAZNAS bisa selalu mensuport kegiatan dakwah, mudah-mudahan menguatkan kembali dan menambah titik luas kontribusi dakwah para Da’i," tambahnya.

    Selanjutnya Farid Septian juga menyampaikan motivasi kepada para Da’i dengan mengutip salah satu Ayat dalam Al-Qur’an yaitu Surat Fushilat ayat 33.

    “Saya memberi motivasi kepada kita semua seperti salah satu ayat dalam Al-Quran “Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah dan mengerjakan kebajikan dan berkata, “Sungguh, aku termasuk orang-orang muslim (yang berserah diri)?” (Q.S. Fushilat:33). In syaa Allah kegiatan ini bisa menjadi salah satu kisah inspiratif yang dapat menggugah kita semua," ujarnya.

    Pada sesi sharing bersama para narasumber Ustadz Abdullatif bercerita tentang bagaimana cara berinteraksi dan mendekatkan diri dengan para binaannya dan tantangan dakwah yang dialami.

    “Keseharian masyarakat Tuva adalah menjadi buruh kuli pikul kayu dari hutan, sehingga banyak binaan di Tuva yang menjadi kuli pikul kayu, untuk mendekatkan diri kepada para binaan, saya juga sering ikut membantu memikul kayu. Kayu yang sudah digergaji dibawa keluar hutan sejauh 2 Km dengan medan berat, Alhamdulillah dengan kita membantu mereka kita bisa semakin dekat dengan binaan," ujarnya. “Adapun tantangan terberat dalam membina di Tuva adalah medan dan jarak antara Palu dan Tuva yang berat, kebetulan saya tinggal di Palu sehingga jika ada jadwal pembinaan saya harus bermalam di rumah Relawan di Tuva," tambahnya.

    Selanjutnya Ustadz Abdullatif menceritakan bagaimana kehidupan toleransi di Tuva di mana mualaf Tuva hidup berdampingan dengan warga non-muslim.

    “Memang di Tuva ini kita berdampingan denga warga non-muslim tapi hubungan kita dengan mereka ini sangat baik, gotong royong, saling menghargai, biasa disini kalau waktu sholat bunyi juga lonceng gereja dan itu tidak ada masalah, bahkan diisini ada binaan saya yang anaknya masih non-muslim dan itu baik-baik saja dan tidak ada masalah, jadi Alhamdulillah toleransi kehidupan antar beragama disini terjalin dengan baik," ungkkap ustadz Abdullatif.

    Disisi lain Ustadz Muhammad Kasja selaku Da’i pembina mualaf menyampaikan perkembangan pembinaan di Badui.

    “Perkembangan dakwah di Badui di mana pada awalnya banyak tantangan yang dihadapi di lapangan, alhamdulillah sekarang berjalan dengan baik, dengan bahasa yang baik, bahasa yang lembut, dengan menunjukan akhlaqul karimah sekarang banyak kebahagiaan yang kita terima. Selain itu untuk perkembangan dakwah mualaf juga kami membangun mushola, sampai saat ini sudah 30 mushola yang kami bantu, jadi Alhamdulillah penerimaan dari masyarakt baik," ujarnya.

    Kemudian Ustad Muhammad Kasja menjelaskan bagaimana beliau mebina mualaf agar terhindar dari adat budaya yang tidak sesuai dengan ajaran Islam.

    “Wilayah Badui kental dengan yang namanya adat dan budaya, untuk menghindarkan para mualaf dari hal-hal yang tidak sesuai dengan ajaran Islam, kalau langsung melarang atau meminta menghilangkan kebiasaan tersebut itu kita tidak bisa, bisa-bisa kita diusir walaupun kita oarng Badui asli. Jadi strategi dakwahnya adalah dengan pelayanan yang baik dan mencontohkan perilaku yang baik. Contoh sederhananya adalah ketika ada orang yang minta doa atau kesembuhan kita memberinya obat dan sebelum minum obat tersebut disarankan membaca bismillah. Sedikit demi sedikit kita jelaskan, paling tidak apa yang kita sampaikan mengurangi kebiasaan yang tidak sesuai tersebut," jelas ustadz Muhammad Kasja.

    Tayangan lengkap Lentera Dakwah di Penjuru Negeri dengan tema “Syiar Islam alam Ketrbatasan” bisa disaksikan di chanel Youtube BAZNAS TV melalui link:
    www.youtube.com/watch?v=JN6EepBJJ0U

>
BAYAR ZAKAT